Thursday, October 19, 2017

Mental Terung

Suatu ketika, Gubernur Al-Shihabi berkata kepada seorang pelayannya:

"Hari ini, saya ingin sekali makan terong..."

"Ah, benar sekali tuan... terong memang makanan yang lezat... gurih seperti daging... mau digoreng, dibakar, direbus, terung tetap sedaaap... Memang terung makanan yang diberkati Tuhan..". Timpal sang pelayan penuh semangat.

"Tapi...".

"Tapi apa, Tuan?".

"Seminggu lalu saya makan terung, tapi setelah itu tiba-tiba perut saya jadi sakit...". Ujar sang gubernur.

"Ah, benar sekali tuan... terung memang makanan nggak mutu! Sudahlah lembek, bikin sakit perut pula... banyak yang bilang begitu, Tuan... Oh, terlaknat sungguh si buah terung...". kata si pelayan.

Sang gubernur merasa heran,

"Hei! kamu ini bagaimana? Barusan kamu memuji-muji terung, tapi sekarang kamu kutuk maki?!". tanya Gubernur.

"Tuan, saya ini kan pelayan Gubernur, bukan pelayan terung!".

Friday, September 29, 2017

Schmidt Yang Lupa: Dengan Siapa Ia Sedang Bicara...

Di sebuah kamp penjara Jerman di era 1960-an…

Syahdan, para narapidana sangat tersiksa karena akibat pengawasan para sipir yang memperlakukan mereka dengan sangat kasar dan bengis!

Akan tetapi, ada salah seorang narapidana yang sepertinya mendapat perlakuan istimewa dan berbeda dengan yang lainnya. Ia bernama Schmidt. Ia divonis penjara untuk waktu yang sangat lama. Para sipir terlihat cukup santun dan lembut terhadapnya. Tidak ada perlakuan kasar kepadanya, menu makanan untuknya pun terbilang cukup, dan kerja paksa tak sebanyak narapidana lainnya.

Rekan-rekannya sesama napi pun merasa heran. Ada pula yang curiga: jangan-jangan Schmidt adalah agen yang diletakkan untuk mengawasi mereka! Tapi hal itu pernah mereka tanyakan langsung kepada Schmidt, dan ia bersumpah bahwa ia adalah seorang napi yang senasib dengan mereka!

“Saya bukan mata-mata, bukan agen, saya tak ada hubungan dengan aparat keamanan seperti yang kalian duga”. Ujar Schmidt.

Tapi para napi tak percaya.

“Jika benar begitu, mengapa mereka terlihat begitu baik kepadamu? Beda sekali dengan perlakuan mereka terhadap kami!”. Sangkal para napi.

“Hmmm... baiklah... saya akan kasih tahu rahasianya... tapi..”. Ujar Schmidt. Belum selesai ia bicara, para napi memotong perkataannya:

“Tapi apa?”.

“Saya ingin bertanya, kita kan hampir setiap bulan berkirim surat kepada keluarga di rumah... Kalau boleh tahu, apa yang kalian tulis kepada istri dan anak kalian? Pasti kalian pernah menceritakan tentang kondisi penjara ini kepada mereka, bukan? Apa yang kalian tulis?”.

“Apa lagi kalau bukan tentang buruknya kondisi di penjara ini!! Tentang makanannya yang tak layak, para sipirnya yang kejam, jahat dan tak berperikemanusiaan! ”. Jawab mereka.

“Nah, itulah bedanya kita!”. Ujar Schmidt.

“Oh ya?”.

“Ya, aku selalu menulis surat kepada keluargaku di paragraf terakhir tentang kondisi penjara yang cukup nyaman. Aku ceritakan pada istriku tentang para sipir yang baik hati dan santun! Tak jarang, aku sebut pula nama-nama para sipir dalam surat itu dan kukisahkan betapa baiknya mereka!”.

“Lantas, apa hubungannya?”. Tanya para napi.

“Itulah yang tidak kalian sadari! Kalian kan tahu bahwa setiap surat yang dikirim dari penjara ini pasti diseleksi terlebih dahulu oleh para sipir, mereka membaca baris demi baris apa yang kalian tulis! Lantas kenapa kalian ceritakan tentang kekejaman mereka yang akan membuat mereka sakit hati? Jadi, mulai sekarang, ubah cara kalian menulis surat!”. Nasihat Schmidt.

“Ooooh.. begitu ya!”. Perangah para napi menandakan berakhirnya pembicaraan malam itu. Sebuah nasihat yang membuka harapan bagi mereka.

Seminggu berikutnya...

Para napi dikejutkan berubahnya sikap dan perlakuan para sipir! Mereka yang selama ini bengis, ternyata bertambah bengis! Kali ini, Schmidt sendiri tak pun luput dari kebengisan mereka. Bahkan, ia lah yang mendapat perlakuan paling kejam di antara para napi!

Setelah beberapa hari berlalu, Schmidt sudah tak tahan lagi. Ia lantas bertanya kepada rekannya sesama napi:

“Hei, apa yang kalian tulis dalam surat kalian sehingga perlakuan para sipir berubah?”.

Beberapa orang napi menjawab:

“Kami menulis: “Di sini ada teman kami sesama napi bernama Schmidt, ia mengajarkan kami bagaimana cara menipu dan membodohi para sipir agar mereka mau memperlakukan kami dengan baik!”. Jawab mereka ringan.

“Astagaaaa!”. Ujar Schmidt sambil menepuk-nepuk dahinya seperti orang gila.
Ia baru menyadari nasihat seorang bijak yang telah diabaikannya: “Menolong orang lain itu memang baik, tapi yang lebih baik adalah selalu menyadari dengan siapa kita sedang bicara!”.

***

"Never underestimate the power of jealousy and the power of envy to destroy. Never underestimate that.” — Oliver Stone

Thursday, June 1, 2017

Sholawat Imam al-Syafi'i

Dinukil oleh Ibn al-Jauzi (w. 597 H) dari Abu Bayyan al-Ashbihani, beliau berkata:

Aku pernah bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw., dan dalam mimpi itu aku bertanya kepada beliau:

“Wahai Rasulullah! Imam Muhammad bin Idris (Imam al-Syafi’i) itu, putra pamanmu, apakah engkau memberi manfaat dan keistimewaan kepadanya?”.

Rasulullah saw. menjawab:

“Iya! Aku telah memohon kepada Allah agar ia tidak dihisab”.
Aku bertanya:

“Kenapa, wahai Rasulullah?”.

“Sebab ia telah bersholawat kepadaku, dengan sholawat yang belum pernah diucapkan oleh siapa pun di dunia ini, yaitu:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كُلَّمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ وَصَلَّ عَلَى مُحَمَّدٍ كُلَّمَا غَفَلَ عَنْهُ الغَافِلُوْنَ

 Ya Allah, limpahkanlah sholawat ke atas nabi Muhammad, setiap kali ada orang yang ingat kepada beliau, dan limpahkanlah sholawat ke atasnya pada setiap kali ada orang yang lalai mengingat beliau”.
***

Ibn al-Jauzi, Shifat al-Shafwah, hlm. 395.

Monday, May 29, 2017

Empat Muhammad Yang Kelaparan di Sudut Kota Kairo

Imam al-Hafizh Abu Bakr Ahmad ibn Ali al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H) meriwayatkan dengan sanadnya dari: Abu al-Abbas al-Bakri (salah seorang keturunan Abu Bakar al-Shiddiq ra), ia berkata:

Di suatu masa, 4 orang penuntut ilmu –yang menjadi ulama besar di bidang tafsir dan hadits di kemudian hari- sedang berada di Mesir dalam waktu bersamaan. Mereka adalah Muhammad ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H, dari Thabaristan), Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaimah (w. 311H, dari Naisabur), Muhammad ibn Nashr al-Marwazi (w. 294 H, dari Naisabur), dan Muhammad ibn Harun al-Ruyani (w. 307 H, dari Thabaristan).

Keempat penuntut ilmu ini jauh-jauh datang dari negeri mereka ke kota Kairo untuk menuntut ilmu dan mendengar hadits dari ulama-ulama besar di negeri tersebut. Karena keterbatasan dana, mereka tinggal bersama di sebuah rumah sewaan.

Syahdan di suatu hari, mereka kehabisan bekal dan uang, sehingga tidak ada makanan sama sekali yang bisa mereka jadikan pengganjal lapar di hari itu. Kondisi ini terus berlanjut hingga beberapa hari, hingga di suatu malam mereka benar-benar ditimpa kelaparan yang hebat.

Setelah bermufakat, keempat penuntut ilmu itu sepakat mengutus salah seorang di antara mereka untuk keluar mencari makanan. Caranya, mereka melakukan undian, siapa yang keluar namanya, dialah yang pergi.

Setelah undian dicabut, keluarlah nama Ibn Khuzaimah. Dengan berat hati, ia pun bersiap-siap  pergi mencari makanan.

Tapi sebelum pergi, Ibn Khuzaimah berkata kepada ketiga sahabatnya:

“Tunggulah sebentar, biarlah aku sholat istikharah dahulu 2 raka’at”.

Ketiga sahabat itu kemudian menyalakan lilin menunggu Ibn Khuzaimah selesai sholat. Syahdan, ketika ia tengah sholat, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.

Setelah dibuka, ternyata seorang kasim (orang kebiri) tengah menunggang keledai berdiri di luar pintu. Orang kasim itu adalah utusan gubernur Mesir.
Setelah mengucapkan salam, orang kasim itu bertanya:

“Siapa di antara kalian yang bernama Muhammad ibn Nashr?”.

“Itu orangnya!”. Jawab rekan-rekannya.

Setelah tahu, orang kasim itu menyerahkan kantung kain berisi uang 50 dinar kepadanya.

Setelah itu, orang kasim itu kembali bertanya:

“Siapa di antara kalian yang bernama Muhamamd ibn Jarir?”.

“Itu orangnya!”. Jawab rekan-rekannya.

Orang kasim itu pun menyerahkan kantung kain berisi uang 50 dinar kepadanya.
Setelah itu, orang kasim itu kembali bertanya:

“Siapa di antara kalian yang bernama Muhammad bin Harun?”.

“Itu orangnya!”. Jawab rekan-rekannya.

Orang kasim itu pun menyerahkan kantung kain yang juga berisi uang 50 dinar kepadanya.

Setelah itu, orang kasim itu kembali bertanya:

“Siapa di antara kalian yang bernama Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah?”.

“Itu orangnya tengah sholat!”. Jawab ketiga rekannya.

Orang kasim itu pun menunggu Ibn Khuzaimah menyelesaikan sholatnya, setelah itu ia pun menyerahkan kepadanya kantung kain yang juga berisi uang 50 dinar.

Keempat sekawan itu heran dan bertanya kepada si orang kasim tentang uang tersebut. Orang kasim itu menjawab:

“Kemarin, gubernur Mesir bermimpi bertemu seseorang, dan orang tersebut berkata kepadanya bahwa ada empat orang Muhammad yang tengah ditimpa kelaparan hebat, dan ia diperintahkan untuk menyelamat mereka. Makanya aku diutus sang gubernur untuk mengirim kantung-kantung uang ini untuk kalian. Dan ia bersumpah, jika uang ini habis, datanglah kepadanya dan ia akan membantu kalian”.
***

Al-Khatib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, Juz. II, hlm. 552. Cet. Dâr al-Gharb al-Islami, Beirut: 2002. Tahqiq: Dr. Basyar Ma’ruf.

Friday, May 26, 2017

Pangir dan Balimau Kasai

"Bu, ini apa?".
"Oh, ini namanya pangir".
"Untuk apa ini? Bumbu masakan?".
"Bukan, ini rempah untuk mandi... biar wangi, kan besok mau puasa".
"Iyakah?".
"Iya, mandi sunat saja!".
"Oh!".
***

Di Kampar, Kuantan, Rokan dan banyak tempat di Minangkabau dikenal tradisi "mandi balimau". Di hari terakhir bulan Sya'ban, yang disebut juga petang megang, masyarakat tumpah ruah mandi dan terjun ke sungai dengan membawa wewangian rempah khas yang diracik dari tumbuhan-tumbuhan beraroma wangi.

Sewaktu kecil (SD), saya dulu masih sering menemani sepupu-sepupu perempuan saya mencari akar kasai (kausar) ke rimba tepi kampung untuk ditumbuk bersama kambolu (embelu) dan daun limau serta tanaman wangi lainnya sehingga menjadi semacam serbuk. Saat balimau tiba, racikan wewangian ini dicampur dengan air dan disiramkan di kepala.

Meski menuai banyak kritik dari sana-sini, namun tradisi ini tetap saja marak dilakukan. Banyak alim ulama yang mengingatkan bahwa tradisi ini merupakan peninggalan pra-Islam yang tidak layak diikuti. Ada pula yang mempersoalkan bercampurbaurnya laki-laki dan perempuan di sungai sehingga membuka peluang maksiat. Bahkan tak jarang tradisi ini memakan korban jiwa karena ada muda-mudi yang hanyut terbawa arus sungai.

Meski saat ini balimau kasai hanya tinggal mandi tanpa rempah limau dan kasai, namun antusias masyarakat mengikuti tradisi tampaknya tak kunjung surut. Beberapa destinasi tempat mandi selalu diserbu pengunjung. Sepanjang sungai Kampar selalu penuh dengan orang mandi, belum lagi yang jauh-jauh mandi ke Danau Koto Panjang, ke Batang Mahat di Pangkalan Kotobaru, hingga ke Harau di Tanjung Pati.

Pangir yang dijual di Pajak Dipo, Kisaran
Ternyata, di Asahan juga ada tradisi mandi balimau. Mereka menyebutnya 'mandi limau'. Hanya saja, masyarakat mandi di rumah masing-masing.

Dua hari menjelang puasa, di pasar banyak dijual rempah-rempah wewangian untuk balimau yang disebut Pangir (sepertinya ini bahasa Jawa). Tak jauh berbeda dengan ramuan kasaiPangir terdiri dari beberapa tumbuhan segar, yaitu: - Mayang Pinang - Daun Pandan - Daun Nilam - Akar Kausar - Daun Jeruk Purut dan - Embelu.

Bedanya lagi, bila limau kasai di Kampar ditumbuk mentah untuk dijadikan bubuk, pangir justru direbus dan airnya dipakai untuk mandi.

Ramuan dalam Pangir
Syak saya, nampaknya tradisi mandi sebelum Ramadhan semacam mandi balimau ini juga banyak dilakukan di tanah Melayu lainnya.

Bahkan, tradisi semacam ini juga terdapat di berbagai negara Islam lainnya. Di Tunisia misalnya, sehari sebelum Ramadhan, masyarakat bepergian ke tempat-tempat pemandian umum (yang mereka namakan sebagai al-'arbi) untuk mandi menyambut Ramadhan. (Baca liputannya tentang ini di  CNN di link ini).

Friday, May 19, 2017

Ya Rasulullah.... Kami Lapar...

Diriwayatkan dari Abu Bakr bin Abi ‘Ali, bahwa Imam al-Hafizh Ibn Al-Muqri al-Ashbihani (w. 381 H) berkata:

Suatu ketika, aku bersama al-Thabrani dan Abu al-Syaikh (Ibn Hayyan) –ketiganya merupakan ulama hadits- berada di kota Madinah al-Munawwarah. Kala itu, kami bertiga kehabisan harta dan makanan, sehingga terpaksalah kami menyambung puasa (wishol) dan tidak berbuka pada senja itu.

Syahdan ketika masuk waktu ‘Isya, aku mendatangi makam Rasulullah Saw., lalu aku berkata:

“Ya Rasulullah, kami sangat lapar!”.

Mendengar itu, al-Thabrani berkata kepadaku:

“Duduklah kemari. Kita serahkan semuanya kepada Allah! Kalau bukan rizki yang datang kepada kita, ya maut lah yang akan menjemput!”.

Usai sholat Isya, aku dan Abu al-Syaikh pulang ke rumah. Setibanya di rumah, tiba-tiba seorang 'Alawi (keturunan Ali bin Abi Thalib) mendatangi pintu rumah kami bersama 2 orang pembantunya yang membawa nampan berisi makanan yang amat banyak. Si 'Alawi itu kemudian (menyerahkan makanan) kepada kami dan berkata:

“Kalian sudah mengadukan saya kepada Rasulullah Saw! Sehingga aku baru saja bermimpi bertemua dengan Beliau saw., dan beliau menyuruh kami membawa makanan ke rumah kalian”.

***

Dari kitab: Tadzkirah al-Huffâzh, karangan Imam Syamsuddin al-Dzahabi, Juz. III, hlm. 121-122

Tuesday, November 15, 2016

Walau Tersarung, Pedang Matamu Tetap Melukai...

Syahdan, adalah Idris Al-Jamaa' (1922-1980), seorang pujangga dan penyair Sudan, di hari-hari terakhir dalam hidupnya menderita gangguan mental hingga akhirnya ia harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Tapi rupanya, fasilitas di rumah sakit Sudan dirasa kurang memadai, sehingga keluarga memutuskan untuk membawanya berobat ke luar negeri.

Singkat cerita, keberangkatan Idris pun disiapkan.

Di bandara, Idris sang pujangga melihat seorang wanita cantik bersama suaminya. Dengan tatapan yang dalam, ia melayangkan pandangan ke arah wanita tersebut. Melihat hal itu, suami wanita tersebut terlihat risih dan berusaha menghalangi tatapan sang pujangga.

Melihat tingkah suami wanita tersebut, Idris pun mengatakan:

أعَلى ﺍﻟﺠﻤﺎﻝ ﺗﻐﺎﺭُ ﻣِﻨّﺎ   *** ﻣﺎﺫﺍ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺇﺫْ ﻧﻈﺮﻧﺎ
ﻫﻲَ ﻧﻈﺮﺓٌ ﺗُﻨﺴِﻲ ﺍﻟﻮَﻗﺎﺭَ   ***   ﻭﺗُﺴﻌِﺪ ﺍﻟﺮّﻭﺡَ ﺍﻟﻤُﻌنَّى
ﺩﻧﻴﺎﻱ ﺃﻧتِ ﻭﻓﺮﺣﺘﻲ  ***  ﻭﻣُنَى ﺍﻟﻔﺆﺍﺩِ ﺇﺫﺍ ﺗَﻤنَّى
ﺃﻧتِ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀُ ﺑَﺪَﺕ ﻟﻨﺎ   ***   ﻭاﺳﺘﻌﺼﻤﺖ ﺑﺎﻟﺒُﻌﺪِ ﻋنَّا

Duhai, apakah ada cemburu karena keindahan
Apa salahnya jika hanya sekedar tatapan
Selayang pandang menaruhkan wibawa
Tapi cukup membuat hati bahagia
Keindahan, engkaulah duniaku dan sukacitaku
Engkaulah obat penawar kalbu
Engkaulah langit yang pancarkan keindahan
Tapi engkau jauhkan diri dari jangkauan

Orang-orang di bandara begitu kagum atas untaian syair yang spontan itu, gubahan itu tersebar begitu cepat.

Hingga kemudian sampai ke telinga Abbas Mahmud al-'Aqqad, sang pujangga Mesir kenamaan.

Abbas bertanya kepada kawan-kawannya:

"Siapa yang menggubah syair seperti itu?".

Rekan-rekannya menjawab:

"Idris al-Jamma', pujangga dari Sudan. Saat ini ia sedang sakit jiwa dan dirawat di rumah sakit".

Mendengar itu, 'Abbas al-'Aqqad berkomentar:

"Wajarlah seindah itu... kata-kata seperti itu tak mungkin mampu digubah oleh orang yang waras...!!!".

***

Idris pun dibawa ke London untuk berobat. Di rumah sakit London, ia dirawat oleh seorang suster.

Lagi-lagi Idris berulah. Ia begitu kagum dengan keindahan mata sang perawat, ia terus memandang sehingga wanita itu menjadi kikuk. Perawat itu pun mengadu ke kepala rumah sakit.

Sang kepala rumah sakit menyarankan agar si perawan memakai kacamata hitam agar pasien tidak bisa menatap matanya.

Saran pun diikuti. Keesokan hari, sang perawat datang dengan kaca mata hitam. Melihat itu, Idris mengatakan:

وﺍﻟﺴﻴﻒ ﻓﻲ الغمدِ ﻻ ﺗُﺨشَى مضاربُه *** ﻭ ﺳﻴﻒُ ﻋﻴﻨﻴﻚِ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺎﻟﻴﻦ ﺑﺘّﺎﺭُ

Jika pedang yang tersarung, siapa takut akan hunusnya
Tapi pedang matamu, tertutup atau tidak, sama melukainya

Karena tidak faham bahasa Arab, sang perawat bertanya kepada keluarga pasien dan ia pun diberitahu terjemahan syair tersebut. 

Ketika ia diberitahu makna rangkaian syair tersebut, sang perawat itu pun menitikkan air mata penuh kekaguman.

Hingga hari ini, syair-syair Idris dinobatkan sebagai salah satu ghazal (syair cinta) terindah di era modern. 

Selain ghazal, syair Idris juga dikenal Ia lah yang terkenal dengan corak melankolis yang menyayat perasaan. Ia lah yang terkenal dengan gubahannya:

إن حظي كدٓقيقٍ فوقٓ شوكٍ نثروه  ***   ثم قالوا لِحُفاةٍ يومَ ريحٍ اجمعوه
عَظِم الأمرُ عليهم ثم قالوا اتركوه   ***   أن من أشقاهُ ربي كيف أنتم تُسعدوه
Nasibku bagaikan tepung, yang mereka tebar di atas duri
Lalu mereka berujar kepada si miskin papa: kumpulkannya gandum yang berserakan di tengah duri itu.
Mereka tak kuasa, lalu berkata: ya sudah, biarkan saja. 
Orang yang ditakdirkan sengsara, bagaimana ia bisa dibuat bahagia?

Mental Terung

Suatu ketika, Gubernur Al-Shihabi berkata kepada seorang pelayannya: "Hari ini, saya ingin sekali makan terong..." "Ah...