Posts

Pangir dan Balimau Kasai

Image
"Bu, ini apa?".
"Oh, ini namanya pangir".
"Untuk apa ini? Bumbu masakan?".
"Bukan, ini rempah untuk mandi... biar wangi, kan besok mau puasa".
"Iyakah?".
"Iya, mandi sunat saja!".
"Oh!".
***

Di Kampar, Kuantan, Rokan dan banyak tempat di Minangkabau dikenal tradisi "mandi balimau". Di hari terakhir bulan Sya'ban, yang disebut juga petang megang, masyarakat tumpah ruah mandi dan terjun ke sungai dengan membawa wewangian rempah khas yang diracik dari tumbuhan-tumbuhan beraroma wangi.

Sewaktu kecil (SD), saya dulu masih sering menemani sepupu-sepupu perempuan saya mencari akar kasai (kausar) ke rimba tepi kampung untuk ditumbuk bersama kambolu (embelu) dan daun limau serta tanaman wangi lainnya sehingga menjadi semacam serbuk. Saat balimau tiba, racikan wewangian ini dicampur dengan air dan disiramkan di kepala.

Meski menuai banyak kritik dari sana-sini, namun tradisi ini tetap saja marak dilakukan. Bany…

Ya Rasulullah.... Kami Lapar...

Image
Diriwayatkan dari Abu Bakr bin Abi ‘Ali, bahwa Imam al-Hafizh Ibn Al-Muqri al-Ashbihani (w. 381 H) berkata:

Suatu ketika, aku bersama al-Thabrani dan Abu al-Syaikh (Ibn Hayyan) –ketiganya merupakan ulama hadits- berada di kota Madinah al-Munawwarah. Kala itu, kami bertiga kehabisan harta dan makanan, sehingga terpaksalah kami menyambung puasa (wishol) dan tidak berbuka pada senja itu.

Syahdan ketika masuk waktu ‘Isya, aku mendatangi makam Rasulullah Saw., lalu aku berkata:

“Ya Rasulullah, kami sangat lapar!”.

Mendengar itu, al-Thabrani berkata kepadaku:

“Duduklah kemari. Kita serahkan semuanya kepada Allah! Kalau bukan rizki yang datang kepada kita, ya maut lah yang akan menjemput!”.

Usai sholat Isya, aku dan Abu al-Syaikh pulang ke rumah. Setibanya di rumah, tiba-tiba seorang 'Alawi (keturunan Ali bin Abi Thalib) mendatangi pintu rumah kami bersama 2 orang pembantunya yang membawa nampan berisi makanan yang amat banyak. Si 'Alawi itu kemudian (menyerahkan makanan) kepada kam…

Walau Tersarung, Pedang Matamu Tetap Melukai...

Image
Syahdan, adalah Idris Al-Jamaa' (1922-1980), seorang pujangga dan penyair Sudan, di hari-hari terakhir dalam hidupnya menderita gangguan mental hingga akhirnya ia harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Tapi rupanya, fasilitas di rumah sakit Sudan dirasa kurang memadai, sehingga keluarga memutuskan untuk membawanya berobat ke luar negeri.

Singkat cerita, keberangkatan Idris pun disiapkan.

Di bandara, Idris sang pujangga melihat seorang wanita cantik bersama suaminya. Dengan tatapan yang dalam, ia melayangkan pandangan ke arah wanita tersebut. Melihat hal itu, suami wanita tersebut terlihat risih dan berusaha menghalangi tatapan sang pujangga.

Melihat tingkah suami wanita tersebut, Idris pun mengatakan:

أعَلى ﺍﻟﺠﻤﺎﻝ ﺗﻐﺎﺭُ ﻣِﻨّﺎ   *** ﻣﺎﺫﺍ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺇﺫْ ﻧﻈﺮﻧﺎ ﻫﻲَ ﻧﻈﺮﺓٌ ﺗُﻨﺴِﻲ ﺍﻟﻮَﻗﺎﺭَ   ***   ﻭﺗُﺴﻌِﺪ ﺍﻟﺮّﻭﺡَ ﺍﻟﻤُﻌنَّى ﺩﻧﻴﺎﻱ ﺃﻧتِ ﻭﻓﺮﺣﺘﻲ  ***  ﻭﻣُنَى ﺍﻟﻔﺆﺍﺩِ ﺇﺫﺍ ﺗَﻤنَّى ﺃﻧتِ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀُ ﺑَﺪَﺕ ﻟﻨﺎ   ***   ﻭاﺳﺘﻌﺼﻤﺖ ﺑﺎﻟﺒُﻌﺪِ ﻋنَّا
Duhai, apakah ada cemburu karena keindahan
Apa salahnya jika hanya seked…

Asam Pode Umbut Pisang Kawuok, Kuliner 'Tuok Aghi' Zaman Berladang...

Image
Pulang lebaran kali ini (1437 H), saya beruntung bisa mencicipi salah satu kuliner langka yang mungkin amat sangat sulit lagi dijumpai di dapur-dapur masyarakat Kampar.

Ya, ini dia ‘asam pode umbuik pisang kawuok’ (asam pedas umbut pisang kawuok). Kuliner ini termasuk kategori kategori masakan ‘tuok aghi’ (kuno). Kata orang-orang tua, dulunya masakan ini biasa dibuat ketika orang berladang.

Dari namanya, sudah pasti masakan ini terbuat dari pisang. Masyarakat Kampar memang banyak memanfaatkan pisang sebagai lauk teman makan nasi, khususnya yang muda. Misalnya saja pisang lidi muda yang sering dibuat gulai atau pongek yang direncah dengan ikan pantau. Bahkan, pisang lidi sepertinya sengaja ditanam untuk itu, untuk diambil ketika muda mentah atau diambil jantungnya, karena rasa pisang lidi ketika sudah masak tidak begitu manis dan lezat, tidak seperti saudaranya ‘pisang jari buaya’ atau ‘pisang rotan’ yang memiliki bentuk hampir sama. Selain itu, orang menanam pisang lidi untuk dimanf…

Dibandingkan Mereka, Kita Ini Baru Selevel Pencuri...!

Image
Rabi' bin Khaitsam rahimahullah, seorang tabi'in yang amat wara', murid daripada Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Kesalehannya diakui orang-orang di masa itu, sampai-sampai Ibnu Mas'ud r.a sendiri pernah berkata kepadanya:

"Sungguh, andai Rasulullah Saw masih hidup dan melihatmu, tentu dia amat mencintaimu!".

Syahdan suatu ketika, Rabi' menderita sakit yang amat parah, sehingga ia tak mampu berjalan ke mana-mana dan hanya bisa berdiam di atas kasur.

Saat itu, datanglah Hilal bin Isaf dan Mudzir bin Ya'la Ats-Tsauri membesuk beliau. Sebelum berangkat ke sana, Mundzir betanya kepada Hilal:

"Menurutmu, apa sebaiknya kita mengawali pembicaaran telebih dahulu kepada Syaikh Rabi', atau kita diam saja dan mendengar beliau berbicara?".

Hilal menjawab:

"Apa kamu belum tahu? Kalau kita duduk bersama Rabi' bin Khaitsam selama satu tahun lamanya, sungguh ia takkan memulai pembicaraan denganmu sebelum engkau membuka percakapan dengan…

Kegelisahan Batin Sang Penulis...

Image
Pada bagian persembahan dalam kitab Ta'lil al-Ahkam fî al-Syari'ah al-Islamiyyah (cetakan Dar al-Basyir, Thantha, 2000), sang penulis, Adil al-Syuwaikh menukil suatu petikan ringkas dari perkataan Imad al-Ashfihani, sebagai berikut:

Maknanya kira-kira sebagai berikut:
"Dari pengamatanku, tidaklah seseorang menulis buku pada hari ini, kecuali ia akan berkata pada esok harinya: "kalau aku tidak menulis kalimat begini, tentu buku ini akan lebih baik", atau " kalau ditambah sedikit kata-kata ini, tentu akan lebih mantap", atau: "andai bagian ini didahulukan, tentu akan lebih bagus", atau: "andai kata ini tidak ditulis, tentu akan lebih indah".... Sungguh, ini adalah ibroh yang amat berharga, yang membuktikan betapa lemahnya manusia".

Imaduddin al-Ashfihani (519H-597H), yang memiliki nama asli Muhammad bin Shafiyyuddin bin Nafisuddin al-Ashfihani, adala seorang sejarawan, hakim, menteri. pujangga dan juga ulama yang hidup di masa D…

Petuah Imam Ahmad bin Hanbal r.a, Agar Wanita Hamil Melahirkan Dengan Mudah

Image
Menunggu saat-saat istri melahirkan adalah momen penuh kebahagiaan, yang sekaligus bercampur aduk dengan harap dan cemas.

Dalam Kitab Thibbun Nabawi, Imam Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah memberikan suatu resep kepada mereka yang tengah menunggu kelahiran buah hati.

Resep berupa amalan ruqyah ini merupakan petuah dari Imam Ahmad bin Hanbal r.a, dan sangat mudah dilakukan,

Kitab Thibbun Nabawi pada awalnya merupakan suatu bab dari kitab Zaadul Ma'ad fi Hadyi Khairul Ibad, bab ini mengulas khusus tentang perkara pengobatan dan sunnah-sunnah seputar kesehatan ala Rasulullah Saw. Namun karena begitu populernya bab kesehatan ini sehingga para ulama sering mengulasnya secara tersendiri.

Adapun bab tentang amalan agar mudah melahirkan ini ditulis khusus dalam bagian 'Kitab li 'usr al-wiladah'.

Berikut petikannya:

(Kitab tentang kesulitan melahirkan). al-Khallal berkata: Aku diberitahu oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, ia berkata:

Aku melihat ayahku menulis sesuatu untuk peremp…