Saturday, July 4, 2015

Sepenggal Cerita di Lingga, Bunda Tanah Melayu (Bagian III)

Saya baru menyadari belakangan kalau Daik Lingga ternyata punya hubungan historis dengan kampung halaman saya, Pulau Gadang. Padahal, begitu jauh jarak antara dua negeri ini. Pulau Gadang terletak di sebelah barat Kabupaten Kampar, tepatnya di XIII Koto Kampar yang berbatasan langsung Negeri 50 Kota, Sumatera Barat. Sedangkan Daik Lingga jauh berada di gugusan selatan Kepulauan Riau.

Apa yang menghubungkannya? Sebuah nama: Syekh Ja’far!

Di kampung saya, Syekh Ja’far bukanlah nama yang asing. Beliau adalah tokoh kebanggaan dan panutan masyarakat sejak dulu. Nama beliau diabadikan melalui sebuah Yayasan yang mengelola sebuah sekolah menengah agama, MTS Syekh Ja’far. Ratusan putra putri negeri kami menimba ilmu di madrasah ini.

Bahkan, bukan hanya di Pulau Gadang saja, Nama beliau juga terkenal di berbagai negeri se-antero Riau, terutama di kalangan penganut Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang telah berjasa menyebarkan Islam di rantau Melayu ini. Ratusan –atau barangkali- ribuan pengikut silsilah beliau sekarang tersebar di berbagai penjuru Riau melalui. Tahun 2007 yang lalu, saya dipertemukan oleh Allah SWT dengan salah satu istri beliau di Pelalawan yang masih hidup hingga sekarang ini. Saat saya tanya kapan ia menikah dengan Syekh, ia menjawab 3 tahun setelah merdeka, artinya sekitar tahun 1948. Sedangkan Syekh sendiri wafat sekitar tahun 1950-an. Di sana Beliau meninggalkan seorang putra yang saat ini menjadi tokoh yang cukup disegani.

antara Pulau Gadang dan Daik Lingga
Apa hubungan Syekh Ja’far dengan Daik Lingga? Berdasarkan cerita dari ayah saya, ternyata Syekh Ja’far yang terkenal ini merupakan anak keturunan orang Daik Lingga! Konon beliau selalu dengan bangga mengatakan “Saya ini anak orang Daik...” ketika Beliau ditakut-takuti oleh Belanda. Saya tidak begitu tahu, apakah beliau lahir di Pulau Gadang dari ayah yang berasal dari Daik Lingga, atau memang beliau lahir di Daik lalu merantau ke Pulau Gadang. Wallahu A’lam.

Tapi yang pasti, sebelum tahun 1900 (era di mana Syekh Ja’far masih muda saat itu), Daik Lingga adalah negeri yang maju dan ternama. Betapa bangganya orang dulu memakai kain ‘tenunan Daik’. Kesultanan Riau Lingga begitu luas kekuasaannya. Johor dan Pahang dan Singapura pun kala itu termasuk dalam wilayah kesultanannya. Kalau tidak percaya, berkunjunglah ke Masjid Marhum di Daik Lingga, di samping masjid itu ada kompleks makam keluarga Sultan. Di salah satu nisan atau prasasti di situ tertulis: Sultan Mahmud, YAM di Pertuan Muda Johor, Pahang, Riau dan Lingga. Barangkali, YAM itu adalah singkatan dari ‘Yang Amat Mulia’ sebagaimana kebiasaan yang masih digunakan orang-orang di Malaysia hingga hari ini, mereka memakaikan gelar YAB (Yang Amat Berhormat), YB (Yang Berhormat), YAA dll kepada para penguasa dan pembesar yang mereka hormati seperti para Menteri Besar (Gubernur) anggota Parlemen, para hakim dan lain sebagainya.

Berdasarkan catatan yang ditulis teman saya dalam bukunya ‘Lingga Bunda Tanah Melayu’, bahwa kota Daik menjadi pusat kesultanan Melayu dari tahun 1787-1900 M. Di mana, Sultan Mahmud memerintah seluruh pentadbiran negeri dalam menangani pemerintahan dan memiliki wakil-wakilnya di wilayah-wilayah kekuasaannya. Di Pahang diwakilkan kepada Datok Bendahara, sedangkan kawasan Johor, Singapura dan sekitarnya diwakilkan kepada Datuk Temenggung yang kala itu bermustautin di Pulau Bulang (dekat pulau Batam). Salah seorang Temenggung itu bernama Abdul Jamal yang namanya diabadikan sebagai sebuah stadion olah raga di Kota Batam. Sebagai pegangannya khusus di Riau diserahkan kepada Yam Dipertuan Muda (Yam Tuan) dengan Pulau Penyengat pusat perwakilan Sultan Lingga.

Tahun 1900, pusat kesultanan Melayu dipindahkan ke Pulau Penyengat di seberang Tanjung Pinang. Sejak itulah kebesaran Daik Lingga mulai menyusut. Sejak itu, kesultanan Melayu mulai di pecah-pecah oleh penjajah, sebagian takluk ke Belanda, sebagian ke Inggris. Tahun 1912, kesultanan Melayu di Pulau Penyengat dibubarkan oleh Belanda dari Batavia. Sultan Melayu yang terakhir, Sultan Muazzam Syah dan keluarganya pun setelah itu pindah dari Pulau Penyengat ke Singapura yang kala itu sudah dikuasai Inggris. Sultan Abdurrahman Mua’zzam Syah meninggal di Singapura sekitar tahun 1930.

Panjang ceritanya kalau ditulis di sini seluruh kisah kesultanan Melayu. Tapi yang pasti, begitu sampai di Dabo Singkep, sudah terbesit niat di hati untuk mencari jejak Syekh Ja’far ini. Saya beberapa kali datang ke Daik dan menanya beberapa orang tentang Syekh Ja’far dan leluhurnya, tapi mereka semua menjawab tidak tahu. Sampai akhirnya saya meninggalkan Lingga di pertengahan tahun 2009, pencarian tersebut juga tidak berhasil.

Tapi saya tidak kecewa, biarpun tidak tahu siapa leluhurnya, tapi spirit beliau tetap akan dijaga. Dan mudah-mudahan tidak begitu saja dilupakan oleh penerus di negeriku. Begitu banyak nama-nama besar yang ada di Pulau Gadang, ada Syekh Abdurrahman Engku Lunak dan berbagai nama lainnya. Mereka layak disebut Pahlawan, meski hanya di kampung kami.

Jika hendak mengenal orang berbangsa,
Lihat Kepada budi dan bahasa

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
Sangat memeliharakan yang sia-sia

Jika hendak mengenal orang mulia,
Lihatlah kepada kelakuan dia

Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
Bertanya dan belajar tiadalah jemu

Jika hendak mengenal orang yang berakal,
Di dalam dunia mengambil bekal

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

(Gurindam fasal yang ke lima, Raja Ali Haji)

3 comments:

  1. Tambah lagi dong artikelnya tentang XXXI Koto Kampar pada umumnya dan tentang Pulau Gadang pada hususnya,,
    semoga dgn membaca artikel ini bisa menambah ilmu pengetahuan tentang kebudayaan kita sendiri ,,

    ReplyDelete
  2. Jika anda ingin bertanya lebih banyak ttg syeikh ja'far, saya kenal dengan salah seorang anaknya. Syekh abdussomad. Saya memanggilnya atuk. Yaa hubungan kami seperti kakek dengan cucu. Kami tinggal di pangkalan kerinci. Jika anda ingin bertemu dengan beliau datanglah ke kerinci. Tanya pada orang asli sini mereka pasti tau.

    ReplyDelete
  3. Jika anda ingin bertanya lebih banyak ttg syeikh ja'far, saya kenal dengan salah seorang anaknya. Syekh abdussomad. Saya memanggilnya atuk. Yaa hubungan kami seperti kakek dengan cucu. Kami tinggal di pangkalan kerinci. Jika anda ingin bertemu dengan beliau datanglah ke kerinci. Tanya pada orang asli sini mereka pasti tau.

    ReplyDelete

Komentar yang sopan ya... :D

Lukisan dan Titik Merah

Setelah menyelesaikan sebuah lukisan, seorang seniman merasa sangat puas. Pikirnya, inilah lukisan terbaik yang pernah ia buat sepanjang ...