Thursday, July 2, 2015

Sepenggal Cerita di Lingga, Bunda Tanah Melayu (Bagian II)

Sebuah kolong bekas penambangan timah di kawasan
Batu Berdaun, Dabo Singkep (2009)
[dok. pribadi]
Malaria ...

Binatang apakah yang paling banyak membunuh manusia di dunia ini? Demikian sebuah pertanyaan dalam sebuah acara dokumentasi tentang fauna di televisi yang saya tonton beberapa waktu lalu.

Sebuah pertanyaan kecil, tapi jawabannya mengagetkan. Apakah singa? Ular kobra? Harimau? Beruang? Serigala? Ternyata bukan! Jawabannya adalah: NYAMUK!

Binatang kecil yang tiap hari mengganggu tidur kita, itulah sang pembunuh sadis itu. Hewan kecil itu barangkali tidak menyadari hal ini. Tapi begitulah kenyataannya. Malaria, demam berdarah, filaria (kaki gajah), cikungunya adalah sederet penyakit yang diderita jutaan manusia di dunia yang disebabkan nyamuk.

Maha Suci Allah! Saya jadi teringat firman Allah SWT dalam al-Quran:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آَمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Baqarah: 26)

Bercerita soal malaria, kita akan bercerita tentang nyamuk. Syahdan kata dokter dan pakar kesehatan, Malaria adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh protozoa dari genus Plasmodium. Pada manusia, terdapat empat spesies  penyebab malaria, yaitu P. falciparum, P. vivax, P. ovale, P. Malaria. Dari keempat jenis itu, Plasmodium falciparum adalah penyebab sekitar 85% malaria di dunia dan merupakan penyebab malaria yang paling berat.

Ada juga yang mengatakan, Malaria sendiri berasal dari kata Mal (jelek) dan Aria (udara) karena penyakit ini memang banyak berkembang di daerah-daerah dengan sanitasi yang buruk. Tapi yang pasti, penyebaran alami parasit malaria disebabkan oleh nyamuk Anopheles betina yang hidup terutama di daerah pantai, jadi tak heran kalau Dabo Singkep juga ikut jadi sarang malaria. Namun, parasit dapat pula disebarkan melalui pembuluh darah seperti transfusi darah, penggunaan jarum bersama oleh pecandu narkoba, maupun penularan dari ibu ke janin yang dikandungnya.

Jangan kaget, fakta mencatat bahwa lebih dari 40% penduduk dunia tinggal di daerah rawan infeksi Malaria, utamanya di daerah tropis seperti di Indonesia dan Afrika bagian ekuator. Jutaan orang meninggal dunia setiap tahunnya akibat penyakit ini.

Kalau sudah diserang penyakit ini, bersiap-siaplah merasakan demam tinggi, tulang nyeri, susah tidur, mengigau dan lain sebagainya. Lidah terasa pahit, makanan serba tak enak. Karena itu, saya anjurkan kalau anda ingin masuk ke daerah yang dikenal sebagai daerah rawan malaria, minumlah obat anti malaria secara berkala. Obatnya ada yang alami, ada yang kimiawi. Mau yang alami, sering-seringlah minum ramuan sambiloto, pucuk pepaya, brotowali dan lain-lain. Mau kimia juga banyak dijual dengan harga terjangkau, ada Klorokuin, Primakuin, Kina dan sebagainya. Tapi jangan kebanyakan, berbahaya bagi ginjal anda.

Bercerita soal nyamuk malaria, kita akan terseret ke cerita tentang Timah. Ya, bahan tambang yang terkenal itu. Kalau anda sekarang bisa menikmati berbagai macam alat elektronik, televisi, radio, DVD, termasuk PC dan Laptop yang anda gunakan sekarang ini, ingatlah bahwa ratusan ribu orang , bahkan mungkin jutaan, sekarang tinggal di daerah berpenyakit akibat penambangan timah guna membuat alat-alat entertainmen yang anda nikmati itu. Bagaimana tidak, kolong-kolong bekas penambangan timah menjadi habitat mewah bagi nyamuk-nyamuk untuk berkembang biak.

Diperkirakan sekitar 45.000 hektar lahan di Pulau Singkep telah dimanfaatkan sebagai basis kegiatan penambangan timah selama hampir 180 (seratus delapan puluh) tahun! Dalam pelajaran ilmu bumi dulu, Dabo-Singkep, Kepulauan Riau, dikenal di seantero Indonesia sebagai salah satu tambang timah terbesar selain Bangka di Sumatera Selatan. Penambangan telah dimulai sejak 1812 ketika Pemerintah Hindia Belanda masih menguasai Indonesia. Pulau itu kini dipenuhi dengan danau-danau kecil (yang disebut kolong) bekas galian Timah. Kondisi ini semakin diperburuk dengan beroperasinya kegiatan penambangan pasir.

Pernah menonton atau membaca Laskar Pelangi yang tersohor itu? Ketahuilah bahwa kondisi Belitong dalam cerita itu tak jauh berbeda dengan kondisi Dabo Singkep. Cerita yang saya dapat dari beberapa penduduk lokal ternyata sama: segelintir orang yang kebanyakan datang dari luar daerah hidup mewah menikmati berkah timah, sementara penduduk asli hanya menonton, atau kalau sedikit beruntung bisa mencicipi percikan berkah tersebut. Mereka sudah merasa senang waktu itu jalanan di daerah mereka sudah berlampu, ada turnamen-turnamen olahraga, bisa jadi buruh timah, atau melakukan tindak pidana mencuri-curi timah untuk dijual ke penadah gelap dari Singapura. Demikian cerita yang saya dapat dari penduduk. Jangankan menjadi pegawainya, bahkan sekedar menjadi buruhnya saja susah! Alasannya klise, “Kalau penduduk asli itu tidak berkualitas, etos kerja rendah, pemalas, suka membangkang, tak penurut, bla... bla... bla...”.

Sebagai penduduk tempatan, wajar jika mereka kecewa! suara hati mereka seakan mengatakan: kalau kami memang bodoh, bangunlah sekolah-sekolah dan politeknik pertambangan di daerah kami sejak dulu!... didik kami... kami tak ada biaya untuk sekolah teknik jauh-jauh...  tamat SD saja orang tua kami dulu sudah bangga .... Orang melayu pemalas? diukur dari mana? apa karena tidak pernah memegang cangkul? Hamparan rantau melayu bukan semuanya merupakan tempat yang cocok menanam padi dan sayur... tak ada gunung vulkanik yang menyuburkan tanah di sini...  orang-orang tua kami sanggup menebang hutan berhektar-hektar untuk membuka lahan tanpa mesin... mereka sanggup menghadang badai lautan menggadaikan nyawa? Apanya yang pemalas?!

Akibatnya, ketika perusahaan timah ditutup di penghujung 80-an, cerita yang saya dapat: ribuan keluarga eks pegawai timah eksodus meninggalkan pulau ini dan balik pulang ke kampung mereka. Tinggallah Singkep menjadi pulau sepi. Yang tinggal hanya kolong-kolong bekas penambangan yang menjadi sarang malaria. Barulah sekarang setelah otonomi daerah diberlakukan, gairah kehidupan di pulau itu kembali bangkit.

Riau memang diberkati Tuhan dengan sumber-sumber alam yang melimpah. Ada minyak bumi Siak, Bengkalis, Kampar, gas alam di Anambas dan Natuna yang konon merupakan cadangan gas terbesar di dunia, ada emas dan Batu bara di Indragiri dan Kuantan, ada Timah di Singkep, Karimun dan Bangkinang (kawasan TTB yang di Bangkinang adalah singkatan dari Tambang Timah Bangkinang), belum lagi tambang hutan dan kebun, kelapa sawit, bahan pulp dan kertas... tapi apakah penduduk di sini ikut menikmatinya? Wallahu A’lam.

Kalau daerah-daerah subur dengan pertanian menikmati murahnya harga bahan-bahan makanan di daerah mereka, mengapa di penduduk di Riau tidak dapat sepenuhnya menikmati listrik yang bahan pembangkitnya melimpah di sini? Kami tak kaget kalau harga bayam tahun 2007 di sini bisa mencapai Rp. 4000 per ikat dan di daerah lain hanya 500 perak, tapi mengapa minyak goreng lebih mahal di sini daripada di luas sana padahal sawitnya ada di sini? Mengapa jalanan di sini banyak yang belum beraspal? Entahlah... jawablah sesuka anda, tapi jangan menjawab dengan jawaban yang menyinggung marwah dan perasaan seperti: orang Melayu itu pemalas, orang tempatan tidak berkualitas, orangnya hanya ingin “nak sonang, nak konyang, nak monang”.... dan jawaban-jawaban yang bernada melecehkan dan merendahkan lainnya...

No comments:

Post a Comment

Komentar yang sopan ya... :D

Kisah Sang Imam 1001 Dalil

Suatu ketika, Imam al-Fakhrur Razi (w. 605 H) berjalan di kota Ray, dengan diiringi barisan muridnya yang begitu banyak. Tak lama, romb...