Saturday, July 16, 2016

Asam Pode Umbut Pisang Kawuok, Kuliner 'Tuok Aghi' Zaman Berladang...

Pulang lebaran kali ini (1437 H), saya beruntung bisa mencicipi salah satu kuliner langka yang mungkin amat sangat sulit lagi dijumpai di dapur-dapur masyarakat Kampar.

Ya, ini dia ‘asam pode umbuik pisang kawuok’ (asam pedas umbut pisang kawuok). Kuliner ini termasuk kategori kategori masakan ‘tuok aghi’ (kuno). Kata orang-orang tua, dulunya masakan ini biasa dibuat ketika orang berladang.

Dari namanya, sudah pasti masakan ini terbuat dari pisang. Masyarakat Kampar memang banyak memanfaatkan pisang sebagai lauk teman makan nasi, khususnya yang muda. Misalnya saja pisang lidi muda yang sering dibuat gulai atau pongek yang direncah dengan ikan pantau. Bahkan, pisang lidi sepertinya sengaja ditanam untuk itu, untuk diambil ketika muda mentah atau diambil jantungnya, karena rasa pisang lidi ketika sudah masak tidak begitu manis dan lezat, tidak seperti saudaranya ‘pisang jari buaya’ atau ‘pisang rotan’ yang memiliki bentuk hampir sama. Selain itu, orang menanam pisang lidi untuk dimanfaatkan daunnya sebagai pembungkus, sebab daun pisang lidi terkenal kuat dan tidak mudah sobek seperti daun pisang lain.

Nah, khusus pisang kawuok, lain lagi ceritanya. Pisang kawuok (saya tidak tahu nama lainnya dalam bahasa Indonesia) adalah sejenis pisang liar yang banyak tumbuh di daratan Sumatera. Sebagian masyarakat menganggapnya sebagai hama. Pisang kawuok bisa tumbuh tanpa ditanam. Ketika masyarakat selesai membakar hutan untuk ditanam padi, pisang kawuok biasanya tumbuh sendiri entah dari mana, sama seperti halnya ‘kambe’ (paria) atau ‘lopang’ yang juga sering tumbuh sendiri sehabis  membakar hutan.

Orang Melayu Riau umumnya gemar memakan umbut dan memasaknya sebagai lauk, salah satu yang paling populer adalah umbut kelapa yang rasanya sangat manis. Umbut kelapa bisa dimakan mentah-mentah atau dimasak lemak (gulai). Biasanya, orang di kampung akan menebang kelapa untuk diambil umbutnya ketika ada kenduri kawin, sedang daunnya dimanfaatkan untuk janur. Zaman sekarang, karena pokok kelapa sangat bernilai ekonomis, masyarakat mulai menggantinya dengan umbut kelapa sawit yang rasanya juga tidak kalah lezat.

Kembali ke cerita pisang kawuok, di pinggir-pinggi jalan raya, pisang kawuok juga mudah ditemukan, begitupun di pinggir sungai, di tempi kebun karet dan lain sebagainya.

Buah pisang kawuok tidak bisa dimakan, karena bijinya sangat banyak, mungkin 90% isi buahnya adalah biji. Barangkali, inilah yang menyebabkan pisang kawuok tumbuh di mana-mana secara liar, karena begitu pisang ini masak, buahnya akan dimakan monyet atau burung dam akhirnya bijinya tersebar ke mana-mana melalui tinja hewan tersebut.

Yang biasa dimanfaatkan dari pisang kawuok adalah bagian daun (sebagai pembungkus makanan), jantung, dan umbutnya. Jantung dan umbut pisang kawuok dipercaya ampuh untuk mengobati sakit maag akut. Saya pernah mendengar pengalaman beberapa orang yang sembuh dari sakit maag setelah rutin mengkonsumsi jantung pisang kawuok, bisa dilalap, direbus, atau dipupuk (diletakkan dalam abu panas/di bawah api).

Nah, sedangkan umbutnya biasa direbus atau dimasak asam pedas. Berikut prosesnya.

rumpun pisang kawuok, tumbuh liar di pekarangan
Cari pisang kawuok di tempat yang ada. Karena pisang ini tumbuh liar, umumnya tidak ada orang yang mengaku memiliki pisang ini, tidak seperti pisang barangan atau pisang raja yang mahal, hehehe.  Tapi sebagian masyarkat juga memelihara pisang ini untuk keperluan tertentu.

Ada beberapa jenis pisang kawuok: ada yang berkulit merah dan ada yang berkulit putih. Yang paling enak dimasak asam pedas adalah yang berkulit putih.

Untuk dimasak umbutnya, pilih pisang kawuok yang masih muda yang belum berjantung. Sebab, kalau sudah berjantung, umbutnya sudah tidak ada. Terkadang, akan ditemukan jantungnya di dalam pokok pisang (layaknya janin), kalau sudah begitu cari pohon yang lebih muda.

Setelah di dapat, tebang pada bagian paling bawah, tepat di dekat rumpun, karena bagian inilah yang paling enak.

mengambil umbut pisang kawuok
Setelah itu, kupas kulit luar pisang kawuok sehingga tersisa bagian dalam beberapa lapis yang berwarna  putih, inilah yang disebut umbut pisang kawuok.

umbut pisang kawuok, setelah kulit luar dibuang
Potong-potong umbut dan cuci dengan air. Perhatikan agar getahnya tidak mengenai pakaian, karena susah dihilangkan.

umbut pisang kawuok setelah dipotong-potong
 Setelah diporong, pisang kawuok siap dimasak asam pedas. Kuliner asam pedas Kampar biasanya menggunakan terong asam atau juga belimbing asam sebagai perencah.

umbut pisang kawuok dimasak asam pedas

Thursday, June 23, 2016

Dibandingkan Mereka, Kita Ini Baru Selevel Pencuri...!

Rabi' bin Khaitsam rahimahullah, seorang tabi'in yang amat wara', murid daripada Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Kesalehannya diakui orang-orang di masa itu, sampai-sampai Ibnu Mas'ud r.a sendiri pernah berkata kepadanya:

"Sungguh, andai Rasulullah Saw masih hidup dan melihatmu, tentu dia amat mencintaimu!".

Syahdan suatu ketika, Rabi' menderita sakit yang amat parah, sehingga ia tak mampu berjalan ke mana-mana dan hanya bisa berdiam di atas kasur.

Saat itu, datanglah Hilal bin Isaf dan Mudzir bin Ya'la Ats-Tsauri membesuk beliau. Sebelum berangkat ke sana, Mundzir betanya kepada Hilal:

"Menurutmu, apa sebaiknya kita mengawali pembicaaran telebih dahulu kepada Syaikh Rabi', atau kita diam saja dan mendengar beliau berbicara?".

Hilal menjawab:

"Apa kamu belum tahu? Kalau kita duduk bersama Rabi' bin Khaitsam selama satu tahun lamanya, sungguh ia takkan memulai pembicaraan denganmu sebelum engkau membuka percakapan dengannya! Dia takkan berbicara denganmu sebelum engkau bertanya kepadanya! Sungguh, bicara baginya adalah zikir, dan diamnya adalah fikir!".

Mundzir berkata: "Baiklah.. mari kita berangkat".

Dua sahabat itu pun berangkat dan sampai di rumah Rabi' tak berapa lama. Waktu itu hari masih pagi. Dua sahabat itu membuka pembicaraan:

"Wahai Syaikh, Bagaiman kabar tuan pagi ini?".

Rabi' menjawab:

"Semakin hari, aku semakin lemah dan penuh dosa, rizki yang ada aku makan, seraya menungguh datangnya ajal kematian".

Hilal lalu berkata:

"Kami dengar, ada seorang dokter hebat datang ke kota Kufah ini beberapa waktu lalu. Bagaimana kalau kami jemput dia untuk mengobati Tuan?".

"Duhai Hilal, sungguh aku mengerti bahwa berobat itu haq. Tapi, aku telah merenungi apa yang menimpa kaum 'Aad, Tsamud, Ashabur Rass.,dan kaum-kaum Nabi terdahulu.... sungguh, mereka amat ambisius mengejar dunia, mengmpulkanb kekayaan, mereka lebih kuat dari kita, lebih berkemampuan... Mereka juga memiliki dokter dan tabib-tabib yang hebat... Tapi, baik yang berobat maupun yang diobati, semuanya binasa jua akhirnya....". Jawab Rabi'.

Kemudian ia mendesah nafas dalam-dalam... dan berkata:

"Sungguh, jika desahan ini pun penyakit, tentu kita akan berusaha mengobatinya...".

"Syaikh, jadi apakah yang sebenar-benarnya penyakit di dunia ini?". Tanya Mundzir.

"Dosa... itulah penyakit yang sesungguhnya!". Jawab Rabi'.

"Lantas, apa yang sebenar-benarnya obat?". Tanya Mundzir.

"Istighfar...". Jawab Rabi'.

"Lalu, apa yang sebenar-benar kesembuhan?".

"Engkau bertobat, lalu tidak mengulangi dosa".

Kamudian Rabi' menatap dua bersahabat itu dan berkata:

"Waspadalah kalian terhadap dosa-dosa yang tersembunyi dan rahasia...yang tak tampak oleh mata manusia, tapi amat jelas di mata Allah Swt.... bersungguh-sungguhlah mencari obatnya...!".

"Apakah obatnya, duhai Syaikh?".

"Taubat nasuha...itulah yang sebenar-benar obat...".

Kemudian Rabi' menangis  hingga air mata membasahi janggutnya. Melihat hal itu, Mundzir dan Hilal bertanya:

"Wahai Syaikh, orang sesaleh Tuan pun menangis juga?".

Rabi' menjawab:

"Apa? Mengapa aku tidak patut menangis? Sungguh, aku telah bergaul dengan banyak manusia yang mulia (maksudnya adapa para sahabat Rasulullah Saw) , jika dibandingkan kita dengan mereka, maka kita ini tak ubahnya baru selevel dengan para pencuri!".

Hilal dan Mundzir pun saling bertatap-tatapan.

* * *

Lantas, jika dibandingkan dengan kita... siapalah kita ini...?

Friday, June 17, 2016

Kegelisahan Batin Sang Penulis...

Pada bagian persembahan dalam kitab Ta'lil al-Ahkam fî al-Syari'ah al-Islamiyyah (cetakan Dar al-Basyir, Thantha, 2000), sang penulis, Adil al-Syuwaikh menukil suatu petikan ringkas dari perkataan Imad al-Ashfihani, sebagai berikut:

Maknanya kira-kira sebagai berikut:
"Dari pengamatanku, tidaklah seseorang menulis buku pada hari ini, kecuali ia akan berkata pada esok harinya: "kalau aku tidak menulis kalimat begini, tentu buku ini akan lebih baik", atau " kalau ditambah sedikit kata-kata ini, tentu akan lebih mantap", atau: "andai bagian ini didahulukan, tentu akan lebih bagus", atau: "andai kata ini tidak ditulis, tentu akan lebih indah".... Sungguh, ini adalah ibroh yang amat berharga, yang membuktikan betapa lemahnya manusia".

Imaduddin al-Ashfihani (519H-597H), yang memiliki nama asli Muhammad bin Shafiyyuddin bin Nafisuddin al-Ashfihani, adala seorang sejarawan, hakim, menteri. pujangga dan juga ulama yang hidup di masa Dinasti Daulah Nuriyyah dan Ayyubiyyah. Beliau merupakan orang dekat dengan dua tokoh Islam kenamaan, yaitu Sholahuddin al-Ayyubi dan Nuruddin Zanki. Beliau lagi di Ashfihan (Iran) tahun 519 H dan wafat di Damaskus pada tanggal 13 Ramadhan 597 H).

Semasa remaja, sekira beusia 20 tahun, beliau meninggalkan kampung halaman dan pergi ke Baghdad untuk belajar di Madrasah Nizhamiyyah. lembaga pendidikan yang didirikan oleh Nizham al-Malik dari dinasti Abbasiyah yang amat terkenal saaat itu. Bagaimana tidak, ulama sekaliber Imam Ghazali pun terlahir dari sana.

Dari lembaga itu, beliau mendapat prestasi yang gemilang, reputasinya amat baik, hingga menjadi ulama yang terbilang. Ibnu Khalkan dalam Wafiyyat al-A'yan mengatakan:

"Imad al-Ashfihani adalah seorang faqih bermazhab Syafi'i, ia belajar di Madrasah Nizhamiyyah cukup lama, ia ahli dalam bidang khilafiyah dan juga sastra, ia mahir menggubah syair dan menulis risalah". (Wafiyyat al-A'yan, Juz. V, hlm. 147-148)

Beliau juga seorang perawi hadits, diakui oleh Imam al-Dzhabi dalam Siyar A'lam al-Nubala. Ibnu al-Najjar -sebagaimana dikutip oleh Imam al-Subki dalam Thabaqât al-Syafi'iyyah- mengatakan:

"Imad al-Ashfihani adalah seorang ulama yang mutqin (pakar) di bidang hadits, khilafiyyah, nahwu, ilmu bahasa, dan seorang yang menguasai sejarah manusia... beliau adalah ilmuan terbaik sepanjang masa, tidak ada yang menandingi beliau di masanya"  (Thabaqat al-Syafi'iyyah al-Kubra, Juz. VI, hlm. 179-180)

Pada tahun 562 H /1166 M, atas rekomendasi dari Hakim Damaskus, Kamaluddin al-Syahruzi, Imad diangkat oleh Nuruddin Zanki, penguasa Damaskus waktu itu, sebagai pemimpin Madrasah Nuriyyah di Damaskus. Namun ketika Zanki wafat pada tahun 1173 M, Imad dicopot dan ia kemudian pindah ke Mosul.

Namun ketika Sholahuddin al-Ayyubi memimpin daulah Ayyubiyah, ia kembali ke Damaskus dan diangkat menjadi sekretaris negara. Tidak hanya itu, beliau juga selalu menemani Sholahuddin di medan jihad.

Beliau berkawan baik dengan para ulama, di antaranya adalah al-Qadhi al-Fadhil Abdur Rahim al-Bisani, hakim daulah Ayyubiyyah yang tinggal di Kairo,yang dikenal sebagai Ustadz al-Ulama al-Bulagha', keduanya sering mengunjungi dan berkirim surat.

(NB. Dalam Kasyf al-Zhunun, Haji Khalifah menyatakan bahwa kata-kata nukilan di atas merupakan perkataan al-Qadhi al-Fadhil yang merupakan bagian permintaan maafnya kepada Imad al-Ashfihani. Penisbatan ungkapan ini kepada Imad al-Ashfihani merupakan suatu kekeliruan. Hal ini dikuatkan juga dalam kitab Syarh Ihya' Ulumiddin karangan al-Zubaidi. Jadi penisbatan ungkapan ini kepada Imad al-Ashfihani merupakan suatu kekeliruan. Ungkapan ini awalnya tidak begitu populer, namun setelah pujangga Mesir, Ahmad Farid al-Rifa'i mencantumkannya dalam cetakan kitab Mu'jam al-Udaba' karya Yaqut al-Hamawi, mulailah ungkapan ini populer di kalangan pujangga Arab kontemporer dan dinisbatkan kepada Imad al-Ashfihani).

Teramat panjang untuk menuliskan riwayat hidup beliau. Namun, di akhir hayatnya, ketika Sholahuddin al-Ayyubi wafat, anak-anak Sholahuddin tidak memperlakukan beliau sebagaimana perlakuan ayah mereka dulu, hingga Imad memilih tinggal di rumahnya untuk menulis, hingga wafat di tahun 597 H (1201 M).

Di luar riwayat hidup yang gemilang itu....
Imad benar... menulis adalah perjuangan batin... menggoreskan pena adalah penumpahan rasa, yang mengalirkan buah fikiran dan apa yang tersimpan di dalam minda. Lazimnya manusia, apa yang terasa benar tempo hari, terasa salahnya di kemudian hari. Di situ sang penulis baru tersadar, betapa tulisanya tak lebih dari permainan fikiran. Semua penulis akan merasakan hal ini...

Monday, May 30, 2016

Petuah Imam Ahmad bin Hanbal r.a, Agar Wanita Hamil Melahirkan Dengan Mudah

Menunggu saat-saat istri melahirkan adalah momen penuh kebahagiaan, yang sekaligus bercampur aduk dengan harap dan cemas.

Dalam Kitab Thibbun Nabawi, Imam Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah memberikan suatu resep kepada mereka yang tengah menunggu kelahiran buah hati.

Resep berupa amalan ruqyah ini merupakan petuah dari Imam Ahmad bin Hanbal r.a, dan sangat mudah dilakukan,

Kitab Thibbun Nabawi pada awalnya merupakan suatu bab dari kitab Zaadul Ma'ad fi Hadyi Khairul Ibad, bab ini mengulas khusus tentang perkara pengobatan dan sunnah-sunnah seputar kesehatan ala Rasulullah Saw. Namun karena begitu populernya bab kesehatan ini sehingga para ulama sering mengulasnya secara tersendiri.

Adapun bab tentang amalan agar mudah melahirkan ini ditulis khusus dalam bagian 'Kitab li 'usr al-wiladah'.

Berikut petikannya:

(Kitab tentang kesulitan melahirkan). al-Khallal berkata: Aku diberitahu oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, ia berkata:

Aku melihat ayahku menulis sesuatu untuk perempuan yang susah melahirkan, tulisan tersebut ditulis di atas lembaran putih, atau sesuatu yang bersih, pada lembaran tersebut beliu tuliskan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu 'Abbas r.a, yaitu (berupa zikir) berikut:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ: كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا ساعَةً مِنْ نَهارٍ بَلاغٌ ، كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَها لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحاها

Al-Khallal juga meriwayatkan:
Kami diberitahu oleh Abu Bakar al-Marwazi: Sesungguhnya Abu Abdillah (Ahmad bin Hanbal) didatangi oleh seorang pria dan bertanya:

"Wahai Abu Abdillah, benarkan engkau menuliskan sesuatu untuk wanita yang susah melahirkan 2 hari yang lalu? (Bagaimana caranya?)".

Imam Ahmad menjawab:
"katakan padanya, untuk menuliskan pada lembaran putih dan air za'faran (kalimat di atas)".

Al-Marwazi berkata: dan aku melihat beliau menuliskan hal tersebut untuk beberapa orang.

Diriwayatkan pula dari Ikrimah r.a dari Ibnu 'Abbas r.a:

"Suatu ketika, Nabi Isa a.s berjalan melewati seekor sapi betina yang janinnya meronta-ronta di dalam perutnya (sehingga ia kesakitan), lalu sapi itu berkata:

Wahai Kalimatullah (sebutan Nabi Isa a.s), berdoalah kepada Allah Swt agar Ia menyelamatkanku dari apa yang aku alami ini".

Lalu Nabi Isa a,s mengucapkan:

يَا خَالِقَ النَّفْسِ مِنَ النَّفْسِ، وَيَا مُخَلِّصَ النَّفْسِ مِنَ النَّفْسِ، وَيَا مُخْرِجَ النَّفْسِ مِنَ النَّفْسِ، خَلِّصْهَا

Setelah itu, sapi itu pun melahirkan anaknya. dan anak sapi itu langsung berdiri dan dicium oleh induknya.

Ikrimah berkata: maka apabila ada seorang wanita yang susah/payah melahirkan, maka tuliskanlah doa di atas untuknya.

Semua petuah di atas merupakan bentuk ruqyah syar'iyyah dan insya Allah manjur.

Sebagian ulama salaf menyatakan bolehnya menuliskan ayat-ayat al-Qur'an (pada wadah) lalu meminumnya, dan hal tersebut merupakan jenis pengobatan yang diberikan Allah Swt.

Ada juga tulisan lain yang boleh diamalkan, yaitu menuliskan ayat berikut pada bejana yang bersih:

إِذَا السَّماءُ انْشَقَّتْ وَأَذِنَتْ لِرَبِّها وَحُقَّتْ، وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ وَأَلْقَتْ ما فِيها وَتَخَلَّتْ

Lalu bejana tersebut diisi dengan air, lalu airnya diminumkan kepada wanita hamil, dan dipercikkan juga ke perutnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menempelkan sesuuatu lembaran pada keningnya, dan pada lembaran tersebut tertulis ayat:

وَقِيلَ يا أَرْضُ ابْلَعِي ماءَكِ، وَيا سَماءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْماءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ

Dan aku (Ibnul Qayyim) mendengar beliau berkata: "Aku menuliskan ayat serupa untuk beberapa orang, dan mereka sembuh".

(Thibbun Nabawi, terbitan Darul Fikr, hlm. 277-278)