Tuesday, January 12, 2010

Sepenggal Cerita dari Lingga, Bunda Tanah Melayu (Bagian I)

Suasana pelabuhan Dabo Singkep tahun 2009
Tak pernah saya bayangkan sebelumnya kaki ini akan menginjak di tanah kepulauan Riau.

Namun Allah Maha Berkuasa dan Maha Menentukan. Pertengahan tahun 2006, sebuah SK dari Jakarta menghantar saya ke kabupaten paling selatan dari gugusan provinsi ini, Dabo Singkep!

Singkat cerita, tepat bulan Ramadhan 1427 H, (September 2006), kapal Ferry Super Jet 18 yang mengangkut penumpang dari Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjung Pinang –termasuk saya dan ayah saya- menurunkan penumpangnya di pelabuhan Jagoh, sebuah pelabuhan kecil di pulau Singkep.

Perjalanan dari Tanjung Pinang ke Pulau Singkep yang memakan waktu 3 setengah jam membuat badan lumayan letih. Air Conditioner kapal yang terlalu dingin juga menyebabkan masuk angin. Namun semua itu segera hilang ketika pesona Pulau Singkep menyapa. Hamparan laut yang amat jernih di selat Penuba seakan memberi salam selamat datang. Gunung Daik yang terlihat puncaknya seakan melambaikan tangan menyampaikan tabik salam. Sungguh indah dan eksotik! Alam di sini masih banyak yang belum dirusak oleh tangan jahil manusia.

Selanjutnya, dengan menumpang Mobil Kijang dari Jagoh, kami berangkat ke kota Dabo. Tidak ada angkutan umum seperti angkot dan Bus AKDP di sini. Yang ada hanya mobil-mobil pribadi yang dijadikan angkutan oleh pemiliknya. Perjalanan ini melewati beberapa kampung di pesisir pulau, seperti Kote, Neraca, Lanjut danBerindat. Saya mulai membayangkan bahwa beberapa tahun mendatang, saya harus mengadaptasikan diri untuk tinggal di tepi pantai. Saya jadi teringat, kalau dulu saya harus mengeluarkan uang untuk dapat melihat pantai dan laut, yang mana favoritnya adalah Pantai Muaro, Pantai Karolin di Padang, maka sekarang saya benar-benar akan tinggal di tepi laut dan menjadi anak pesisir!

Sesampai di kota Dabo, waktu maghrib dan berbuka puasa hampir tiba. Saya dan ayah langsung menuju kediaman seorang famili yang sudah menetap lama di pulau itu. Ternyata pulau ini bukanlah tempat yang asing bagi orang kampungku. Banyak sekali orang Pulau Gadang yang sudah menetap sejak lama dan beranak berketurunan di sini. Ada Pak Onga Mansur dan keluarganya yang memiliki dusun durian yang luas. Ada Pak Atap yang ayahnya Allahyarham Datuk Alwi beserta keluarga besarnya dulu kebanyakan bekerja di kantor Pos atau PT. Telkom. Ada Aciok Iyut dan lain-lain. Belum lagi keluarga besar orang-orang Kampar yang tergabung dalam HWKK (Himpunan Warga Kabupaten Kampar) yang rata-rata menjadi pedagang kain di pasar. Hampir seluruh toko kain dan apotik dimiliki orang Kampar. Saya mendapat cerita, bahwa tahun 1970-an, Dabo merupakan tujuan merantau orang-orang dari kampung saya.

Meski penduduk pulau ini tak sampai 50.000 jiwa, namun akulturasi budaya dan etnis amat terasa di sini. Berbagai macam suku dan etnis ada di sini. Ada orang-orang Kampar yang mayoritas menjadi pedagang di pasar selain ada juga yang bekerja sebagai aparat kepolisian, ada orang Jawa yang banyak tinggi di Bukit Kapitan, ada orang Minang, ada orang Bugis yang jadi saudagar kapal dan pelaut, orang-orang Buton yang nama mereka berawalan La Taka dll yang tinggal pesisir Pantai, orang Banjar yang tinggal di kampung dan dusun Air Merah, bahkan orang Bawean yang oleh masyarakat di sini disebut “orang Boyan”. Nenek moyang mereka bermigrasi ke pulau ini sejak lama dan membaur bersama komunitas Melayu yang merupakan penduduk asli. Mereka merasa betah tinggal di pulau nyaman ini dan enggan untuk pindah lagi. Meski demikian, mereka tetap mewarisi adat kebiasaan serta seni budaya nenek moyang leluhur mereka, tapi berbicara dengan bahasa Melayu. Hampir setiap tahun misalnya, kesenian Reog dan campur sari dipertunjukkan di sini oleh komunitas etnis Jawa.

Karena itu, ketika mendengar berita-berita di media yang menuduh Malaysia “mencuri” kebudayaan Indonesia, saya merasa ada yang janggal dan 'keliru' dalam pemberitaan tersebut. Sebab, kita tak bisa melarang orang mempertahankan budaya nenek moyang mereka, walaupun mereka sudah tak lagi tinggal di kampung halaman mereka tempat asal seni budaya tersebut. Kita juga tak mungkin bisa melarang nenek moyang kita dulu merantau dan bermigrasi antar pulau di Nusantara sebelum terbentuk negara-negara pasca kolonialisme yang sekarang bernama Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei dan lain-lain. Mereka bermigrasi membawa budaya, resep makanan aneka cita rasa, kesenian dan lain-lain. Di Kampar saja misalnya, kampung halaman saya, setiap kali Festival Budaya Kampar diadakan saban tahun, penampilan Reog selalu ada. Pertunjukan wayang kulit sering dilakukan. Yang melaksanakan tentu etnis pemilik kesenian tersebut. Lantas, apakah kita juga harus menuduh Kampar mencuri seni budaya tertentu? Tentu tidak. Saya sangat sedih dan malu melihat ribut-ribut di negara kita tentang masalah Malaysia ini. Banyak yang termakan propaganda media yang didalangi politikus yang menjual isyu ini untuk menjatuhkan wibawa pemerintah, supaya muncul konklusi bahwa pemerintah tak becus karena tak mampu melindungi kebudayaan kita! Isyu-isyu lama pun dipermak dan dijual kembali, termasuk 'ganyang Malaysia' yang dulu merupakan jualan kaum komunis!

Saya yakin kondisi di Malaysia tak jauh berbeda dengan negeri-negeri Melayu lainnya. Tahun 2005, saya pernah tinggal di Malaysia beberapa minggu. Negeri jiran ini sejak dulu menjadi daerah tujuan migrasi bermacam-macam etnik. Jutaan warga Malaysia sekarang merupakan keturunan orang Indonesia juga. Di sana ada kampung Bugis, Kampung Jawa, Kampung Banjar, Kampung Boyan, dan lain-lain. Belum lagi jutaan rakyat kita yang menumpang mencari makan di sana, yang mana ribuan dari mereka memohon menjadi warga negara Malaysia setiap tahun. Intinya, di negeri dan rantau Melayu, meski nenek moyang mereka terdiri dari berbagai etnis, tapi keturunan mereka menamakan diri sebagai “orang Melayu”. semoga kita arif menyikapi hal ini dan tidak menggelorakan permusuhan dengan sesama tetangga, serumpun bahkan seaqidah.

Kembali ke cerita awal. Kesan pertama yang saya dapat di pulau ini sudah membuat saya yakin bahwa saya akan betah tinggal di sini. Tentang keramahan orang Melayu sini jangan ditanya. Kalau dibandingkan dengan beberapa tempat yang pernah saya tinggali, termasuk Jogjakarta yang terkenal dengan keramahannya, tapi rasanya belum dapat mengalahkan keramah-tamahan penduduk di kepulauan Lingga ini.

Oh Malaria!
Kalaulah tidak karena malaria dan jauhnya perjalanan dari kampung ke sini, tak ingin rasanya meninggalkan Pulau ini: Pulau yang begitu indah dengan segala keramahan di dalamnya!

Orang di sini punya anekdot, kalau belum kena demam malaria, itu berarti belum ke Dabo. Malaria ibarat hadiah selamat datang. Dan Alhamdulillah ‘ala kulli hal, saya pun terkena malaria setelah setahun tinggal di sini. 3 hari lamanya saya terbaring di puskesmas Dabo dengan infus cairan Kina, berjuang menaklukkan malaria Tertiana. Orang kampungku di menyebutnya “Domom Kugho”.

Kata orang-orang, virus dari nyamuk betina yang belum ditemukan vaksinnya ini akan saya bawa ke mana pun seumur hidup, sebab ia memiliki induk yang akan terus hidup di dalam liver manusia! Kelak, ketika kondisi tubuh sedang down dan tidak fit, virusnya akan kembali berkembang dan menyerang tubuh yang sistem imunnya sudah tak mampu lagi membendung.

Konon katanya, sebetulnya vaksin virus ini sudah ditemukan sejak lama oleh Amerika, tapi sengaja disimpan agar penderita-penderita malaria yang kebanyakan berasal dari negara miskin dan berkembang di Afrika dan Asia tetap membeli obat demam ini. Benarkan demikian? Wallahu A’lam.

Mental Terung

Suatu ketika, Gubernur Al-Shihabi berkata kepada seorang pelayannya: "Hari ini, saya ingin sekali makan terong..." "Ah...