Posts

Sholawat Imam al-Syafi'i

Image
Dinukil oleh Ibn al-Jauzi (w. 597 H) dari Abu Bayyan al-Ashbihani, beliau berkata:

Aku pernah bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw., dan dalam mimpi itu aku bertanya kepada beliau:

“Wahai Rasulullah! Imam Muhammad bin Idris (Imam al-Syafi’i) itu, putra pamanmu, apakah engkau memberi manfaat dan keistimewaan kepadanya?”.

Rasulullah saw. menjawab:

“Iya! Aku telah memohon kepada Allah agar ia tidak dihisab”.
Aku bertanya:

“Kenapa, wahai Rasulullah?”.

“Sebab ia telah bersholawat kepadaku, dengan sholawat yang belum pernah diucapkan oleh siapa pun di dunia ini, yaitu:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كُلَّمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ وَصَلَّ عَلَى مُحَمَّدٍ كُلَّمَا غَفَلَ عَنْهُ الغَافِلُوْنَ
Ya Allah, limpahkanlah sholawat ke atas nabi Muhammad, setiap kali ada orang yang ingat kepada beliau, dan limpahkanlah sholawat ke atasnya pada setiap kali ada orang yang lalai mengingat beliau”. ***

Ibn al-Jauzi, Shifat al-Shafwah, hlm. 395.

Empat Muhammad Yang Kelaparan di Sudut Kota Kairo

Image
Imam al-Hafizh Abu Bakr Ahmad ibn Ali al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H) meriwayatkan dengan sanadnya dari: Abu al-Abbas al-Bakri (salah seorang keturunan Abu Bakar al-Shiddiq ra), ia berkata:

Di suatu masa, 4 orang penuntut ilmu –yang menjadi ulama besar di bidang tafsir dan hadits di kemudian hari- sedang berada di Mesir dalam waktu bersamaan. Mereka adalah Muhammad ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H, dari Thabaristan), Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaimah (w. 311H, dari Naisabur), Muhammad ibn Nashr al-Marwazi (w. 294 H, dari Naisabur), dan Muhammad ibn Harun al-Ruyani (w. 307 H, dari Thabaristan).

Keempat penuntut ilmu ini jauh-jauh datang dari negeri mereka ke kota Kairo untuk menuntut ilmu dan mendengar hadits dari ulama-ulama besar di negeri tersebut. Karena keterbatasan dana, mereka tinggal bersama di sebuah rumah sewaan.

Syahdan di suatu hari, mereka kehabisan bekal dan uang, sehingga tidak ada makanan sama sekali yang bisa mereka jadikan pengganjal lapar di hari itu. Kondisi ini terus…

Pangir dan Balimau Kasai

Image
"Bu, ini apa?".
"Oh, ini namanya pangir".
"Untuk apa ini? Bumbu masakan?".
"Bukan, ini rempah untuk mandi... biar wangi, kan besok mau puasa".
"Iyakah?".
"Iya, mandi sunat saja!".
"Oh!".
***

Di Kampar, Kuantan, Rokan dan banyak tempat di Minangkabau dikenal tradisi "mandi balimau". Di hari terakhir bulan Sya'ban, yang disebut juga petang megang, masyarakat tumpah ruah mandi dan terjun ke sungai dengan membawa wewangian rempah khas yang diracik dari tumbuhan-tumbuhan beraroma wangi.

Sewaktu kecil (SD), saya dulu masih sering menemani sepupu-sepupu perempuan saya mencari akar kasai (kausar) ke rimba tepi kampung untuk ditumbuk bersama kambolu (embelu) dan daun limau serta tanaman wangi lainnya sehingga menjadi semacam serbuk. Saat balimau tiba, racikan wewangian ini dicampur dengan air dan disiramkan di kepala.

Meski menuai banyak kritik dari sana-sini, namun tradisi ini tetap saja marak dilakukan. Bany…

Ya Rasulullah.... Kami Lapar...

Image
Diriwayatkan dari Abu Bakr bin Abi ‘Ali, bahwa Imam al-Hafizh Ibn Al-Muqri al-Ashbihani (w. 381 H) berkata:

Suatu ketika, aku bersama al-Thabrani dan Abu al-Syaikh (Ibn Hayyan) –ketiganya merupakan ulama hadits- berada di kota Madinah al-Munawwarah. Kala itu, kami bertiga kehabisan harta dan makanan, sehingga terpaksalah kami menyambung puasa (wishol) dan tidak berbuka pada senja itu.

Syahdan ketika masuk waktu ‘Isya, aku mendatangi makam Rasulullah Saw., lalu aku berkata:

“Ya Rasulullah, kami sangat lapar!”.

Mendengar itu, al-Thabrani berkata kepadaku:

“Duduklah kemari. Kita serahkan semuanya kepada Allah! Kalau bukan rizki yang datang kepada kita, ya maut lah yang akan menjemput!”.

Usai sholat Isya, aku dan Abu al-Syaikh pulang ke rumah. Setibanya di rumah, tiba-tiba seorang 'Alawi (keturunan Ali bin Abi Thalib) mendatangi pintu rumah kami bersama 2 orang pembantunya yang membawa nampan berisi makanan yang amat banyak. Si 'Alawi itu kemudian (menyerahkan makanan) kepada kam…

Walau Tersarung, Pedang Matamu Tetap Melukai...

Image
Syahdan, adalah Idris Al-Jamaa' (1922-1980), seorang pujangga dan penyair Sudan, di hari-hari terakhir dalam hidupnya menderita gangguan mental hingga akhirnya ia harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Tapi rupanya, fasilitas di rumah sakit Sudan dirasa kurang memadai, sehingga keluarga memutuskan untuk membawanya berobat ke luar negeri.

Singkat cerita, keberangkatan Idris pun disiapkan.

Di bandara, Idris sang pujangga melihat seorang wanita cantik bersama suaminya. Dengan tatapan yang dalam, ia melayangkan pandangan ke arah wanita tersebut. Melihat hal itu, suami wanita tersebut terlihat risih dan berusaha menghalangi tatapan sang pujangga.

Melihat tingkah suami wanita tersebut, Idris pun mengatakan:

أعَلى ﺍﻟﺠﻤﺎﻝ ﺗﻐﺎﺭُ ﻣِﻨّﺎ   *** ﻣﺎﺫﺍ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺇﺫْ ﻧﻈﺮﻧﺎ ﻫﻲَ ﻧﻈﺮﺓٌ ﺗُﻨﺴِﻲ ﺍﻟﻮَﻗﺎﺭَ   ***   ﻭﺗُﺴﻌِﺪ ﺍﻟﺮّﻭﺡَ ﺍﻟﻤُﻌنَّى ﺩﻧﻴﺎﻱ ﺃﻧتِ ﻭﻓﺮﺣﺘﻲ  ***  ﻭﻣُنَى ﺍﻟﻔﺆﺍﺩِ ﺇﺫﺍ ﺗَﻤنَّى ﺃﻧتِ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀُ ﺑَﺪَﺕ ﻟﻨﺎ   ***   ﻭاﺳﺘﻌﺼﻤﺖ ﺑﺎﻟﺒُﻌﺪِ ﻋنَّا
Duhai, apakah ada cemburu karena keindahan
Apa salahnya jika hanya seked…

Asam Pode Umbut Pisang Kawuok, Kuliner 'Tuok Aghi' Zaman Berladang...

Image
Pulang lebaran kali ini (1437 H), saya beruntung bisa mencicipi salah satu kuliner langka yang mungkin amat sangat sulit lagi dijumpai di dapur-dapur masyarakat Kampar.

Ya, ini dia ‘asam pode umbuik pisang kawuok’ (asam pedas umbut pisang kawuok). Kuliner ini termasuk kategori kategori masakan ‘tuok aghi’ (kuno). Kata orang-orang tua, dulunya masakan ini biasa dibuat ketika orang berladang.

Dari namanya, sudah pasti masakan ini terbuat dari pisang. Masyarakat Kampar memang banyak memanfaatkan pisang sebagai lauk teman makan nasi, khususnya yang muda. Misalnya saja pisang lidi muda yang sering dibuat gulai atau pongek yang direncah dengan ikan pantau. Bahkan, pisang lidi sepertinya sengaja ditanam untuk itu, untuk diambil ketika muda mentah atau diambil jantungnya, karena rasa pisang lidi ketika sudah masak tidak begitu manis dan lezat, tidak seperti saudaranya ‘pisang jari buaya’ atau ‘pisang rotan’ yang memiliki bentuk hampir sama. Selain itu, orang menanam pisang lidi untuk dimanf…

Dibandingkan Mereka, Kita Ini Baru Selevel Pencuri...!

Image
Rabi' bin Khaitsam rahimahullah, seorang tabi'in yang amat wara', murid daripada Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Kesalehannya diakui orang-orang di masa itu, sampai-sampai Ibnu Mas'ud r.a sendiri pernah berkata kepadanya:

"Sungguh, andai Rasulullah Saw masih hidup dan melihatmu, tentu dia amat mencintaimu!".

Syahdan suatu ketika, Rabi' menderita sakit yang amat parah, sehingga ia tak mampu berjalan ke mana-mana dan hanya bisa berdiam di atas kasur.

Saat itu, datanglah Hilal bin Isaf dan Mudzir bin Ya'la Ats-Tsauri membesuk beliau. Sebelum berangkat ke sana, Mundzir betanya kepada Hilal:

"Menurutmu, apa sebaiknya kita mengawali pembicaaran telebih dahulu kepada Syaikh Rabi', atau kita diam saja dan mendengar beliau berbicara?".

Hilal menjawab:

"Apa kamu belum tahu? Kalau kita duduk bersama Rabi' bin Khaitsam selama satu tahun lamanya, sungguh ia takkan memulai pembicaraan denganmu sebelum engkau membuka percakapan dengan…