Wednesday, October 28, 2015

Berkeliling Kota Lhokseumawe, Aceh Utara

Lhokseumawe, kota kedua terbesar di Aceh Darussalam. Bila anda melakukan perjalanan lintas Sumatera melalui jalur lintas timur menuju Banda Aceh, kota indah ini akan turut dilewati.

Katanya, Lhokseumawe berasal dari kata Lhok dan Seumawe. Dalam Bahasa Aceh, Lhok memiliki arti: dalam, teluk dan palung laut. Sedangkan Seumawe berarti air yang berputar-putar atau pusat mata air.

Kota ini dipisahkan oleh sebuah selat kecil yang dihubungkan dengan dua jembatan utama. Jadi pusat Lhokseumawe sebenarnya terletak pada pulau kecil yang terpisah dari daratan Sumatera.

Islamic Center, kawasan Banda Sakti, Lhokseumawe
jalanan kota Lhokseumawe yang bersih
pemandangan di pusat kota Lhokseumawe


Sekelumit sejarah kota Lhokseumawe
Kota ini tak dapat dilepaskan dari sejarah Kerajaan Samudera Pasai sekitar abad ke-13, dan kota ini menjadi salah satu daerah dalam kedaulatan Kesultanan Aceh sejak tahun 1524.

Sebelum abad ke-20, Lhokseumare diperintah oleh Uleebalang Kutablang. Tahun 1903 setelah perlawanan pejuang Aceh terhadap penjajah Belanda melemah, Aceh mulai dikuasai.

Lhokseumawe menjadi daerah taklukan dan mulai saat itu status Lhokseumawe menjadi Bestuur Van Lhokseumawe dengan Zelf Bestuurder adalah Teuku Abdul Lhokseumawe tunduk dibawah Aspiran Controeleur dan di Lhokseumawe berkedudukan juga Wedana serta Asisten Residen atau Bupati.

Pada dasawarsa kedua abad ke-20 itu, di antara seluruh daratan Aceh, Kota Lhokseumawe sebagai salah satu pulau kecil dengan luas sekitar 11 km² yang dipisahkan dengan Sungai Krueng Cunda diisi bangunan-bangunan Pemerintah Umum, Militer, dan Perhubungan Kereta Api oleh Pemerintah Belanda.

Tuesday, October 20, 2015

Perbedaan Motivasi Merantau... Dan Hidup Yang Dirantaukan

Melakukan perjalanan adalah bagian dari azab, begitu kata Nabi Saw dalam hadits. Barangkali, ini pula alasan mengapa doa musafir itu mustajab, karena ia sedang menempuh sebuah siksa!

Apatah lagi meninggalkan kampung halaman! Meninggalkan sanak keluarga dan orang-orang yang dicintai. Meninggalkan ayah, ibu, adik kakak saudara mara... Jauh pergi meninggalkan mereka menimbulkan suatu rasa pedih, sekali kehilangan momen untuk berbakti.

Orang Arab mengenal sebuah istilah 'alhanin ilal wathan' [الحنين إلى الوطن], kerinduan akan kampung halaman. sebagaimana rindunya Rasul akan kota Mekkah!

Merantau! Kadang menjadi sebuah pilihan hidup. Bumi Allah yang luas ini mesti dijejak agar hidup menjadi lapang. Ketika hidup di negeri sendiri terasa sempit, carilah kehidupan yang luas di luar sana. Seperti bidal di kampung: di mana tangis terhenti, di situ buaian digantung!

Tapi kadang terpikir pula, saya ini sebenarnya tidak merantau, tapi dirantaukan! Tiga atau empat tahun sekali, badan ini harus pindah ke tempat yang baru. Entah sampai kapan ini akan berakhir!

Jelas ini bukan merantau, tapi menjalani nasib saja.

Memang kelapa berhimpit tandan
Rumah mak uda di tepi karang
Memang sudah nasibnya badan
Muda ke tua di rantau orang

Sudah direnungi bait-bait Imam Syafi'i yang menasihati diri untuk meninggalkan kampung halaman, mengalir bagai air yang menelusuri anak-anak sungai menuju samudera, atau seperti singa yang meninggalkan sarang bermaharajalela agar ditakuti penghuni rimba.. sudah direnungkan dan diamalkan tentang nazam-nazam beliau tentang perlunya mencari suasana baru, sahabat baru, keluarga baru... tapi tetap saja tak sesuai dengan 'hidup yang dirantaukan' ini.

Alih cerita sedikit..

Sedikit tentang merantau, buku yang satu ini jadi sangat menarik untuk ditelaah. Budayawan dan Sejarawan Mochtar Naim, dalam bukunya berjudul "Merantau, Pola Migrasi Suku Minangkabau", [Penerbit Rajawali Press] menjelaskan tentang perbedaan pola dan motivasi merantau dari beberapa etnis suku yang ada di Indonesia, semisal Minangkabau, Melayu dan Jawa.

Pada halaman 303 dalam bab "sebab-sebab merantau', Mochtar menjelaskan tentang adanya perbedaan yang kentara dalam motivasi meninggalkan kampung halaman pada etnis-etnis masyarakat tersebut.

Berikut petikannya:


Suatu Senja di Perbatasan Atjeh - Sumatera Utara

Setelah perjalanan lebih kurang 8 jam dari Kisaran, akhirnya sampai di perbatasan Aceh - Sumatera Utara pada pukul 5 sore.

Walau cuaca agak gelap, tapi mata kamera HP masih bisa menangkap gambar suasana dengan cukup jelas.

Sebuah tembok batas berdiri kokoh menandakan anda memasuki Tanah Rencong, tempat syariat Islam didaulat hormat.

Di atas tembok terpampang gapura yang sudah tampak usang, memisahkan Langkat dan Aceh Tamiang. Pada tembok tertulis pula ukiran "Watas Atjeh - Sumatera Utara" dengan bahasa lama,
"batas" menjadi "watas", cukup klasik!

Jadi teringat sesuatu: beberapa kosa kata dalam dialek bahasa Melayu memang sering mengganti huruf "b" dengan huruf "y" atau sebaliknya, dan popularitasnya berbeda sesuai daerah. Misalnya saja "bayang" menjadi "wayang".

'Ala kulli hal, ini momen pertama ke Aceh, mobil plat BL yang saya tumpangi sudah aman! Alhamdulillah.

watas sumatera utara atjeh
watas atjeh sumatera utara
gapura perbatasan aceh sumatera utara
gapura perbatasan dari sisi sebaliknya, 
sebuah pos polisi dan dinas kesehatan

Tuesday, October 13, 2015

Jangan Paksa Mereka Berenang di Samudera!

Budayawan Mesir, Anis Manshour menulis sepenggal pengalaman pribadi dalam bukunya yang berjudul 'Qul Li Ya Ustadz' (Katakan padaku, Bung), sebuah pengalaman yang amat berharga antara beliau dengan Hasan al-Banna.

Anis menceritakan tentang momen yang membawa perubahan penting bagi dirinya. Ia yang dulunya seorang pemuda yang gandrung menulis gaya bahasa tinggi, sampai-sampai penulis sekelas Abbas al-'Aqqad pun pernah menyampaikan kekagumannya akan gaya tulisan tersebut.

Namun, pertemuannya dengan Hasan al-Banna hari itu mengubah pemikirannya. Dalam halaman 9, Anis menulis:

Kisah [pengalaman] lain:
Suatu ketika aku membawakan penampilan puisi kasidah yang aku karang sendiri dalam sebuah perayaan Maulid Nabi. Dan di antara para hadirin yang mendengar saat itu adalah Syaikh Hasan al-Banna, pengasuh utama Ikhwanul Muslimin.

Setelah aku selesai membacakan puisi kasidah tersebut, Syaikh Hasan al-Banna menghampiriku seraya bertanya dengan penuh kebapakan:

"Anakku, engkau belajar di mana?".

"Tuan, aku ini mahasiswa jurusan Filsafat". jawabku ringkas.

"Oh, patutlah... Tapi kamu jangan lupa Nak...Para pendengarmu ini adalah orang-orang yang bersahaja! Mereka adalah orang-orang yang terbiasa berenang di selokan dan kanal kecil... Jadi, jangan paksa mereka berenang mengarungi samudera!".

Sejak hari itu -kata Anis Manshour- ia pun tiak lagi pernah menulis dengan bahasa-bahasa yang tinggi! Ia mencintai bahasa-bahasa sederhana yang dapat dimengerti semua orang.

Thursday, October 8, 2015

Kantin Yuna 4 Jl. Mahoni, Kisaran

Tempat makan murah meriah, cita rasa luar biasa, hehe... pokoknya tidak kalah! Semua menu makanan seharga Rp. 5.000 saja! Soto, mie ayam, mie rebus, nasi goreng, mi tiaw dll.

Terletak di Jl. Mahoni, tepatnya di depan SMP Negeri 2 Kisaran, tak jauh dari Kantor Bupati Asahan dan lapangan Tenis Pelti Asahan.

Kantin Yuma Jl. Mahoni Kisaran
Jl. Mahoni, dari Jl. Lintas timur sumatera menuju kampus IAI Darul Ulum
Soto nasi hanya Rp. 5.000

Masjid Al-Amilin Kampung Pante Raya, Wih Pesan, Kabupaten Bener Meriah, Aceh

Lelah melewati jalanan mendaki dan berkelok dari kota Bireuen menuju Takengon, singgah sejenak di Masjid Al-Amilin di Desa Pante Raya, Kecamatan Wih Pesan, Bener Meriah.

Suasana dingin cukup terasa, apalagi ketika menyentuh air untuk berwudhu di wilayah pegunungan ini. Di depan jalan tampak gugusan perbukitan indah, demikian juga di arah belakang.

Di halaman masjid terdapat kolam ikan kecil yang didiami puluhan atau mungkin ratusan ikan berukuran besar jenis Nila/Mujair dan ikan Mas. Di sampingnya, pengurus masjid meletakkan pelet makanan ikan untuk diberikan pengunjung masjid kepada ikan-ikan, lumayan untuk melepaskan stres dan kejenuhan setelah menempuh perjalanan panjang.

Masjid Nur Amilin Pante Raya, Bener Meriah, Aceh
Pemandangan di depan masjid, kolan ikan berpagar dan pegunungan bukti barisan
ikan-ikan yang berukuran besar
pemandangan arah belakang

Tuesday, October 6, 2015

Masjid Agung Ahmad Bakri, Kisaran - Kabupaten Asahan

Masjid Agung Ahmad Bakrie Kisaran terletak di pinggir jalan lintas Sumatera, tepatnya di seberang kantor Bupati Asahan.

Masjid ini resmi digunakan sebagai tempat ibadah pertama kali pada hari Rabu tanggal 5 Agustus 2015 Masehi, bertepatan dengan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat Provinsi Sumatera Utara.



Acara peresmian penggunaan ditandai dengan sholat Zuhur berjamaah bersama Bupati Asahan, H. Taufan Gama Simatupang disertai silaturahmi Pemkab Asahan bersama SKPD, FKUB, Forkopinda, tokoh masyarakat dan agama, camat, lurah dan kades bersama ratusan masyarakat.

Masjid termegah di Asahan ini mulai dibangun sejak tahun 2011. Dikuti dari situs resmi Pemkab Asahan, peletakan batu pertama pembangunan dilakukan oleh Abu Rizal Bakrie.

Masjid ini berdiri di atas lahan eks HGU PT Bakrie Sumatra Plantations (BSP) seluas empat hektar dengan empat menara dan dua lantai. Jika dilihat dari kejauhan mesjid ini memiliki desain model bangunan yang mirip dengan Taj Mahal di India. Disebutkan juga, bahwa dana pembangunannya bersumber dari APBD Asahan dan sumbangan umat muslim. Bertindak sebagai ketua BKM Jaya Prana Sembiring dan Imam Besar HM Syafii.

suasana menjelang maghrib
pintu masuk utama dari samping kanan
tingkap jendela dengan arsitektur dan corak melayu Asahan
mihrab yang indah
suasana di lantai 3

toilet dan tempat berwudhu, luas akan tetapi kurang terawat

Thursday, October 1, 2015

Saripati Serat Sastra Gendhing Sultan Agung Mataram

Dikutip dari buku Intisari Kitab-kitab Adihulung Jawa Terlengkap yang disusun oleh Soedjipto Abimanyu,  berikut kutipan dari saripati serat sastra gendhing karya Sultan Agung Mataram:

1. Tentu dunia tidak akan tercipta apabila yang fana mendahului yang abadi, logikanya jungkir balik.

2. Perlu diingat oleh orang yang melatih pikiran, jangan sampai terjadi hasrat tanpa kendali, haruslah itu diperhatikan, karena sangat berbahaya, menghancurkan kehidupan.

3. Dan jangan suka bertengkar pendapat, itu larangan dalam mencari ilmu. Bila belum mumpuni, lebih baik menahan diri, dan belajarlah dengan tekun, kepada para ulama, para ahli kesempurnaan jiwa.

4. Itulah orang yang berakal dangkal, selalu tak ingin direndahkan, selalu berlagak sombong, pamer kemuliaan dan kepandaian, hingga kehilangan dua-duanya.






Pajak [Pasar] Rakyat Tanjung Tiram, Batubara

Terletak di Jl. Rakyat, Tanjung Tiram Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Karena letaknya di tepi laut [pantai timur Sumatera, Selat Malaka], pasar ini tampaknya akan mengalami banjir kalau terjadi air pasang, sama seperti di Tembilahan, Riau.




Mental Terung

Suatu ketika, Gubernur Al-Shihabi berkata kepada seorang pelayannya: "Hari ini, saya ingin sekali makan terong..." "Ah...