Friday, September 29, 2017

Schmidt Yang Lupa: Dengan Siapa Ia Sedang Bicara...

Di sebuah kamp penjara Jerman di era 1960-an…

Syahdan, para narapidana sangat tersiksa karena akibat pengawasan para sipir yang memperlakukan mereka dengan sangat kasar dan bengis!

Akan tetapi, ada salah seorang narapidana yang sepertinya mendapat perlakuan istimewa dan berbeda dengan yang lainnya. Ia bernama Schmidt. Ia divonis penjara untuk waktu yang sangat lama. Para sipir terlihat cukup santun dan lembut terhadapnya. Tidak ada perlakuan kasar kepadanya, menu makanan untuknya pun terbilang cukup, dan kerja paksa tak sebanyak narapidana lainnya.

Rekan-rekannya sesama napi pun merasa heran. Ada pula yang curiga: jangan-jangan Schmidt adalah agen yang diletakkan untuk mengawasi mereka! Tapi hal itu pernah mereka tanyakan langsung kepada Schmidt, dan ia bersumpah bahwa ia adalah seorang napi yang senasib dengan mereka!

“Saya bukan mata-mata, bukan agen, saya tak ada hubungan dengan aparat keamanan seperti yang kalian duga”. Ujar Schmidt.

Tapi para napi tak percaya.

“Jika benar begitu, mengapa mereka terlihat begitu baik kepadamu? Beda sekali dengan perlakuan mereka terhadap kami!”. Sangkal para napi.

“Hmmm... baiklah... saya akan kasih tahu rahasianya... tapi..”. Ujar Schmidt. Belum selesai ia bicara, para napi memotong perkataannya:

“Tapi apa?”.

“Saya ingin bertanya, kita kan hampir setiap bulan berkirim surat kepada keluarga di rumah... Kalau boleh tahu, apa yang kalian tulis kepada istri dan anak kalian? Pasti kalian pernah menceritakan tentang kondisi penjara ini kepada mereka, bukan? Apa yang kalian tulis?”.

“Apa lagi kalau bukan tentang buruknya kondisi di penjara ini!! Tentang makanannya yang tak layak, para sipirnya yang kejam, jahat dan tak berperikemanusiaan! ”. Jawab mereka.

“Nah, itulah bedanya kita!”. Ujar Schmidt.

“Oh ya?”.

“Ya, aku selalu menulis surat kepada keluargaku di paragraf terakhir tentang kondisi penjara yang cukup nyaman. Aku ceritakan pada istriku tentang para sipir yang baik hati dan santun! Tak jarang, aku sebut pula nama-nama para sipir dalam surat itu dan kukisahkan betapa baiknya mereka!”.

“Lantas, apa hubungannya?”. Tanya para napi.

“Itulah yang tidak kalian sadari! Kalian kan tahu bahwa setiap surat yang dikirim dari penjara ini pasti diseleksi terlebih dahulu oleh para sipir, mereka membaca baris demi baris apa yang kalian tulis! Lantas kenapa kalian ceritakan tentang kekejaman mereka yang akan membuat mereka sakit hati? Jadi, mulai sekarang, ubah cara kalian menulis surat!”. Nasihat Schmidt.

“Ooooh.. begitu ya!”. Perangah para napi menandakan berakhirnya pembicaraan malam itu. Sebuah nasihat yang membuka harapan bagi mereka.

Seminggu berikutnya...

Para napi dikejutkan berubahnya sikap dan perlakuan para sipir! Mereka yang selama ini bengis, ternyata bertambah bengis! Kali ini, Schmidt sendiri tak pun luput dari kebengisan mereka. Bahkan, ia lah yang mendapat perlakuan paling kejam di antara para napi!

Setelah beberapa hari berlalu, Schmidt sudah tak tahan lagi. Ia lantas bertanya kepada rekannya sesama napi:

“Hei, apa yang kalian tulis dalam surat kalian sehingga perlakuan para sipir berubah?”.

Beberapa orang napi menjawab:

“Kami menulis: “Di sini ada teman kami sesama napi bernama Schmidt, ia mengajarkan kami bagaimana cara menipu dan membodohi para sipir agar mereka mau memperlakukan kami dengan baik!”. Jawab mereka ringan.

“Astagaaaa!”. Ujar Schmidt sambil menepuk-nepuk dahinya seperti orang gila.
Ia baru menyadari nasihat seorang bijak yang telah diabaikannya: “Menolong orang lain itu memang baik, tapi yang lebih baik adalah selalu menyadari dengan siapa kita sedang bicara!”.

***

"Never underestimate the power of jealousy and the power of envy to destroy. Never underestimate that.” — Oliver Stone

Mental Terung

Suatu ketika, Gubernur Al-Shihabi berkata kepada seorang pelayannya: "Hari ini, saya ingin sekali makan terong..." "Ah...