Monday, May 29, 2017

Empat Muhammad Yang Kelaparan di Sudut Kota Kairo

Imam al-Hafizh Abu Bakr Ahmad ibn Ali al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H) meriwayatkan dengan sanadnya dari: Abu al-Abbas al-Bakri (salah seorang keturunan Abu Bakar al-Shiddiq ra), ia berkata:

Di suatu masa, 4 orang penuntut ilmu –yang menjadi ulama besar di bidang tafsir dan hadits di kemudian hari- sedang berada di Mesir dalam waktu bersamaan. Mereka adalah Muhammad ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H, dari Thabaristan), Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaimah (w. 311H, dari Naisabur), Muhammad ibn Nashr al-Marwazi (w. 294 H, dari Naisabur), dan Muhammad ibn Harun al-Ruyani (w. 307 H, dari Thabaristan).

Keempat penuntut ilmu ini jauh-jauh datang dari negeri mereka ke kota Kairo untuk menuntut ilmu dan mendengar hadits dari ulama-ulama besar di negeri tersebut. Karena keterbatasan dana, mereka tinggal bersama di sebuah rumah sewaan.

Syahdan di suatu hari, mereka kehabisan bekal dan uang, sehingga tidak ada makanan sama sekali yang bisa mereka jadikan pengganjal lapar di hari itu. Kondisi ini terus berlanjut hingga beberapa hari, hingga di suatu malam mereka benar-benar ditimpa kelaparan yang hebat.

Setelah bermufakat, keempat penuntut ilmu itu sepakat mengutus salah seorang di antara mereka untuk keluar mencari makanan. Caranya, mereka melakukan undian, siapa yang keluar namanya, dialah yang pergi.

Setelah undian dicabut, keluarlah nama Ibn Khuzaimah. Dengan berat hati, ia pun bersiap-siap  pergi mencari makanan.

Tapi sebelum pergi, Ibn Khuzaimah berkata kepada ketiga sahabatnya:

“Tunggulah sebentar, biarlah aku sholat istikharah dahulu 2 raka’at”.

Ketiga sahabat itu kemudian menyalakan lilin menunggu Ibn Khuzaimah selesai sholat. Syahdan, ketika ia tengah sholat, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.

Setelah dibuka, ternyata seorang kasim (orang kebiri) tengah menunggang keledai berdiri di luar pintu. Orang kasim itu adalah utusan gubernur Mesir.
Setelah mengucapkan salam, orang kasim itu bertanya:

“Siapa di antara kalian yang bernama Muhammad ibn Nashr?”.

“Itu orangnya!”. Jawab rekan-rekannya.

Setelah tahu, orang kasim itu menyerahkan kantung kain berisi uang 50 dinar kepadanya.

Setelah itu, orang kasim itu kembali bertanya:

“Siapa di antara kalian yang bernama Muhamamd ibn Jarir?”.

“Itu orangnya!”. Jawab rekan-rekannya.

Orang kasim itu pun menyerahkan kantung kain berisi uang 50 dinar kepadanya.
Setelah itu, orang kasim itu kembali bertanya:

“Siapa di antara kalian yang bernama Muhammad bin Harun?”.

“Itu orangnya!”. Jawab rekan-rekannya.

Orang kasim itu pun menyerahkan kantung kain yang juga berisi uang 50 dinar kepadanya.

Setelah itu, orang kasim itu kembali bertanya:

“Siapa di antara kalian yang bernama Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah?”.

“Itu orangnya tengah sholat!”. Jawab ketiga rekannya.

Orang kasim itu pun menunggu Ibn Khuzaimah menyelesaikan sholatnya, setelah itu ia pun menyerahkan kepadanya kantung kain yang juga berisi uang 50 dinar.

Keempat sekawan itu heran dan bertanya kepada si orang kasim tentang uang tersebut. Orang kasim itu menjawab:

“Kemarin, gubernur Mesir bermimpi bertemu seseorang, dan orang tersebut berkata kepadanya bahwa ada empat orang Muhammad yang tengah ditimpa kelaparan hebat, dan ia diperintahkan untuk menyelamat mereka. Makanya aku diutus sang gubernur untuk mengirim kantung-kantung uang ini untuk kalian. Dan ia bersumpah, jika uang ini habis, datanglah kepadanya dan ia akan membantu kalian”.
***

Al-Khatib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, Juz. II, hlm. 552. Cet. Dâr al-Gharb al-Islami, Beirut: 2002. Tahqiq: Dr. Basyar Ma’ruf.

Friday, May 26, 2017

Pangir dan Balimau Kasai

"Bu, ini apa?".
"Oh, ini namanya pangir".
"Untuk apa ini? Bumbu masakan?".
"Bukan, ini rempah untuk mandi... biar wangi, kan besok mau puasa".
"Iyakah?".
"Iya, mandi sunat saja!".
"Oh!".
***

Di Kampar, Kuantan, Rokan dan banyak tempat di Minangkabau dikenal tradisi "mandi balimau". Di hari terakhir bulan Sya'ban, yang disebut juga petang megang, masyarakat tumpah ruah mandi dan terjun ke sungai dengan membawa wewangian rempah khas yang diracik dari tumbuhan-tumbuhan beraroma wangi.

Sewaktu kecil (SD), saya dulu masih sering menemani sepupu-sepupu perempuan saya mencari akar kasai (kausar) ke rimba tepi kampung untuk ditumbuk bersama kambolu (embelu) dan daun limau serta tanaman wangi lainnya sehingga menjadi semacam serbuk. Saat balimau tiba, racikan wewangian ini dicampur dengan air dan disiramkan di kepala.

Meski menuai banyak kritik dari sana-sini, namun tradisi ini tetap saja marak dilakukan. Banyak alim ulama yang mengingatkan bahwa tradisi ini merupakan peninggalan pra-Islam yang tidak layak diikuti. Ada pula yang mempersoalkan bercampurbaurnya laki-laki dan perempuan di sungai sehingga membuka peluang maksiat. Bahkan tak jarang tradisi ini memakan korban jiwa karena ada muda-mudi yang hanyut terbawa arus sungai.

Meski saat ini balimau kasai hanya tinggal mandi tanpa rempah limau dan kasai, namun antusias masyarakat mengikuti tradisi tampaknya tak kunjung surut. Beberapa destinasi tempat mandi selalu diserbu pengunjung. Sepanjang sungai Kampar selalu penuh dengan orang mandi, belum lagi yang jauh-jauh mandi ke Danau Koto Panjang, ke Batang Mahat di Pangkalan Kotobaru, hingga ke Harau di Tanjung Pati.

Pangir yang dijual di Pajak Dipo, Kisaran
Ternyata, di Asahan juga ada tradisi mandi balimau. Mereka menyebutnya 'mandi limau'. Hanya saja, masyarakat mandi di rumah masing-masing.

Dua hari menjelang puasa, di pasar banyak dijual rempah-rempah wewangian untuk balimau yang disebut Pangir (sepertinya ini bahasa Jawa). Tak jauh berbeda dengan ramuan kasaiPangir terdiri dari beberapa tumbuhan segar, yaitu: - Mayang Pinang - Daun Pandan - Daun Nilam - Akar Kausar - Daun Jeruk Purut dan - Embelu.

Bedanya lagi, bila limau kasai di Kampar ditumbuk mentah untuk dijadikan bubuk, pangir justru direbus dan airnya dipakai untuk mandi.

Ramuan dalam Pangir
Syak saya, nampaknya tradisi mandi sebelum Ramadhan semacam mandi balimau ini juga banyak dilakukan di tanah Melayu lainnya.

Bahkan, tradisi semacam ini juga terdapat di berbagai negara Islam lainnya. Di Tunisia misalnya, sehari sebelum Ramadhan, masyarakat bepergian ke tempat-tempat pemandian umum (yang mereka namakan sebagai al-'arbi) untuk mandi menyambut Ramadhan. (Baca liputannya tentang ini di  CNN di link ini).

Friday, May 19, 2017

Ya Rasulullah.... Kami Lapar...

Diriwayatkan dari Abu Bakr bin Abi ‘Ali, bahwa Imam al-Hafizh Ibn Al-Muqri al-Ashbihani (w. 381 H) berkata:

Suatu ketika, aku bersama al-Thabrani dan Abu al-Syaikh (Ibn Hayyan) –ketiganya merupakan ulama hadits- berada di kota Madinah al-Munawwarah. Kala itu, kami bertiga kehabisan harta dan makanan, sehingga terpaksalah kami menyambung puasa (wishol) dan tidak berbuka pada senja itu.

Syahdan ketika masuk waktu ‘Isya, aku mendatangi makam Rasulullah Saw., lalu aku berkata:

“Ya Rasulullah, kami sangat lapar!”.

Mendengar itu, al-Thabrani berkata kepadaku:

“Duduklah kemari. Kita serahkan semuanya kepada Allah! Kalau bukan rizki yang datang kepada kita, ya maut lah yang akan menjemput!”.

Usai sholat Isya, aku dan Abu al-Syaikh pulang ke rumah. Setibanya di rumah, tiba-tiba seorang 'Alawi (keturunan Ali bin Abi Thalib) mendatangi pintu rumah kami bersama 2 orang pembantunya yang membawa nampan berisi makanan yang amat banyak. Si 'Alawi itu kemudian (menyerahkan makanan) kepada kami dan berkata:

“Kalian sudah mengadukan saya kepada Rasulullah Saw! Sehingga aku baru saja bermimpi bertemua dengan Beliau saw., dan beliau menyuruh kami membawa makanan ke rumah kalian”.

***

Dari kitab: Tadzkirah al-Huffâzh, karangan Imam Syamsuddin al-Dzahabi, Juz. III, hlm. 121-122

Mental Terung

Suatu ketika, Gubernur Al-Shihabi berkata kepada seorang pelayannya: "Hari ini, saya ingin sekali makan terong..." "Ah...