Thursday, June 23, 2016

Dibandingkan Mereka, Kita Ini Baru Selevel Pencuri...!

Rabi' bin Khaitsam rahimahullah, seorang tabi'in yang amat wara', murid daripada Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Kesalehannya diakui orang-orang di masa itu, sampai-sampai Ibnu Mas'ud r.a sendiri pernah berkata kepadanya:

"Sungguh, andai Rasulullah Saw masih hidup dan melihatmu, tentu dia amat mencintaimu!".

Syahdan suatu ketika, Rabi' menderita sakit yang amat parah, sehingga ia tak mampu berjalan ke mana-mana dan hanya bisa berdiam di atas kasur.

Saat itu, datanglah Hilal bin Isaf dan Mudzir bin Ya'la Ats-Tsauri membesuk beliau. Sebelum berangkat ke sana, Mundzir betanya kepada Hilal:

"Menurutmu, apa sebaiknya kita mengawali pembicaaran telebih dahulu kepada Syaikh Rabi', atau kita diam saja dan mendengar beliau berbicara?".

Hilal menjawab:

"Apa kamu belum tahu? Kalau kita duduk bersama Rabi' bin Khaitsam selama satu tahun lamanya, sungguh ia takkan memulai pembicaraan denganmu sebelum engkau membuka percakapan dengannya! Dia takkan berbicara denganmu sebelum engkau bertanya kepadanya! Sungguh, bicara baginya adalah zikir, dan diamnya adalah fikir!".

Mundzir berkata: "Baiklah.. mari kita berangkat".

Dua sahabat itu pun berangkat dan sampai di rumah Rabi' tak berapa lama. Waktu itu hari masih pagi. Dua sahabat itu membuka pembicaraan:

"Wahai Syaikh, Bagaiman kabar tuan pagi ini?".

Rabi' menjawab:

"Semakin hari, aku semakin lemah dan penuh dosa, rizki yang ada aku makan, seraya menungguh datangnya ajal kematian".

Hilal lalu berkata:

"Kami dengar, ada seorang dokter hebat datang ke kota Kufah ini beberapa waktu lalu. Bagaimana kalau kami jemput dia untuk mengobati Tuan?".

"Duhai Hilal, sungguh aku mengerti bahwa berobat itu haq. Tapi, aku telah merenungi apa yang menimpa kaum 'Aad, Tsamud, Ashabur Rass.,dan kaum-kaum Nabi terdahulu.... sungguh, mereka amat ambisius mengejar dunia, mengmpulkanb kekayaan, mereka lebih kuat dari kita, lebih berkemampuan... Mereka juga memiliki dokter dan tabib-tabib yang hebat... Tapi, baik yang berobat maupun yang diobati, semuanya binasa jua akhirnya....". Jawab Rabi'.

Kemudian ia mendesah nafas dalam-dalam... dan berkata:

"Sungguh, jika desahan ini pun penyakit, tentu kita akan berusaha mengobatinya...".

"Syaikh, jadi apakah yang sebenar-benarnya penyakit di dunia ini?". Tanya Mundzir.

"Dosa... itulah penyakit yang sesungguhnya!". Jawab Rabi'.

"Lantas, apa yang sebenar-benarnya obat?". Tanya Mundzir.

"Istighfar...". Jawab Rabi'.

"Lalu, apa yang sebenar-benar kesembuhan?".

"Engkau bertobat, lalu tidak mengulangi dosa".

Kamudian Rabi' menatap dua bersahabat itu dan berkata:

"Waspadalah kalian terhadap dosa-dosa yang tersembunyi dan rahasia...yang tak tampak oleh mata manusia, tapi amat jelas di mata Allah Swt.... bersungguh-sungguhlah mencari obatnya...!".

"Apakah obatnya, duhai Syaikh?".

"Taubat nasuha...itulah yang sebenar-benar obat...".

Kemudian Rabi' menangis  hingga air mata membasahi janggutnya. Melihat hal itu, Mundzir dan Hilal bertanya:

"Wahai Syaikh, orang sesaleh Tuan pun menangis juga?".

Rabi' menjawab:

"Apa? Mengapa aku tidak patut menangis? Sungguh, aku telah bergaul dengan banyak manusia yang mulia (maksudnya adapa para sahabat Rasulullah Saw) , jika dibandingkan kita dengan mereka, maka kita ini tak ubahnya baru selevel dengan para pencuri!".

Hilal dan Mundzir pun saling bertatap-tatapan.

* * *

Lantas, jika dibandingkan dengan kita... siapalah kita ini...?

Friday, June 17, 2016

Kegelisahan Batin Sang Penulis...

Pada bagian persembahan dalam kitab Ta'lil al-Ahkam fî al-Syari'ah al-Islamiyyah (cetakan Dar al-Basyir, Thantha, 2000), sang penulis, Adil al-Syuwaikh menukil suatu petikan ringkas dari perkataan Imad al-Ashfihani, sebagai berikut:

Maknanya kira-kira sebagai berikut:
"Dari pengamatanku, tidaklah seseorang menulis buku pada hari ini, kecuali ia akan berkata pada esok harinya: "kalau aku tidak menulis kalimat begini, tentu buku ini akan lebih baik", atau " kalau ditambah sedikit kata-kata ini, tentu akan lebih mantap", atau: "andai bagian ini didahulukan, tentu akan lebih bagus", atau: "andai kata ini tidak ditulis, tentu akan lebih indah".... Sungguh, ini adalah ibroh yang amat berharga, yang membuktikan betapa lemahnya manusia".

Imaduddin al-Ashfihani (519H-597H), yang memiliki nama asli Muhammad bin Shafiyyuddin bin Nafisuddin al-Ashfihani, adala seorang sejarawan, hakim, menteri. pujangga dan juga ulama yang hidup di masa Dinasti Daulah Nuriyyah dan Ayyubiyyah. Beliau merupakan orang dekat dengan dua tokoh Islam kenamaan, yaitu Sholahuddin al-Ayyubi dan Nuruddin Zanki. Beliau lagi di Ashfihan (Iran) tahun 519 H dan wafat di Damaskus pada tanggal 13 Ramadhan 597 H).

Semasa remaja, sekira beusia 20 tahun, beliau meninggalkan kampung halaman dan pergi ke Baghdad untuk belajar di Madrasah Nizhamiyyah. lembaga pendidikan yang didirikan oleh Nizham al-Malik dari dinasti Abbasiyah yang amat terkenal saaat itu. Bagaimana tidak, ulama sekaliber Imam Ghazali pun terlahir dari sana.

Dari lembaga itu, beliau mendapat prestasi yang gemilang, reputasinya amat baik, hingga menjadi ulama yang terbilang. Ibnu Khalkan dalam Wafiyyat al-A'yan mengatakan:

"Imad al-Ashfihani adalah seorang faqih bermazhab Syafi'i, ia belajar di Madrasah Nizhamiyyah cukup lama, ia ahli dalam bidang khilafiyah dan juga sastra, ia mahir menggubah syair dan menulis risalah". (Wafiyyat al-A'yan, Juz. V, hlm. 147-148)

Beliau juga seorang perawi hadits, diakui oleh Imam al-Dzhabi dalam Siyar A'lam al-Nubala. Ibnu al-Najjar -sebagaimana dikutip oleh Imam al-Subki dalam Thabaqât al-Syafi'iyyah- mengatakan:

"Imad al-Ashfihani adalah seorang ulama yang mutqin (pakar) di bidang hadits, khilafiyyah, nahwu, ilmu bahasa, dan seorang yang menguasai sejarah manusia... beliau adalah ilmuan terbaik sepanjang masa, tidak ada yang menandingi beliau di masanya"  (Thabaqat al-Syafi'iyyah al-Kubra, Juz. VI, hlm. 179-180)

Pada tahun 562 H /1166 M, atas rekomendasi dari Hakim Damaskus, Kamaluddin al-Syahruzi, Imad diangkat oleh Nuruddin Zanki, penguasa Damaskus waktu itu, sebagai pemimpin Madrasah Nuriyyah di Damaskus. Namun ketika Zanki wafat pada tahun 1173 M, Imad dicopot dan ia kemudian pindah ke Mosul.

Namun ketika Sholahuddin al-Ayyubi memimpin daulah Ayyubiyah, ia kembali ke Damaskus dan diangkat menjadi sekretaris negara. Tidak hanya itu, beliau juga selalu menemani Sholahuddin di medan jihad.

Beliau berkawan baik dengan para ulama, di antaranya adalah al-Qadhi al-Fadhil Abdur Rahim al-Bisani, hakim daulah Ayyubiyyah yang tinggal di Kairo,yang dikenal sebagai Ustadz al-Ulama al-Bulagha', keduanya sering mengunjungi dan berkirim surat.

(NB. Dalam Kasyf al-Zhunun, Haji Khalifah menyatakan bahwa kata-kata nukilan di atas merupakan perkataan al-Qadhi al-Fadhil yang merupakan bagian permintaan maafnya kepada Imad al-Ashfihani. Penisbatan ungkapan ini kepada Imad al-Ashfihani merupakan suatu kekeliruan. Hal ini dikuatkan juga dalam kitab Syarh Ihya' Ulumiddin karangan al-Zubaidi. Jadi penisbatan ungkapan ini kepada Imad al-Ashfihani merupakan suatu kekeliruan. Ungkapan ini awalnya tidak begitu populer, namun setelah pujangga Mesir, Ahmad Farid al-Rifa'i mencantumkannya dalam cetakan kitab Mu'jam al-Udaba' karya Yaqut al-Hamawi, mulailah ungkapan ini populer di kalangan pujangga Arab kontemporer dan dinisbatkan kepada Imad al-Ashfihani).

Teramat panjang untuk menuliskan riwayat hidup beliau. Namun, di akhir hayatnya, ketika Sholahuddin al-Ayyubi wafat, anak-anak Sholahuddin tidak memperlakukan beliau sebagaimana perlakuan ayah mereka dulu, hingga Imad memilih tinggal di rumahnya untuk menulis, hingga wafat di tahun 597 H (1201 M).

Di luar riwayat hidup yang gemilang itu....
Imad benar... menulis adalah perjuangan batin... menggoreskan pena adalah penumpahan rasa, yang mengalirkan buah fikiran dan apa yang tersimpan di dalam minda. Lazimnya manusia, apa yang terasa benar tempo hari, terasa salahnya di kemudian hari. Di situ sang penulis baru tersadar, betapa tulisanya tak lebih dari permainan fikiran. Semua penulis akan merasakan hal ini...

Mental Terung

Suatu ketika, Gubernur Al-Shihabi berkata kepada seorang pelayannya: "Hari ini, saya ingin sekali makan terong..." "Ah...