Thursday, July 30, 2015

Sayyid Quthb: Hati Yang Akan Tercurahi Hidayah Al-Qur'an

Dalam Fi Zhilal al-Qur'an,  Sayyid Quthb menulis:
***

Setiap orang yang hendak menggapai hidayah dari al-Qur'an,  hendaklah ia datang kepada al-Qur'an itu dengan hati yang suci dan bersih.

Hendaklah ia datang kepada al-Qur'an itu dengan hati yang penuh cemas dan takut.  (Mengapa?) Takut kalau-kalau terjerumus dan dilenakan  dalam kesesatan.

Hanya pada saat itulah,  maka al-Qur'an akan membukakan tabir rahasianya, menyingkap nur cahayanya... Semua itu akan dicurahkan al-Qur'an ke dalam hati orang-orang yang datang kepadanya...  Yaitu hati yang penuh takut,  cemas, perasa dan siap sedia menerimanya...


Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu'anhu bertanya kepada Ubay bin Ka'ab radhiyallahu'anhu tentang perihal taqwa,  maka Ubay r.a balik bertanya kepada Umar r.a:

"Wahai Umar,  pernahkah engkau berjalan di jalanan yang penuh onak duri?".

"Iya,  pernah".  Jawab Umar r.a.

"Lantas apa yang engkau lakukan?". Tanya Ubay r.a kembali.

Umar r.a menjawab:

"Aku akan berhati-hati dan bersungguh-sungguh".

Ubay bin Ka'ab r.a berkata:

"Itulah taqwa...".

(Sayyid Quthb,  Fi Zhilal al-Qur'an,  Juz.  I Hlm. 39)

Wednesday, July 29, 2015

Balai Diklat Keagamaan Jl. TB Simatupang Medan

Balai Diklat Keagamaan milik  Kementerian Agama, terletak di Jl. TB Simatupang,  Pinang Baris,  Medan,  bersebelahan dengan kantor Badan Kepegawaian Negara Regional Medan.




Tuesday, July 28, 2015

Berbahagialah Engkau, Wahai si Gila Yang 'Melihat' Tuhannya...

Malik bin Dinar bercerita:

Suatu hari, aku berjalan melewati lorong kota Bashrah, tiba-tiba aku melihat segerombolan anak-anak tengah melempari seorang pria dengan batu.

Aku pun bertanya kepada anak-anak tersebut:


"Apa yang kalian lakukan ini?".

Anak-anak itu menjawab:

"Itu orang gila yang mengaku selalu melihat Tuhan sepanjang waktu"

Aku pun segera menjauhkan anak-anak itu dari orang tersebut, lalu aku mendekati orang tersebut, ternyata ia adalah seorang pemuda yang amat tampan, ia menyandarkan punggungnya ke sebuah tembok.

Aku pun bertanya kepadanya:

"Benarkah yang dikatakan anak-anak itu tentangmu?".

"Memangnya apa yang mereka katakan". Jawab pemuda tersebut balik bertanya.

Aku berkata:

"Mereka bilang, engkau mengaku selalu melihat Allah sepanjang waktu...".

Pemuda itu pun menangis mendengar ucapanku, lalu ia berkata:

"Demi Allah, aku tidak pernah kehilangan Dia sejak aku mengenal-Nya... dan jika aku kehilangan Dia, tentu aku tidak akan mentaati-Nya".

Kemudian pemuda itu menyenandungkan sebuah syair:
Sungguh nestapa jauh dari-Mu bila selama ini aku senantiasa dekat
Sungguh tak kuasa berpisah dengan-Mu jika sudah dimabuk cinta pada-Mu
Jika mata ini tak kuasa melihat-Mu, tapi hati ini senantiasa memandang-Mu

[Dari kitab 'Uqalâ' al-Majanin, karangan Abu al-Qasim al-Hasan bin Muhammad bin al-Habib, halaman: 322]

Tidak Boleh Seorang Ayah Memaksa Putrinya Menikah Dengan Seseorang..

Prof. Dr. Muhammad Hamdi Zaqzouq, seorang ulama asal Mesir (yang juga pernah menjabat sebagai menteri agama/waqaf di Mesir) menulis dalam bukunya:


Tidak dibenarkan seorang pria, walau pun ia seorang ayah, untuk memaksa anak perempuannya menikah dengan laki-laki yang tidak disukai oleh anaknya tersebut. Sebab, suatu perkawinan hendaklah dilaksanakan atas dasar persetujuan dan ridha anaknya tersebut.
(Dalam sebuah riwayat) pernah seorang gadis datang kepada Rasulullah Saw dan mengadu bahwa ia hendak dikawin paksa oleh ayahnya dengan sepupunya sendiri dengan tujuan untuk mengangkat derajat keluarganya, tapi gadis itu menolak.
Maka Rasulullah Saw pun memanggil ayah gadis tersebut, lalu setelah itu Rasulullah Saw memberi pilihan kepada gadis itu: ia boleh menerima perkawinan itu atau menolaknya.
Setelah itu, atas dasar kemauannya sendiri, maka gadis itu pun akhirnya mau menerima perkawinan tersebut. Tapi ia kemudian berkata kepada Rasulullah Saw:
"Wahai Rasulullah, aku telah setuju dengan usul ayahku (agar aku menikah dengan sepupuku). Tapi (melalui peristiwa ini) aku ingin memberitahu sekalian kaum perempuan, bahwa ayah-ayah mereka tidak berhak atas urusan ini sedikit pun".
Artinya, seorang ayah tidak memiliki kekuasaan atau hak untuk memaksa anak perempuan mereka untuk menikah.

[dari kitab: Haqâ'iq Islâmiyyah fî Muwâjahah Hamlah al-Tasykîk, karangan Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzouq, terbitan Maktabah Al-Syuruq al-Dauliyyah, Mesir, halaman: 67]

Monday, July 27, 2015

Menjala Ikan di Sungai Nil, Sudan

Sungai Nil yang mengalir di sepanjang benua Afrika adalah berkah bagi penduduk di sekitarnya. Salah satu negara yang dilewati 'sungai suci' ini adalah Sudan.

Bahkan, Sudan merupakan tempat pertemuan dua aliran Nil, yaitu Nil Biru dan Nil Putih. Dari pertemuan inilah lahir Nil Besar yang bermuara hingga ke kawasan Delta, utara Mesir.

Dari sungai ini lahir kehidupan. Nil menjadi tempat banyak orang menggantungkan hidup; airnya mereka minum, ikannya mereka makan, alirannya mengalirkan listrik untuk penerangan.

Tahun 2010 lalu, saya berkesempatan melihat salah satu satu aktifitas masyarakat pencari ikan di sepanjang aliran Nil di Sudan. Meski biasa saja, tapi bagi saya ini istimewa!

Bagi pecinta sungai seperti saya, momen menyaksikan nelayan tradisional menjala ikan di sungai yang menghanyutkan 'nabi Musa as' ini adalah amat ekosotik, meski ikannya tak jauh berbeda dengan ikan di tempat kita; nila dan lele.





Ceritakan Padaku: Bagaimanakah Akhlak Abu Hanifah...?

Ibrahim bin Sa'id Al-Jauhari bercerita:

Suatu hari, aku tengah berada di dekat Amirul Mu'minin Harun Al-Rasyid, lalu kemudian datanglah Abu Yusuf, yaitu Ya'qub bin Ibrahim Al-Anshari, murid Imam Abu Hanifah r.a.

Seketika, bertanyalah Harun al-Rasyid kepada Abu Yusuf:
"Wahai Abu Yusuf,  coba engkau ceritakan padaku bagaimanakah akhlak Abu Hanifah r.a itu...!".
Abu Yusuf menjawab:
"Wahai Amirul Mu'minin, sesungguhnya Allah Swt telah berfirman: "Tidaklah suatu ucapan pun yang terlontar kecuali dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid". Ayat ini berkenaan dengan semua lisan manusia yang berbicara (maksudnya: ia memastikan dirinya tidak akan berdusta).
Wahai Amirul Mu'minin... Sepanjang yang aku ketahui tentang Abu Hanifah, sesungguhnya beliau adalah orang yang amat jauh dari apa yang diharamkan Allah. Beliau amat wara' dan tidak ingin mengatakan sesuatu apapun tentang agama Allah yang tidak beliau ketahui. Beliau ingin Allah Swt ditaati dan tidak dimaksiati.
Beliau adalah orang yang selalu menghindari para pecinta dunia di zamannya, beliau tidak ingin bersaing dengan mereka dalam urusan duniawi.
Beliau seorang yang pendiam, selalu berfikir, banyak beramal. Beliau tidak ingin bicara yang tidak penting. Dan jika beliau ditanya tentang sesuatu, jika beliau tahu jawabannya maka beliau akan jawab berdasar riwayat yang pernah beliau dengar, dan jika beliau tidak tahu, maka beliau akan menganalogikan (beqiyas) secara benar demi menjaga diri dan agamanya.
Beliau amat pemurah dalam ilmu dan harta. Berdikari dan tidak tergantung kepada orang lain, Beliau seorang yang tidak tamak, jauh dari perbuatan ghibah (menggunjing), tidak pernah menyebut tentang orang lain kecuali yang baik-baik".
Mendengar hal tersebut, Harun al-Rasyid berkata:

"Inilah aklhak orang-orang sholeh...".

Kemudian Harun Al-Rasyid memerintahkan kepada sekretarisnya:

"Tulislah sifat-sifat ini, lalu berikan kepada putraku agar ia teladani".

Dan setelah ditulis, Harun al-Rasyid pergi menemui putranya dan berkata:

"Wahai putraku, pelajari dan amalkanlah sifat-sifat ini, sebab Insya Allah nanti aku akan tanya engkau tentang semua itu".


[petikan dari kitab: Al-Ulama' wa Ilm La Adri, karangan Abdurrahman Yusuf Al-Farhan, cet. Darul Basya'ir al-Islamiyyah, halaman: 171]

Sedikit catatan: kitab Al-Ulama' wa Ilm La Adri merupakan suatu kitab yang unik yang membahas tentang jawaban 'La Adri' (aku tidak tahu) sebagai suatu ilmu.

La Adri kerap diucapkan oleh para ulama ketika mereka ditanya tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui jawabannya. Hal ini menggambarkan bahwa para ulama tersebut merupakan sosok-sosok yang tidak mau berdusta dan amat takut kepada Allah Swt sehingga mereka tidak ingin 'sok tahu'. Mereka tidak peduli dikatakan 'bodoh' oleh yang bertanya. Selengkapnya tentang hal ini akan kita ulas di kesempatan lain Insya Allah. 

Sahabat Itu Ada 3 Tingkatanya...

....
Syahdan si pelajar belia itu berkata kepada guru yang sudah sepuh:

"Tuan guru, aku membaca dalam kitab Uyun al-Akhbar*, bahwa khalifah Al-Ma'mun pernah mengatakan: Sahabat itu ada tiga tingkatannya:

 - Ada sahabat yang tingkatnya seperti makanan, di mana semua orang membutuhkannya.
-  Ada sahabat yang tingkatannya seperti obat, di mana ia tidak dibutuhkan kecuali sesekali.
- Dan ada sahabat yang tingkatannya seperti penyakit, tak seorang pun yang membutuhkannya."

Sang guru menjawab:

"Anakku, barangkali saat Al-Ma'mun mengucapkan itu, ia benar, setidaknya untuk masa ia hidup. Tapi engkau tahu, kita di zaman sekarang hidup di mana 'makanan' susah didapat, 'obat' susah diperoleh, sementara 'penyakit' ada di mana-mana.

Karena itu, bergaullah engkau dengan semua sahabat, selama umur masih bersisa. Biarlah laparmu tak terpuaskan oleh makanan, biarlah penyakitmu tak tersembuhkan oleh obat."


[petikan dari buku: Jannah al-Syauk (Surga penuh duri) karangan sastrawan Thaha Husain, terbitan Dar al-Ma'arif, hlm. 34]
* Uyun al-Akhbar ditulis oleh Ibnu Qutaibah

Sunday, July 26, 2015

Cinta Sejati Itu Memberi.. Kata William Arthur

Di musim akik dan giok ini, ada sebuah buku pengembangan diri yang cukup menarik (setidaknya menurut saya). Judulnya 60 Management Gems, Applying Management Wisdom in Life yang ditulis bersama oleh Dr. A.B Susanto dan R. Masri Sareb Putra.

Dalam buku dengan halaman cukup tebal ini, penulis mencoba menghubungkan antara permata dan batu mulia dengan kepribadian manusia. Bagi anda peminat bacan, akik, junjung derajat, giok.. yaaaah, pokoknya peminat batu.. sebaiknya anda segera ke Gramedia dan beli buku ini! Tunjukkan akik anda, barangkali dapat diskon... hehehe :D

Pokoknya, inspirasi dalam buku ini membuat diri anda lebih berkualitas seperti berkualitasnya akik di jari anda !

Oke... Salah satu petikan menarik, dalam buku ini yang saya ingin bagikan dengan pembaca adalah seperti yang tertulis pada halaman 238:

"Cinta sejati itu memberi,". kata William Arthur Dunkerley. JOhn Oxendam, nama penulis dan penyair ini menggambarkan cinta secara indah:
"Love ever gives. Forgives outlives. And ever stands with open hands. And while it lives, it gives. For this iz love's prerogatives - to give, and give, and give".
Orang yang hidup berkualitas dan bermakna menjalani hidup dengan lebih hidup. Mereka juga menatap dan melihat segala hal dengan tatapan kasih. Yang dilihatnya seakan-akan merupakan pantulan wajahnya sendiri. Oleh karena itu, kematian bukanlah kehilangan terbesar dalam hidup. Akan tetapi, kehilangan terbesar dalam hidup, seperti dikatakan oleh Norman Cousins adalah:
"Segala sesuatu yang mati dalam diri kita ketika kita hdup" [Death is not the greatest loss in life. The greatest loss is what dies inside while we live".
Sesuatu yang mati itu adalah cinta. Ketika cinta hidup, hidup pulalah kehidupan kita. Sebaliknya, ketika cinta mati dalam diri kita, maka akan kita menjadi orang yang kehilangan besar.


Monza Jl. Kartini Kisaran

Sejak beberapa bulan terakhir (sejak pertengahan tahun 2014), di sepanjang Jl. Kartini Kisaran banyak bermunculan lapak-lapak pedagang pakaian bekas atau yang lebih dikenal dengan nama Monza.

Seingat saya, dulu hanya ada satu penjual Monza di kawasan ini, yaitu Monza Bayok. Namun sekarang ia sudah tidak tampak lagi, dan bermunculan para pedagang monza baru.

Bila hari minggu tiba, beberapa pedagang monza membuka bal dan menggelar harga murah, bahkan ada yang dijual Rp. 1000 per potong pakaian! Barangkali, di cari harga segitu di pajak monza Tanjung Balai pun susah didapat.

Sejak maraknya monza di sini, pedagang monza yang dulunya ramai di dekat pajak Dipo mulai berkurang. Nah, berikut beberapa penampakannya yang sempat saya capture:




[captured by: samsung grand prime's camera. image resized]

Friday, July 24, 2015

Jika Engkau Bermaksiat Kepada Allah di Suatu Tempat...

Syaikhul Akbar Muhyiddin Abu Abdillah Al-Andalusi atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Al-Arabi (wafat 628 H) berwasiat dalam kitabnya Al-Washaya:


Artinya:
Bila engkau melakukan suatu maksiat kepada Allah Swt di suatu tempat, maka janganlah engkau tinggalkan tempat tersebut sebelum engkau melakukan suatu ketaatan di tempat itu, dan jangan engkau tinggalkan sebelum engkau sempat melaksankan ibadah di tempat tersebut. Ingatlah, suatu saat tempat itu akan menjadi saksimu di akhirat, maka sebagaimana ia bersaksi engkau telah melakukan maksiat padanya, ia pun akan bersaksi bahwa engkau telah melaksanakan ketaatan padanya.

Demikian juga, bila engkau melakukan maksiat kepada Allah Swt saat mengenakan suatu pakaian, maka seperti yang telah aku sebutkan, beribadah juga lah kepada Allah selagi engkau memakai pakaian tersebut!

Demikian juga, hendaknya ketika engkau mencukur kumis, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, menyisir rambut, membersihkan sesuatu yang kotor di tubuhmu, maka hendaknya janganlah bagian-bagian dari tubuhmu itu meninggalkanmu kecuali engkau dalam keadaan suci dan berzikir kepada Allah Swt! Ingatlah, semua itu akan ditanya tentang bagaimana mereka meninggalkanmu! Dan seminimal ibadah yang dapat engkau lakukan saat mengerjakan semua itu adalah berdoa kepada Allah Swt semoga Dia mengampunimu atas dosa yang pernah diperbuat anggota tubuhmu itu! Sebab berdoa itu adalah perintah Allah Swt...

[dari kitab al-Washaya, Ibn Al-Arabi, Cet. Maktabah al-Mutanabbi, Kairo, halaman: 8]


Sungai Kampar Dari Atas Jembatan Teratak Buluh

Mengalir dan bermuara hingga ke Selat Malaka, sungai Kampar menjadi sandaran hidup bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang batang airnya.

Dari dua aliran sungai ini, masyarakat mencari ikan, berkeramba, mengambil batu dan pasir. Sungai ini pula yang menjadi wahana transportasi masyarakat sebelum adanya jalanan darat seperti sekarang.

Selain sumber kehidupan, sungai ini menawarkan keindahan yang sedap dipandang mata. Lihat saja salah satunya seperti foto yang di ambil dari atas jembatan Teratak Bulu, Kampar Kiri ini.


Wednesday, July 22, 2015

Antara Agama dan Tanah

Pulang lebaran ini, saya berkesempatan 'mengobrak-abrik' pustaka yang sudah lama saya tinggalkan. Memang, iba sekali rasanya hati telah lama berpisah dengan buku-buku kesayangan. Berpisah dengan pustaka, sama rasanya berpisah dengan istri. hehehe.

Dari sekian banyak buku yang saya lihat, pandangan tertuju pada sebuah petikan quote dalam buku berjudul "Assalamu'alaikum: Islam itu Agama Perlawanan" karangan Eko Prasetyo yang diterbitkan oleh Resist Book, Yogyakarta.

Pulang Mudik Dengan Putra Pelangi Mercedes Benz OC 500 RF 2542

Sedikit cerita tentang perjalanan pulang mudik. Tahun ini saya merasa beruntung karena berkesempatan menumpang armada bis terbaru milik PT. Putra Pelangi Perkasa yang baru beberapa hari beroperasi.

Penumpang jurusan Pekanbaru tujuan Medan atau Banda Aceh dan sebaliknya sekarang punya banyak pilihan menumpang bis untuk perjalanan mereka. Salah satunya adalah bis Mercedes terbaru milik Putra Pelangi OC 500 RF 2545 yang sangat nyaman.

Untuk Pekanbaru Medan, cukup bayar ongkos Rp. 280.000,- (atau kalau beruntung bisa dapat korting seperti saya, tapi nyetop di jalan).

Bus Mercedes Benz OC 500 RF 2542 milik Putra Pelangi beristirahat di RM Arowana Bagan Batu - Rokan Hilir
Sebenarnya saya cukup kasihan melihat bis ini melewati jalanan lintas sumatera yang penuh lubang dan tambalan, rasanya tidak cocok sekali dengan kelas bis ini. Seharusnya bis sebagus dan semahal ini (seharga 4,5 milyar) harus melewati jalanan aspal mulus seperti di negeri asalnya di Eropa sana. Yah, atau paling tidak di jalan Tol Cipali lah...

Berdasarkan hasil searching di internet, spek bis ini amat mengagumkan. Untuk diketahui, bus Mercedes Benz tipe chassis OC 500 RF 2542 milik Putra Pelangi ini didesain sangat mewah dan menawan. Menawarkan kelas VIP dengan konfigurasi kursi 2-2 dengan balutan karoseri Rahayu Santosa plus tipe body Jetliner.

Soal mesin jangan ditanya, bus didukung kekuatan mesin turbo intercooler output 11.967 CC yang mampu menghasilkan daya 310 Kw atau 422 Horse Power pada 2.000 RPM dan torsi tertinggi pada 1.900 Nm pada 1.100 RPM.

Dengan segala kemewahannya, sistem bus ini dikendalikan dan dikelola dengan secara full elektronik. Injeksi bahan bakar yang lebih tepat dan efisien dengan sistem pompa satuan untuk memastikan kinerja yang lebih baik, sehingga memperpanjang daya tahan mesin. Bus dengan 3 poros roda ini sudah dilengkapi dengan sistem keamanan terbaik dari Mercedes Benz yaitu, Disk Break, Electronic Stability Program atau sistem anti-selip, Sistem pengereman elektronik, ABS [Antilock Breaking System], Retarder untuk memastikan daya pengereman dan ASR Sistem pengereman.

Pada kaki-kakinya, suspensi independen sudah disematkan pada as roda depan. Hal ini digunakan untuk memberikan kenyamanan pengemudi dan penumpang. Dengan daya angkut 24 ton, poros roda belakang menjadi bagian paling penting dari chassis bus baru ini. Pada  poros roda ketiga, dapat dikontrol baik untuk bergerak maju dan mundur, dengan sistem elektro-hidrolik.

Karena nyamannya, sampai-sampai saya ketiduran dan hampir melewati kota Kisaran yang menjadi tujuan saya... 

Sunday, July 19, 2015

Dididik Dahulu, Berpekerti, Barulah Menjadi Teladan



Muhammad bin Ali bin Husain radhiyallahu'anhu berkata:

Manusia Yang Paling Tertipu



Adapun manusia yang paling tertipu adalah orang yang mengerjakan sesuatu yang dibenci oleh Allah Swt,  lalu kemudian ia berdoa kepada Allah Swt seraya meminta sesuatu yang ia sukai!

Saturday, July 18, 2015

Pembagian Jenis Penyakit Menurut Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah

Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah (wafat 751 h) dalam kitab beliau yang berjudul "Al-Thibb An-Nabawi"  menyebutkan tentang pembagian penyakit dalam diri manusia.

Beliau menulis:


Adapun penyakit itu ada dua macamnya,  yaitu penyakit hati (jiwa)  dan penyakit badani (jasmani).  Dan kedua-dua jenis penyakit ini telah disebutkan oleh Allah Swt di dalam Al-Qur'an.

Adapun penyakit hati (jiwa)  tersebut terbagi pula ke dalam 2 macam,  yaitu: penyakit syubhat serata syak,  dan penyakit syahwat serata menyimpang.

(Al-Thibb An-Nabawi, Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah,  halaman 7)

Friday, July 17, 2015

Orang Pertama Yang Mengucapkan Kalimat "ان الله أمركم بأمر بدأ فيه بنفسه" Dalam Khutbah

Saat menyampaikan khutbah,  baik khutbah Jum'at maupun khutbah hari raya,  banyak para khatib yang mengucapkan kalimat berikut sebelum membaca sholawat:

ان الله تعالى أمركم بأمر بدأ فيه بنفسه، وثنى بملائكته...  الخ

Lalu siapa yang pertama kali mengucapkan kalimat tersebut?

Dalam kitabnya yany berjudul "Al-Iqtibas min Al-Quran",  Imam Abdul Malik bin Muhammad bin Ismail atau yang lebih dikenal dengan Abu Manshur Al-Tsa'alibi (wafat 350 H)  mengemukakan tentang hal tersebut:


Beriku maknanya:

Sesungguhnya orang yang pertama kali mengucapkan kalimat "Innalllaha Ta'ala amarakum bi amrin bada'a fihi bi nafsihi,  wa tsanna bi malaikatihi..." lalu kemudian membaca ayat : "Innallaha wa mala'ikatahi yushalluna alan Nabiyy... Dst"  adalah Khalifah Al-Hadi bin Al-Mahdi bin Al-Manshur.  Hal ini kemudian diikuti oleh para Khalifah dan khatib hingga masa sekarang ini.

***
Dari kitab Al-Iqtibas,  Abu Manshur Al-Tsa'alibi,  juz.  I halaman 75.

Wednesday, July 15, 2015

Sepinya Kota Pekanbaru Sehari Menjelang Idul Fitri

Di hari terakhir bulan Ramadhan 1436 H,  kota Pekanbaru terlihat sepi.  Jalanan kota yang biasanya disesaki kendaraan kini terlihat lengang.

Sebagai kota tujuan para perantau,  kota Pekanbaru memang diramaikan oleh para pendatang,  sehingga ketika Idul Fitri tiba,  kota menjadi lengang karena para perantau telah pulang ke kampung halaman mereka.

Berikut beberapa kondisi jalan di kota Pekanbaru hari ini (Kamis, 16 Juli 2015)  :

Jl.  Tuanku Tambusai (Jl.  Nangka)


Jl.  Sukarno Hatta



Jl.  HR. Subrantas



Singgah sebentar di Masjid Raya Al-Ikhlas Rantau Prapat

Bila melakukan perjalanan melalui jalan lintas timur Sumatera arah Riau -  Sumatera Utara,  dan anda butuh beristirahat melepas lelah atau melaksanakan ibadah sholat,  singgah lah di Masjid Raya Al-Ikhlas yang berada di kota Rantau Prapat.

Selain halaman parkir yang luas,  fasilitas berwudhu di masjid ini cuk p lumayan dan bersih. Di musim mudik lebaran,  banyak musafir yang singgah di sini,  termasuk saya.




Catatan perjalanan mudik idul fitri 1436 H (15 Juli 2015) 

Tuesday, July 14, 2015

Jawaban Salam Dari Arah Makam Rasulullah Saw

Dalam kitab berjudul Risalah Fi Itsbat Wujud An-Nabi fi Kulli Makan, yang ditulis oleh Sidi Husain bin Muhammad Asy-Syafi'i, beliau mengutip sebuah riwayat dari Imam As-Suyuthi tentang peristiwa yang cukup pelik, tapi nyata.

Melalui kisah ini, Sidi Husain menegaskan bahwa hingga saat ini Rasulullah Saw masih berinteraksi dengan umatnya melalui karamah-karamah para wali.

Dalam kisah tersebut diceritakan, bahwa suatu ketika Nuruddin Al-Iji singgah di Raudhah (tempat antara kamar Rasulullah dan mimbar beliau), lalu di tempat itu beliau berkata:

"Assalamu 'alaika ayyuhan Nabiy wa rahmatullah wa barakatuh" (Salam sejahtera atasmu wahai Nabi dan rahmat Allah serta keberkatannya}.

Setelah itu, orang-orang yang ada di tempat tersebut tiba-tiba mendengar sahutan dari dalam kubur Rasulullah Saw yang menjawab:

"Alaikas salam wa waladi" (salam sejahtera juga atasmu wahai anakku).

Bukan hanya riwayat tersebut, banyak lagi riwayat lain yang dikemukakan olah Sidi Husain guna menjelaskan hal tersebut.

Berikut bukunya:

Wanita Yang Terpaksa Berbuat Zina, Tidak Dihukum Oleh Umar bin Khattab r.a

Dalam kitab Al-Thuruq al-Hukmiyyan (kitab yang membahas tentang hukum acara peradilan Islam), Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah membahas suatu bab (fashl) tentang hukum bagi orang-orang yang dipaksa melakukan suatu perbuatan dosa.

Bab tersebut dibuka dengan sebuah riwayat tentang seorang wanita yang didakwa melakukan perbuatan zina, namun akhirnya ia tidak dihukum karena perbuatan itu ia lakukan karena terpaksa.

Berikut petikannya:


Di antara contoh hal tersebut (dipaksa melakukan zina), adalah bahwa suatu ketika ada seorang wanita yang dihadapkan kepada Umar bin Khattab r.a dan didakwa telah melakukan perzinahan.

Umar r.a pun menanyakan hal itu kepada wanita tersebut, dan ia mengakuinya. Karena itu, Umar r.a pun memerintahkan agar wanita tersebut dihukum rajam,

Namun Ali bin Abi Thalib r.a berkata kepada Umar:

"Tahan dulu, Barangkali wanita ini punya alasan yang bisa membebaskannya".

Kemudian Ali r,a bertanya kepada wanita tersebut:

"Apa yang menyebabkan engkau melakukan zina?".

Wanita itu menjawab:

"ٍSaya memiliki seorang sepupu, dan ia memiliki unta yang bersusu dan berair, sementara untaku tidak ada susu dan airnya. Suatu ketika aku sangat kehausan, dan aku meminta minum kepadanya. Tapi ia tidak mau memberiku kecuali kalau aku mau melayaninya (bersetubuh dengannya). Aku pun sempat menolak permintaannya itu tiga kali. Dan ketika aku sudah tidak dapat lagi menahan haus, dan rasanya nyawaku akan melayang karena kehausan, aku pun melayani permintaannya itu. Lalu setelah itu ia memberiku minum".

Mendengan penuturan wanita tersebut, Ali r.a berkata:

"Allahu Akbar! Ingatlah (wahai Umar) firman Allah Swt: Maka barangsiapa yang terpaksa tanpa semena-mena dan tidak melampaui batas, maka tiada dosa atasnya, sesungguhnya Allah Swt Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

***
[Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, Al-Thuruq al-Hukmiyyah, Hlm. 62, terbitan Dar al-Madani, Jeddah, tt]

Syirik For Sale

ADA yang berbeda setiap kali negeri ini menyambut pergantian tahun baru. 

Perhitungan waktu di dunia ini seragam. Setiap detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun berjalan dalam kurun masa yang sama. Pergantian tahun baru diperingati orang di seluruh permukaan dunia. Yang berbeda adalah cara menyambutnya saja.

Di negeri ini, pergantian tahun baru ditandai dengan semaraknya tukang ramal dan paranormal yang berlagak seperti Tuhan yang mampu memprediksikan apa yang akan terjadi pada tahun mendatang.

Televisi dan media-media lainnya sibuk lintang-pukang mewawancarai Madam Anu dan Mbah Anu untuk menentukan nasib bangsa. Dengan sesumbar pula, merasa disanjung -sanjung, sang Madam dan Mbah dengan bayaran yang mahal tentunya- mulai berkoar menyatakan akan terjadi begini dan begitu pada bangsa ini.

Negeri para Dukun
Mengapa kita begitu percaya pada tukang ramal? Paranormal? Orang pintar? Agaknya, ungkapan orang-orang bahwa Indonesia adalah negeri para dukun memang benar! Tidak bisa dipungkiri, media massa menceritakan pada kita bagaimana tokoh-tokoh politik harus sowan dulu ke Mbah Anu untuk bisa menang dalam Pilkada.

Cerita mengenai artis Fulan yang rutin melawat Mbah ini itu untuk mendongkrak popularitas juga bukan isapan jempol. Lihat pula tayangan-tayangan sinetron dan perfilman di layar kaca kita; sepak terjang para dukun dan ‘orang pintar‘ menjadi hidangan mata anak-anak kita setiap harinya. Dari kecil, kepercayaan terhadap mistis sudah tertanam dalam alam bawah sadar kita.

Yang menarik di era modern ini adalah, para dukun dengan gaya baru telah berhasil membuat kelompok sosial tersendiri, yang mana dengan perdukunan ini mereka mengisi periuk nasi. Kalau dulu dukun diidentikkan dengan kampungan, pertapaan, kere, maka jangan berpikir begitu lagi sekarang.

Perdukunan yang menjual kesyirikan kini tampil dengan gaya yang modern. Para dukun sekarang berubah sosok menjadi selebritis kondang yang layak jual di televisi. Para dukun yang dulu hanya bersembunyi di pondokan, sekarang sudah bisa menjual diri melalui iklan-iklan dan media massa.

Dalam bisnis selular, sang dukun pun tak mau ketinggalan. Dengan pedenya, seorang dukun mengiklankan diri di televisi: “Saat membeli nomor HP anda, itu bukan kebetulan, tapi anda telah menentukan nasib Anda. Nah, dengan mengkombinasikan antara nomor HP dan nama Anda, saya bisa meramal masa depan anda... makanya, cepat ketik REG spasi Nama Anda dan kirim ke 90xx...” begitu bunyi sebuah iklan televisi.

Dan iklan serupa ada puluhan jumlahnya. Ada yang berkedok astrologi, religius dan segala macamnya. Hasilnya, miliaran rupiah berhasil diraup dukun-dukun elit tersebut. Penghasilan yang jauh melebihi seorang manager perusahaan, apatah lagi gaji guru yang letih mendidik anak bangsa siang malam.

Pandangan Islam
Dalam Islam, perdukunan (sihir dan tenung) adalah kesyirikan yang nyata. Perdukunan adalah salah satu dosa besar (kabair) yang takkan beroleh ampunan dari Allah SWT hingga pelakunya benar-benar meninggalkannya sama sekali. Dan mereka yang percaya dan mendengarkan apa yang dikatakan dukun, juga sudah terjerumus dalam kemusyrikan.

Dalam Alquran, Allah SWT tegas-tegas menyatakan: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS an-Nisaa [4]: 48).

Perkara-perkara yang ghaib hanya dapat diketahui oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman: Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah. (QS al-Naml [27]: 65).

Jangankan para dukun itu, bahkan Nabi Muhammad sendiri dinyatakan dengan tegas oleh Allah dalam Alquran bahwa Beliau tidak memiliki kemampuan dalam menilik yang ghaib itu. Allah SWT berfirman: Katakanlah wahai Muhammad: Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (QS Al-Araf [7]: 188).

Oleh karena itu, dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyatakan: Orang yang mendatangi tukang ramal (paranormal) kemudian ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka salatnya tidak diterima selama 40 malam. (HR Imam Muslim dan Imam Ahmad dari istri Nabi, Hafshah RA).

Dalam kesempatan lain, Nabi Muhammad SAW bersabda: Orang yang mendatangi dukun atau tukang ramal, kemudian membenarkan apa yang dikatakannya, maka orang tersebut telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad SAW. (HR Imam Ahmad dan al-Hakim dari Abu Hurairah).

Fatwa MUI
Pada tataran nasional, MUI sendiri dalam Musyawarah Nasional (Munas)-nya VII tanggal 28 Juli 2005 telah memfatwakan dengan tegas bahwa perdukunan dan peramalan dengan segala bentuknya adalah perbuatan haram yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Ketegasan tersebut tertuang dalam Fatwa MUI No 2/MUNASVII/MUI/6/2005. Maka aneh sekali, bila di negeri yang mayoritas muslim ini, perdukunan justru dilegalkan dan menjadi aset komersial yang menggiurkan. Kesyirikan sudah menjadi komoditi yang layak jual (syirik for sale).

Perdukunan identik dengan primitivisme. Orang-orang dulu yang meyakini dukun dan tenung karena pola pikir mereka yang sederhana yang masih mengagumi kekuatan alam sebagai sesuatu yang memiliki kuasa di dunia.

Akal mereka yang pendek tak mampu memikirkan fakta di balik fenomena alam mengakibatkan mereka hidup dalam paganitas. Ketika melihat petir menggelegar, akal mereka tak mampu mencerna fenomena petir itu, akhirnya mereka berfikir bahwa petir adalah teriakan sang dewa yang tengah marah.

Ketika melihat pohon kayu yang besar tak seukuran dengan kayu biasanya, mereka anggap itu titisan dewa yang mesti dipuja. Kemudian, muncullah tokoh-tokoh yang mengklaim sanggup menghubungkan mereka dengan dunia luar sana ataupun dewa. Itulah para dukun dan bomo.

Pemerintah juga harus segera turun tangan membasmi hal ini. Perdukunan yang meracuni masyarakat melalui sinetron-sinetron, SMS-SMS dukun, iklan-iklan ghaib di media (anehnya, di bawah iklan banyak tertulis: Izin Instansi x*** no xxxxxx) harus segera dihapus.

Bagaimana bisa institusi pemerintah melindungi praktik-praktik pembodohan masyarakat seperti ini? Kalau kita benar-benar ingin menjadi bangsa yang maju dan berbudaya, maka segala hal yang menjadi momok dan racun kemajuan harus segera diberantas. Kita tunggu, apakah pemerintah berani mengambil langkah yang tegas atau tidak.***

***
Artikel lama, pernah dimuat di Harian Riau Pos tanggal 29 Desember 2009

Monday, July 13, 2015

Bazar Pebukaan Ramadhan di Simpang Enam, Kisaran

Di dekat masjid Al-Husna, kawasan Simpang Enam Kisaran, tepatnya di persimpangan jalan Sisingamangaraja, jl. Kartini, pada bulan puasa diramaikan oleh pedagang makanan untuk pebukaan puasa.

Sejak siang pembeli datang memadati kawasan ini dan mencapai puncaknya pada sore hari, dan kemudian kembali sepi sesaat menjelang berbuka puasa.



Sunday, July 12, 2015

Sholat Jum'at di Pondok Pesantren Darul Ulum Kisaran, Asahan

Pondok Pesantren Modern Darul Ulum terletak di Jl. Mahoni Kelurahan Mekar Baru Kecamatan Kota Kisaran Barat, Kabupaten Asahan.

Lokasi pesantren ini sangat luas, suasana di dalam kompleksnya pun sangat bersih dan nyaman. Pepohonan kelapa, sawit dan kayu rindang berjejer rapi, berpadu dengan rumput hijau yang terhampar. Beberapa gazebo juga dibangun di dalam, sebagai tempat beristirahat bagi santri dan keluarga mereka yang berkunjung.

Lembaga edukasi Islam ini sepertinya mengelola berbagai tingkat pendidikan, mulai dari Taman Kanak-kanak hingga perkuliahan strata 1.


Hari ini, Jum'at, 10 Juli 2015, di tengah suasana Ramadhan 1436 H, saya mencoba mengabadikan momen sholat Jum'at di sini.

Ternyata, yang sholat Jum'at di sini bukan hanya para santri, masyarakat sekitar pesantren juga banyak yang menunaikan sholat Jum'at di masjid pesantren.


Pandangan Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi Tentang Makna Fi Sabilillah Dalam Surah At-Taubah [60] Ashnaf Zakat

Salah satu ashnaf zakat yang di sebutkan dalam surah At-Taubah ayat 60 adalah Fi Sabilillah. Terkait hal ini, para ulama memiliki pandangan yang beragam dalam memahami ayat tersebut.

Ulama salaf pada umumnya (jumhur) memahami bahwa yang dimaksud dengan fi sabilillah adalah mereka yang terjun berperang di jalan Allah dalam arti perang fisik bersenjata. Dengan demikian, mereka berpandangan bahwa bagian fi sabilillah tidak dapat diberikan kepada selain mereka.

Sementara ulama muta'akhkhirin berpandangan bahwa fi sabilillah memiliki makna yang sangat luas yang tidak terbatas pada makna perang, tapi mencakup setiap mereka yang sedang mengerjakan kebaikan dalam arti jihad yang luas, seperti membangun masjid, membantu perjalanan haji, membangun jembatan dan lain sebagainya.

Di antara ulama yang memahami fi sabilillah secara luas adalah Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, Syaikh Mahmud Syaltut dan lain-lain.

Dalam bukunya Fiqh Al-Zakah, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi menggambarkan secara luas tentang kedua pemahaman ini. Dan pada akhirnya beliau mengemukakan jalan tengah yang moderat bagi pemahaman fi sabilillah tersebut. Dengan kata lain, beliau tidak ingin terlalu memperluas makna fi sabilillah sehingga menjadi seakan tanpa batas, dan tidak ingin terlalu mempersempitnya sehingga hanya difahami sebagai peperangan militer.

Dalam kitab beliau Fiqh al-Zakah Juz. II halaman 657, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi memberikan semacam dhawabit (standar) tentang makna fi sabilillah yang berhak menerima zakat. Berikut petikannya:

Pandangan cukup moderat dari Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi tentang makna Fi Sabilillah [Fiqh al-Zakah Juz. II hlm. 657
Berikut terjemahannya:
Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk tidak terlalu bebas dan berlapang-lapang dalam memahami makna fi sabilillah sehingga mencakup seluruh makna amal saleh dan perbuatan baik lainnya. Dan saya juga tidak ingin terlalu sempit memahaminya sehingga hanya terbatas pada jihad secara militer saja.
Sesungguhnya, jihad itu dapat dilakukan dengan pena dan perkataan, sebagaimana juga dapat dilakukan dengan pedang dan tombak. Jihad dapat berupa jihad pemikiran, pendidikan, sosial, ekonomi dan politik, sebagaimana juga dapat berupa militer.
Semua jenis jihad ini tentunya memerlukan bantuan dan dana.
Yang penting, dalam jihad tersebut harus terpenuhi syarat utama: yaitu hendaklah dilakukan di jalan Allah. Artinya, hendaknya semua jenis jihad tersebut bertujuan untuk menegakkan Islam dan meninggikan kalimat Allah di atas muka bumi ini. Dengan demikian, maka setiap jihad yang dilakukan dengan tujuan agar agama Allah Swt ini menjadi mulia, maka jihad tersebut adalah jihad fi sabilillah, apapun bentuknya, apa pun senjatanya. 
Dari kalimat di atas, dapat disimpulkan bahwa Syaikh Yusuf al-Qaradhawi memberikan 2 variabel dalam memahami makna fi sabilillah yang boleh menerima zakat, yaitu:

1. Hendaklah berupa jihad, baik jihad militer, sosial, ekonomi, politik dan lain sebagainya.
2. Hendaklah dilakukan di jalan Allah, dalam arti jihad tersebut bertujuan untuk menegakkan kemuliaan Islam.

Wallahu A'lam.

Manusia Hidup dari Kehidupan Manusia Lain...

Dalam bukunya yang berjudul "Hunaka Amal", cendikiawan Mesir, Anis Manshour menulis sebuah petikan dari pujangga Jerman, Berthold Brecht yang bagi saya sangat berkesan:

Anis menulis:

Dari buku "Hunaka Amal" [Masih Ada Harapan] karangan Anis Mansour halaman 4
Pujangga Jerman, Berthold Brecht berkata:
Manusia berkata kepadaku: "Makanlah... minumlah... bahagiakan dirmu..."
Tapi bagaimana bisa aku melakukan semua itu?
Sebab makanan-makanan aku rampas dari mulut-mulut orang lapar... air ini pun aku rebut dari mulut-mulut manusia yang dahaga... Bagaimana aku bisa minum!

Ya, manusia hidup memang di atas jenazah manusia lainnya... manusia hidup karena memanfaatkan manusia lainnya, hidup karena menghisap darah mereka, hidup karena mengirup udara mereka...
Karena semua itulah, batin manusia selalu meronta...

Tidak cukup sampai di siru, Brect lantas bermain dengan kata-kata. Ia mengatakan, 'hidup' (LIVE) adalah tak lebih dari sekedar 'kejahatan' (EVIL)!

Saturday, July 11, 2015

Keindahan Pulau Balimbiong, Kenegarian Kuok, Kampar

Di kampung Pulau Balimbiong, Kenegarian Kuok, Kampar Provinsi Riau, masih banyak berdiri rumah-rumah tua jenis rumah lontiok yang umumnya menjadi model rumah masyarakat Melayu lama.

Rumah model ini memiliki atap yang sedikit menggonjong dengan tangga yang cukup tinggi. Beberapa tangga sudah terbuat dari semen yang konon dahulunya didatangkan dari Singapura. Tentunya, untuk ukuran dahulu, hanya mereka yang berkemampuan saja lah yang mampu membeli semen dari pulau yang jauh itu.

Meski beberapa rumah tidak lagi terawat, namun beberapa di antaranya dijadikan situs budaya oleh pemerintah.

Ketika saya ke Malaysia tahun 2005, saya memperhatikan model rumah ini sangatlah serupa dengan rumah-rumah masyarakat yang ada di Negeri Sembilan dan Malaka. 

Rumah-rumah ini berada di pinggiran Sungai Kampar yang melalui negeri Kuok hingga bermuara ke Selat Malaka. 




Friday, July 10, 2015

Pedagang Ikan Segar di Atas Jembatan Gerbang Kota Tembilahan

Menjelang masuk ke kota Tembilahan, Indragiri Hilir, banyak pedagang ikan dan hasil laut yang menggelar dagangannya di atas jembatan sebelum menuju kota.

Memang, kota Tembilahan dikenal sebagai penghasil ikan yang cukup populer di kawasan Indragiri , mengingat kota ini berada di muara sungai Indragiri (Sungai Kuantan).


Jalan menuju ke kota ini pun dipenuhi dengan jembatan-jembatan pendek yang sangat banyak. Antara 90-110 jembatan antara harus dilalui sepanjang antara kota kota Rengat hingga Tembilahan. Jembatan-jembatan itu dibangun di atas parit, yaitu saluran-saluran air yang ada di muara Indragiri.

Karena itu, tak heran jika banyak orang menyebut kota ini sebagai kota seribu jembatan atau seribu parit.

Beberapa jenis ikan yang dijual pedagang antara lain adalah ikan Senangin yang cukup favorit. Ada juga yang menjual udang galah yang berukuran besar, ketam dan kerang.



Thursday, July 9, 2015

3 Wasiat Hatim Al-Asham Kepada Imam Ahmad... Hindari 3 Perkara,,,


Suatu ketika, Hatim Al-Asham rahimahullah bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Saat itu, Imam Ahmad bertanya:

"Bagaimana caranya agar seseorang bisa selamat dari celaan manusia?".

Hatim Al-Asham menjawab:

"Dengan melakukan tiga perkara:

- Pertama; berilah mereka dari harta milikmu, dan jangan sekali-kali ambil sedikitpun harta mereka.
- Kedua, tunaikanlah hak-hak mereka, dan jangan sekali-kali menuntut hakmu dari mereka.
- Ketiga, bersabarlah atas kelakuan mereka, dan jangan sekali-kali menyakiti mereka.

Inilah seni berinteraksi dengan manusia... lebih baik mengalah daripada 'menang tapi kalah'...

Dengan kata lain:

tanamlah budi, jangan berhutang budi
penuhi janji, jangan menagih janji
tahan emosi, jangan memancing emosi

Mental Terung

Suatu ketika, Gubernur Al-Shihabi berkata kepada seorang pelayannya: "Hari ini, saya ingin sekali makan terong..." "Ah...