Thursday, January 14, 2016

Antarah; Kepahlawanan, Perjuangan, Kehormatan dan Cinta

Bagi yang mendalami sastra Arab, nama Antarah bin Syaddad al-'Absi tentu sudah tidak asing lagi. Gubahan syair-syairnya menjadi tuturan para pujangga sejak masa Jahiliyah hingga hari ini.

Saya pertama kali mengenal sosok Antarah ketika belajar di Mesir, beberapa bacaan yang saya telaah membuat saya akrab dengan syair-syair Arab Jahiliyah, termasuk syair Antarah.

Jangan tuangkan daku cawan kehidupan berisi kehinaan
Tapi tuangkan daku cawan kemuliaan biar penuh kepahitan
Hidup senang dengan kehinaan adalah bak Jahannam
Tapi Jahannam dengan kemuliaan adalah sebaik-sebaik peraduan
Bagi masyarakat Arab, Antarah lebih dari sekedar sejarah, ia adalah legenda, layaknya Hercules dalam mitologi Yunani. Bedanya, Antarah bukanlah dongeng, tapi sosok nyata yang nasabnya tercatat dalam memori orang Arab, terutama di negeri Hijaz.

Pada tahun 1961, sebuah rumah produksi di Mesir mengangkat cerita Antarah ke layar lebar melalui film berjudul Antar bin Syaddad (Antar The Black Prince) yang dibintangi oleh Kouka, Faris Syauqi, Aidah Hilal dll, Film ini masing sering diputar di salah channel-channel TV Timur Tengah hingga saat ini.

Sedikit tentang Antarah (atau Antar), ia adalah putra Syaddad, pemuka kabilah di Bani 'Abas. Sayang, ibu kandung Antarah adalah seorang budak berkulit hitam bernama Zabibah (atau Zubaidah dalam beberapa versi). Antarah terlahir dengan kulit hitam seperti kulit ibunya. 

Antarah lahir pada tahun 525 M, tak terpaut jauh dari tahun kelahiran Rasulullah Saw, dan diperkirakan wafat tahun 608 M.

Karena beribukan seorang budak, statusnya pun tetaplah budak! Ia tak berhak memanggil 'ayah' kepada ayahnya sendiri, tapi memanggil 'Tuan', sebagaimana kebiasaan orang-orang Jahiliyah!

Dari Diwan Antarah bin Syaddad, oleh Amin Sa'id
Antarah terlahir dengan tubuh yang kekar, kuat dan selalu menjadi pahlawan di setiap medan laga. Mendengar namanya, ksatria-ksatria Arab menjadi gentar!

Antarah jatuh cinta pada putri pamannya bernama Ablah binti Malik (Malik adalah saudara kandung Syaddad). Tak bertepuk sebelah tangan, sang gadis pun membalas cinta yang sama.

Tapi sayang, ketika hendak meminang 'Ablah, pinangan Antarah ditolak lantaran darah budak mengalir dalam darahnya! Ia dianggap bukan berdarah Arab tulen!

Konon, untuk menolak pinangan itu, ayah 'Ablah memintanya membawa mahar berupa 1000 ekor unta terbaik! Dan Antarah berjuang mendapatkan unta itu, tapi setelah berhasil, lamarannya pun tetap ditolak dan akhirnya Malik membuat sayembara: siapa yang ingin menikahi Ablah, kepala 'Antaah yang jadi maharnya!

Seperti kata orang, cinta yang nestapa adalah alasan terbaik bagi lahirnya kata-kata indah. Di sinilah jiwa penyair Antarah tumbuh, lantaran kasih yang tak sampai. Untaian syair-syair indah Antarah merupakan salah satu dari tujuh  'mu'allaqat' yang tiada bandingannya hingga saat ini. Nama 'Antarah sejajar dengan pujangga Jahiliyah seperti Umru'ul Qais, Tharfah bin 'Abd, Zuhair bin Abi Sulma, Labid bin Rabi'ah, Amru bin Kultsum, Nabighah al-Dzibyani dan lain-lain. Syairnya tertulis dengan tinta emas dan digantungkan sebagai tirai Ka'bah!

Syair-syair Antarah adalah epik tentang kepahlawanan, keperkasaan di medan perang, perjuangan dan kehormatan, serta kasih yang tak sampai. Kepahlawanan yang mengharumkan namanya di pertempuran-pertempuran masa Arab Jahiliyyah, kehormatan dan harga diri yang diinjak-injak oleh tradisi, serta kasih yang terhalang oleh perbedaan derajat.
Di tengah sebatan tombak, daku teringat pada dirimu
Ketika kilatan pedang hindi kucurkan darahku
Ingin rasanya kukecup bilah pedang-pedang itu
Yang berkilauan laksana senyum pada bibirmu

[Di sela-sela penerjemahan Syair 'Antarah]

Mental Terung

Suatu ketika, Gubernur Al-Shihabi berkata kepada seorang pelayannya: "Hari ini, saya ingin sekali makan terong..." "Ah...