Thursday, April 21, 2016

Balada si Faqir... [Syair Abu al-Ala' al-Ma'arri]

Muhammad bin Ali al-Muqri al-Kazaruni bercerita:

Sepulang dari kota Mekkah, saya dan rombongan singgah di rumah Abu al-Ala' al-Ma'arri (filsuf dan pujangga yang digelar sebagai rahîn al-mahbasain, tertawan dalam dua kurungan, karena ia seorang yang buta dan terkurung di rumahnya hingga wafat tahun 449H/1057M).

Sesampainya di sana, al-Ma'arri menanyai kami satu persatu (karena beliau tidak bisa melihat), dari mana kami berasal, siapa orangtua dan nasab kami, dan apa kehalian dan pekerjaan kami.

Kami pun menjelaskan tentang itu semua, hingga sampai pada giliranku. Al-Ma'arri bertanya:

"Dan engkau, apa kepandaianmu, Nak?"?

"Aku seorang qari". Jawab al-Muqri.

"Kalau begitu, bacakanlah untukku satu ayat dari kitab Allah".

Al-Muqri pun membacakan ayat 30 dalam surah Qaf  yang berbunyi:

يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ
"Dan pada hari itu (akhirat), Kami bertanya kepada Jahannam: "Apakah engkau sudah penuh?". dan Jahannam itu menjawab: "Apakah masih ada tambahan lagi?".

Mendengar itu, Al-Ma'arri menangis sejadi-jadinya, lalu beliau memberi kami beberapa keping uang perak yang ia punya dan berkata:

"Pergilah, kalian bisa membeli buah Tin dengan uang ini".

Al-Muqri dan rombongan berkata:

"Tuan, kami tidak menginginkan uang ini. Kami hanya ngin mendengar beberapa bait syair dari Tuan".

Abu al-'Ala al-Ma'arri lalu berkata:
 
يمشي الفقيرُ و كلُّ شيءٍ ضدّهُ ...و الناس تغلق دونه أبوابَها
وتراه مبغوضًا و ليس بمذنبٍ ... و يرى العداوةَ لا يرى أسبابها
حتى الكلاب إذا رأت ذا ثروة ...خضعت لديه و حركت أذنابها
وإذا رأت يومًا فقيرًا عابرًا ... نبحت عليه و كشرت أنيابه

Si fakir,
Yang berjalan seorang diri
Semua yang ada memusuhuinya
Tak seorang pun
Sudi membuka pintu baginya


Ia dibenci,
Tanpa ia tahu apa dosanya?
Ia didimusuhi, 

Tanpa ia tahu apa sebabnya?

Hatta, seekor anjing pun
Ketika ia melihat si kaya
Ia menundukkan kepala
Seraya menggoyangkan ekornya


Tapi ketika ia melihat si fakir
berlalu di hadapannya
Ia pun menggonggong memakinya
Seraya menghayunkan cakarnya


[Sebagian orang menisbatkan syait tersebut kepada Imam Syafi'i rahimahullah, Wallahu A'lam]

Tuesday, April 19, 2016

Menyambangi Taman Bekas Lokasi Saqifah Bani Sa'idah

Di sebelah barat laut Masjid Nabawi di kota Madinah al-Munawwarah, tak jauh dari pintu gerbang 13, 14 dan 15, terdapat sebuah taman kecil berpagar besi. Taman itu lebih sering ditutup, tapi sesekali dibuka dan terlihat beberapa orang beristirahat atau bermain-main di sana.

Tak jauh dari taman ini, terdapat sebuah pasar yang dipenuhi pedagang kain dan oleh-oleh khas haji. Agak jauh dari situ, berdiri beberapa hotel tempat penginapan para penziarah atau jama'ah umrah, seperti hotel Shafiya Ilyas, Hotel Ilyas Silver, Hotel Sunrise dan lain-lain. Sebagian gedung yang sedang dibangun pun berdiri di sana.

Taman, bekas Saqifah Bani Sa'idah
Tak ada yang menarik memang dari taman ini. Di situ hanya ada beberapa pohon besar dan hamparan rumput serta beberapa tanaman bunga yang menunggu musim semi untuk merekahkan kembangnya. Selain itu, terdapat juga beberapa bangku permanen untuk tempat beristirahat.

Tapi bagi pecinta situs-situs bersejarah, taman ini punya nilai historis yang amat tinggi. Syahdan, taman inilah yang dulunya dinamakan oleh penduduk Madinah sebagai 'Saqifah Bani Sa'idah'. Dalam tarikh Islam disebutkan, bahwa di tempat inilah Abu Bakar radhiyallahu'anhu dibai'at oleh kaum muslimin sebagai Khalifah pertama sepeninggal Rasulullah Saw. Pembai'atan ini menjadi tonggak sejarah lahirnya pemerintahan khilafah sekaligus menyelamatkan ummat yang hampir saja terjerumus dalam perpecahan.

Pintu gerbang 13 Masjid Nabawi, menuju Saqifah Bani Sa'idah
Saqifah [سقيقة] sendiri berarti 'tempat yang teduh atau beratap atau teduh', barangkali sepadan dengan istilah balai-balai dalam tradisi di Melayu walau tidak persis sama, sebab balai-balai umumnya berupa bangunan berpanggung, berbeda dengan saqifah yang hanya berupa tanah lapang yang diberi atap.

Dalam tradisi Arab tempo dulu, saqifah dimanfaatkan oleh orang-orang (umumnya dari satu suku) sebagai tempat berkumpul, bersantai, berbincang-bincang atau memusyawarahkan sesuatu.

Di kota Madinah tempo dulu, terdapat banyak saqifah yang umumnya dimiliki oleh masing-masing puak atau suku, dan salah satu yang terkenal adalah saqifah milik Bani Sa'idah ini. Bani Sa'idah sendiri merupakan salah satu puak dari suku Khazraj, ada banyak sahabat Rasulullah Saw yang berasal dari puak ini, di antarnaya adalah Sa'ad bin Mu'adz radhiyallah'anhu.

Hmmm... saya jadi bertanya-tanya, apakah di Madinah dulunya juga terdapat sistem ulayat, di mana sebidang tanah dimiliki bersama-sama oleh sekolompok orang atau suku? Barangkali iya. Dalam tata ruang kota tempo dulu, saqifah Bani Sa'idah dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk dari puak Bani Sa'idah, demikan juga saqifah milik puak lainnya yang juga dikelilingi oleh perumahan pendduk dari puak pemilik saqifah tersebut.

Hotel-hotel di sekeliling Masjid Nabawi yang terlihat dari Saqifah Bani Sa'idah
Seiring zaman, saqifah milik Bani Sa'idah ini mengalami perubahan dan perkembangan. Berkurun lamanya di saqifah ini berdiri bangunan yang digunakan untuk berbagai keperluan, hingga akhirnya sekarang berubah menjadi taman.

Dibanding situs historis lain di Madinah -seperti Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Masjid Khandaq dll- tempat ini memang kurang populer dan cenderung tidak diminati para penziarah atau jama'ah umrah. Namun sesekali, terlihat juga jama'ah-jama'ah dari Turki menyambangi tempat ini dengan seorang tour-guide yang menerangkan sejarahnya lalu mereka berdoa di sana.

Friday, April 15, 2016

Gulai Lingkitang Nikmat di Arifin Ahmad

Sore itu, roda sepeda motor saya terhenti ketika melihat seorang abang yang duduk di pinggir Jl. Arifin Ahmad, Pekanbaru. Di depannya berdiri kota jualan bertuliskan "Gulai Langkitang (siput) Pensi)".

Langkitang... Lingkitang...

Hmmm... ternyata bukan hanya orang Perancis yang suka makan bekicot, orang Sumatera juga juga punya bekicot khas yang biasa dijadikan kuliner: namanya Lingkitang!


Bagi anak kampung yang pernah tinggal di pinggir sungai Kampar, lingkitang sudah tentu bukan barang asing. Hewan sejenis siput ini dulunya biasa dijadikan salah satu panganan sungai, tapi sekarang sudah langka ditemui.

Orang kampung saya menyebutnya lingkitang. Dulu, sewaktu masih kecil, memungut lingkitang yang hinggap di batu-batu karang sungai kampar merupakan keasyikan tersendiri. Selain di batu, lingkitang juga suka hinggap di kayu yang terbenam di sungai.

Selain itu, ada juga lingkitang yang hidup di pasir yang berair jernih, biasanya memiliki ukuran yang lebih besar daripada lingkitang batu.

Berbeda dengan siput sawah yang berlendir, atau juga siput darat yang berukuran besar yang biasa hingga di pohon pisang, lingkitang justru menyukai hidup di air deras dan jernih.

Di kampung kami, lingkitang biasa dimasak gulai santan. Bagian ekornya dipecahkan terlebih dahulu agar dagingnya bisa dihisap. Bagi yang tidak terbiasa, memang agak susah menikmati kuliner yang satu ini, tapi bagi yang sudah menikmatinya sejak kecil, percayalah bahwa menyedut kepala lingkitang memiliki keasyikan tersendiri! hehehe...
***

Karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu kuliner ini, saya pun singgah dekat abang penjual lingkitang.

"Lingkitang dari mana, Bang?". tanya saya basa-basi.

"Dari Pasaman". jawab si abang.

"Wah, jauh sekali". Barangkali ini sebabnya abang ini menyebutnya Langkitang, sebutan untuk siput ini di daerah Mandailing.

"Harganya berapa bang?".

"Lima ribu satu gelas". Abang ini memang menakar jualannya dengan gelas. Harga yang pantas dan sangat terjangkau untuk suatu makanan langka.

Setelah membeli, saya mohon izin sama si abang untuk memotret gulai lingkitang jualannya.


Tak hanya di Jl. Arifin Ahmad, penjual lingkitang gulai juga pernah saya lihat di Jl. Paus, Pekanbaru. Dan penjualnya juga sama-sama menjual pensi.

Berbeda dengan lingkitang, pensi merupakan sebangsa remis yang hidup di sungai, memiliki ukuran yang kecil dan biasa dimasak tumis atau sop. Umumnya, pensi ini didatangkan dari danau Maninjau.

Tuesday, April 12, 2016

Sang Fajar Yang Tengah Menyulam Selendangnya...



Bila tiba masanya
Cakrawala duka
Kan tenggelam di remang senja
Lalu terbitlah cakrawala asa
Menyingsing menyambut cita

Aku melihat sang fajar harapan
Tengah merajut selendangnya
Kilaunya merona cerah
Beri senyuman bibir merekah

Aku melihat...
Desahan nafas sang subuh
Menyeruak menyambut hari
Kelamnya sang malam
Kan sirna terhapus mentari pagi

* * *

Dr. Abdurrahman al-Asymawi

Friday, April 1, 2016

Masjid Babussalam Sibuluan, Pandan, Tapanuli Tengah

Horas Tapteng Nauli!

Tak jauh dari perbatasan kota Sibolga - Pandan, di tepi jalan raya Pandan menuju Padang Sidempuan, berdiri masjid Babussalam, tepatnya di Sibuluan.

Masjid 2 tingkat ini bertipe masjid dengan taman, suasana asri begitu terasa, tak heran siapa saja yang berkunjung ke masjid akan merasa nyaman betah.

Di bagian depan, tanaman bonsai yang dipotong ukir dengan pola tulisan 'BABUSSALAM' seakan menyambut tamu Allah Swt penuh keramahan.

Masjid Babussalam Sibuluan tampak dari depan
Beranjak ke bagian dalam, terhampar karpet yang bersih. Sebuah mimbar terdapat di dalam mihrab dengan konsep sederhana, tapi tetap indah dengan hiasan dan tiang keramik.

Bagian mihrab masjid Babussalam Sibuluan
Di atas tempat sholat wanita, terdapat lantai dua yang cukup luas. Ukiran kaligrafi ayat-ayat suci memperindah tampilan.

Lantai dua dilihat dari bawah
Sesuai dengan konsep 'garden in the mosquoe', sebuah taman kecil dibina di samping masjid. Taman ini akan dilewati jamaah ketika berjalan menuju kamar kecil atau tempat wudhu. Saya teringat dengan masjid Al-Muhajirin di Aur Duri, Air Tiris yang juga memiliki taman kecil dan tempat rehat di sebelah beranda.
 


Suasana taman begitu bersih. Sebuah kolam kecil berisi ikan nila merah semakin mempercantik suasana dalam masjid.

taman di masjid Babussalam Sibuluan, Pandan.

Nyala Api Kerinduan, Bagaimana Hendak Kupadamkan?


Api kerinduan di dalam hati
Bagaimana hendak ku padami
Kelebat memori melitas di minda
Membuat ia makin menyala

Aduhai...
Kala jiwa ditinggal pergi
Hiduplah ia dalam nestapa
Hanya bila Sang Kekasih kembali
Itulah obat penawar duka

* Isa Jaraba'


* Isa bin Ali bin Muhammad Jaraba, sastrawan Arab Saudi. Lahir tahun 1969 di desa al-Khadra', Provinsi Dhamad, wilayah Jazan, sebelah selatan Saudi Arabia. Menamatkan pendidikan sastra Arab dari Universitas Imam Muhammad bin Su'ud di Riyadh, dan berprofesi sebagai pengajar di sekolah menengah (ma'had) Shabya'.

Mental Terung

Suatu ketika, Gubernur Al-Shihabi berkata kepada seorang pelayannya: "Hari ini, saya ingin sekali makan terong..." "Ah...