Thursday, August 27, 2015

Bagian Tubuh Manusia Yang Pertama Diciptakan Allah Swt

Dalam kitab Riyadhah al-Nafs halaman 50, Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin al-Hasan bin Basyir [wafat 319H] atau yang lebih dikenal dengan nama Al-Hakim al-Tarmidzi (bukan Imam at-Tirmidzi Abu Isa si perawi hadits sunan) menukil sebuah riwayat sebagai berikut:

Kami diberitahu oleh Shalih bin Abdullah, [ia berkata] kami diberitahu oleh Jarir, [ia berkata] kami diberitahu oleh Laits, dari Abu Najih dan Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

"Bagian tubuh manusia pertama yang diciptakan Allah Swt adalah farajnya [kemaluannya]. Kemudian Allah Swt berfirman: "Aku sembunyikan bagian ini pada tubuhmu, maka janganlah engkau lepaskan [tempatkan] kecuali pada haknya".

Al-Hakim al-Tarmizi lalu berkata:

Maka dari itu, kemaluan adalah amanah, penglihatan adalah amanah, pendengaran adalah amanah, lisan adalah amanah, tangan adalah amanah, kaki adalah amanah, dan perut adalah amanah. 

Allah Swt memulai penciptaan manusia dari farajnya, sebab seluruh bagian tubuh manusia itu ikut serta ketika faraj itu dipergunakan, dan dari situlah muncul rasa kenikmatan yang tertinggi, dan dengan itu pula manusia terjerumus ke neraka.


Wednesday, August 26, 2015

Tempat Makan Murah Meriah di Tinggi Raja, Pinggiran Kota Kisaran

Tak jauh dari pusat kota Kisaran, kira-kira 8 km- 10 km dari arah Simpang Katarina, terdapat warung makan enak dengan harga yang cukup murah.

Bukan basa-basi, murah di sini bukan main-main! Tapi memang sangat murah jika dibandingkan dengan tempat lain dengan harga yang sama! Sekedar gambaran, untuk makan 5 orang saja dengan menu gulai ayam kampung plus lauk pauk dan jus buah, hanya merogoh kocek sekitar Rp. 80.000,- !

Dilihat dari tampilan fisik warungnya memang tidak begitu menawan, tapi soal rasa jangan dilawan! hehehe... Sepertinya, kalau makan di sini, yang dihitung hanya nasi dan lauk utama, sedangkan sayur dan lauk variasi diberikan gratis!

Istimewanya, nasi di warung ini dimasak dengan tungku kayu bakar, bukan pada Rice Cooker. Begitu pun air minum dan lauk pauknya, di masak secara tradisional.

Bagi yang minat datang ke sini, warung sederhana ini terletak di Desa Tinggi Raja, Kecamatan Tinggi Raja, kira-kira 8 kilometer dari kota Asahan. Posisi warung tepat di pengkolan setelah titi yang melewati Sei. Silau.



Tuesday, August 25, 2015

Sepakbola Indonesia Bisa Lebih Hebat Dari Belanda... Bagaimana Bisa?

Kalimat seperti judul di atas dapat dibaca dalam buku berjudul 'Gara-Gara Indonesia' yang ditulis oleh Agung Pribadi.

Dengan judul yang cukup menggelitik, buku ini sebenarnya bisa dikatakan sebagai buku sejarah dengan gaya penulisan tidak konvensional. Karenanya pada sub judul kecil buku ini tertulis: dari sejarah kita belajar untuk masa depan.

Penulis buku ini disebut sebagai The 1st Historivator in Indonesia.

Tapi, apa itu Historivator? Bagi saya pribadi ini adalah istilah baru. Karena belum menemukan makna pastinya di kamus atau ensiklopedia, barangkali bisa diduga bahwa maksud historivator adalah seorang motivator yang menggali insipirasi dan motivasi dari latar sejarah. Barangkali demikian.

Seorang historivator tidak hanya membaca sejarah sebagai deretan tanggal-tanggal dan kronologi tahun yang berisi peristiwa. tapi ia mencoba menggali makna dan inspirasi di balik kejadian yang telah berlaku untuk dijadikan penyemangat di masa depan.

Bagi seorang historivator, timeline kehidupan selalu punya nilai penggelora. Tidak ada kamus pesimis bagi seorang historivator. Seburuk apapun yang terjadi saat ini bukan penghalang dan pemadam api semangat untuk terus maju.

Maka dari sini, muncullah judul postingan di atas. Silahkan baca petikan halaman 179 dan 180:




Sunday, August 23, 2015

Kampus Pascasarjana UIN Sultan Syarif Kasim (SUSKA) Sukajadi - Pekanbaru

Terletak di Jl. KH. Ahmad Dahlan, atau oleh warga Pekanbaru lebih dikenal dengan nama Jl. Pelajar (barangkali disebut Jl. Pelajar karena di jalan ini sejak dulu  banyak terdapat institusi pendidikan seperti Ma'arif, UIN Suska, Masmur, Perguruan tinggi Muhammadiyah dll).

Sebelum dibangunnya kampus baru di Panam, kampus Sukajadi ini merupakan kampus induk yang telah berdiri sejak lama. Namun setelah diresmikannya kompleks kampus Raja Ali Haji di daerah Panam, kampus UIN Sukajadi dikhususkan untuk program Pasca Sarjana. 

Kabarnya, tak berapa lama lagi UIN Suska akan mendirikan Fakultas Kedokteran yang direncakanan akan dipusatkan di kampus Sujkajadi ini, dan seluruh bangunan yang ada akan direkonstruksi dan dimodernisasi. 

Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim
Jl. Pelajar atau KH. Ahmad Dahlan
Gerbang masuk dari Jl. Balam
Bagi mahaiswa atau dosen di luar kota, tersedia guest house yang servisnya setara hotel bintang tiga. Guest house yang terletak di sebelah kampus ini juga terbuka untuk tamu umum, tapi ada diskon khusus civitas akademika UIN Suska.

Saturday, August 22, 2015

Cara Mendapatkan Kekuasaan Menurut Niccolo Machiavelli

Masih melanjutkan cerita tentang Machiavelli (entah mengapa beberapa hari ini saya menyenangi Machiavelli), kali ini kita masuk ke pokok pikiran utama Machiavelli yang sering ia tuliskan dalam karangan-karangannya: tentang Kekuasaan!

Dalam buku ringan berjudul Politik Kekuasaan Menurut Niccolo Machiavelli, pada halaman 52 disebutkan tentang beberapa cara yang biasa dilakukan orang untuk mendapatkan kekuasaan.

Machiavelli amat jujur, barangkali tulisannya ini tidak disenangi banyak penguasa karena mereka tersinggung karenanya. Presiden mana yang mau -misalnya- disebut memperoleh kekuasaan karena kelicikan dan kecurangan? Pejabat mana yang sudi dituding memperoleh jabatan karena nasib mujur atau taktik busuk?

Tapi baiklah kita kutip saja petikannya di sini:

"Ada beberapa cara yang biasa ditempuh orang untuk menjadi penguasa, yaitu karena nasib mujur, mengandalkan kemampuan (senjata) sendiri, lewat jalur konstitusi (pemilu), dan menggunakan cara licik dan kejam".

Sebetulnya, kalau ingin membandingkan, teoti peroleh kekuasaan ini pernah dibahas jauh hari oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah kitab Tarikhnya. Tapi nantilah lain kali kita posting di blog ini.


Ohya, ada satu lagi yang menurut saya juga menarik. Pada halaman 68 buku ini disampaikan suatu pesan khusus bagi para penguasa dalam membangun pola hubungan dengan para bangsawan dan konglomerat.

Machiavelli mengingatkan bahwa para pejabat dan konglomerat memiliki kekuasaan tersendiri
"Sebaliknya, penguasa yang memilih dekat dengan bangsawan haru siap dengan berbagai kesulitan. Sebab, para bangsawan akan selalu merasa sederajat dengan penguasa yang didukungnya. Mereka mempunyai kesempatan lebih besar untuk bertindak licik daripada rakyat, karena memiliki harta dan kekuasaan sendiri".



Friday, August 21, 2015

Sholat Jum'at di Masjid Nur Hasanah, Kampung Terusan, Labuhan Ruku, Batubara

Tak jauh dari istana lima laras datuk Batubara, di kampung Terusan, Labuhan Ruku, Batubara, berdiri megah masjid Nur Hasanah.

Seperti umumnya masjid di Sumatera Utara, masjid ini makin gagah dengan menaranya yang tinggi dan bercora Deli.

Masjid ini diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara, Raja Inal Siregar pada hari Selasa tanggal 22 Rabiul Awwal 1412 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1991 Miladiyah.




Wednesday, August 19, 2015

Makam Pusara Gandulo Datuk Tabano di Muara Uwai Bangkinang

Di seberang masjid al-Mujahidin di kampung Uwai, Muaro Uwai Bangkinang kenegarian Limo Koto Kampar bersemayam pusara Gandulo Datuk Tabano, selah seorang pahlawan ternama di Kampar.

Makam Datuk Tabano di kampung Uwai, Bangkinang
Masjid al-Mujahidin di seberang makam Datuk Tabano, Bangkinang

Tuesday, August 18, 2015

Wahai Tuan, Mengapa Engkau Tayammum di Pinggir Sungai...

Imam al-Hafizh Abu Nu'aim al-Ashfihani dalam Hilyah berkata:

Kami diberitahu oleh Ahmad bin Ishaq, ia berkata: kami diberitahu oleh Muhammad bin Yahya bin Mandah, ia berkata: kami diberitahu oleh Ahmad bin Mahdi, ia berkata: kami diberitahu oleh Ahmad Al-Dauraqi, beliau menceritakan:

Pada suatu ketika, Ma'ruf al-Karhi sedang duduk di tepi sungai Dajlah, lalu kemudian beliau bertayammum di pinggir sungai tersebut. 
Melihat hal tersebut, orang-orang berkata: 
"Wahai Tuan, bukankah air dekat dengamu? (mengapa engkau justru bertayammum?)". 
Al-Karkhi menjawab: 
"Aku khawatir tidak hidup lagi hingga sampai ke sungai tersebut!".


[Dari kitab Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya', karangan Abu Nu'aim Al-Ashfihani, Juz. VIII halaman: 364]

Saturday, August 15, 2015

Sungai Kampar, Suatu Senja di Bangkinang Seberang

Senja 8 Agustus 2015, 
Ketika matahari hendak membenamkan diri di samudera, 
Derasnya Kampar masih mengalirkan airnya 
Hingga ke Selat Malaka.

Sungai Kampar dari atas jembatan menuju Bangkinang Seberang [klik untuk melihat ukuran besar]

Dari Bangkinang Seberang...

Friday, August 14, 2015

Yang Ditakutkan Oleh Sang Sultan...

Sultan Abdul Hamid II, Khalifah terakhir di dinasti Khilafah Utsmaniyah, di masanya Khilafah Ottoman yang gagah perkasa dibubarkan. Beliau digulingkan pada tahun 1909 oleh kelompok yang dikenal sebagai Turki Muda, kaum sekuler liberal berpendidikan Barat yang dengan tegas tidak setuju dengan arah Islam yang diterapkan oleh Abdulhamid dari 1876-1909.

Beliau difitnah sebagai sosok yang otoriter, kejam, tidak berperikemanusiaan, anti kemajuan. Melalui konspirasi, beliau ditumbangkan.

Sebelum menutup mata, beliau sempat menulis catatan memoar yang mengungkap sejarah kehidupan beliau yang sebenarnya. Bagaimana beliau menghadapi semua tantangan itu dengan jiwa besar.

Dr. Muhammad Harb, yang menerjemahkan memoar tersebut ke dalam bahasa Arab mengatakan bahwa memoar tersebut mengandung nilai yang sangat penting.

Salah satu petikan berharga yang ingin saya kutip dalam laman ini adalah kata-kata Sultan Abdul Hamid yang menyatakan:

Maknanya kira-kira:
Sekalipun, aku tidak takut pada seseorang yang terpelajar! Namun, yang aku khawatirkan adalah mereka orang-orang bodoh yang menganggap diri mereka ulama/ilmuwan setelah membaca beberapa buku! Mereka ini adalah orang-orang yang terlena dengan Barat, yang tampak dari perilaku dan pakaian mereka yang meniru Eropa. Mereka selama ini tidak aku perhatikan!
Aku tidak menyesali itu. Tapi, Bagaimana mungkin mereka menuduhku seperti ini? Bagaimana mungkin seorang Sultan yang telah mempersembahkan seluruh daya upayanya selama hampir 30 tahun agar setiap desa di negeri ini ada Masjidnya, dan di samping setiap masjid ada sekolahnya, bagaimana mungkin mereka menuduhnya sebagai seorang yang antipati terhadap ilmu pengetahuan dan akal pikiran?
Dikutip dari: Memoar Sultan Abdul Hamid II (Mudzakkirat al-Sulthan Abd al-Hamid, terbitan Darul Qalam, Damaskus. Diterjemahkan dari Bahasa Turki ke Arab oleh Dr. Muhammad Harb)

Thursday, August 13, 2015

Ketika Machiavelli Berbicara Tentang Takdir...


Membahas tentang filsafat kekuasaan, terkenanglah kita akan suatu nama, Nicollo Machiavelli! Nama yang menakutkan bagi sebagian orang!

Betapa 'suram' namanya diidentikkan orang dengan pencetus kotornya dunia politik yang menghalalkan secara cara untuk meraih tujuan dan kekuasaan. Maka kemudian lahirlah istilah Makiavelis!

Karenanya, Leo Strauss (1957) menyatakan bahwa Machiavelli adalah pengajar kejahatan atau paling tidak mengajarkan immoralism dan amoralism. Ajaran Machiavelli menghindar dari nilai keadilan, kasih sayang, kearifan, serta cinta, dan lebih cenderung mengajarkan kekejaman, kekerasan, ketakutan, dan penindasan.

Masjid Al-Muhajirin di Kampung Aur Duri, Air Tiris, Kampar.

Tak jauh dari pekan Air Tiris, Kampar, tepatnya di Kampung Aur Duri, terdapat masjid yang tepat sebagai tempat persinggahan.

Masjid al-Muhajirin, masjid dengan arsitektur indah, sanitasi dan bilik air yang bersih, lengkap dengan tempat berehat melepas lelah dalam perjalanan.

Dari kota Bangkinang menuju Pekanbaru, masjid ini terletak di sebelah kanan menjelang pekan Air Tiris

Friday, August 7, 2015

Air Terjun Taman Nasional Bukit Tigapuluh

Di kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh yang membentang dari Riau hingga ke Jambi, terdapat sebuah air terjun alami.

Berjarak sekitar 60 km dari kota Rengat, akses menuju lokasi air terjun memang sangat sulit, sebab di lokasi Taman Nasional terlarang dibangun jalan raya.

Menuju lokasi, masih banyak rumah-rumah kayu milik suku Talang Mamak yang mendiami Taman Nasional ini.


Thursday, August 6, 2015

5 Karakter Kepribadian Sempurna Seorang Hakim

Umar bin Abdul Aziz berkata:

Apabila seorang hakim memiliki lima karakter kepribadian, maka ia menjadi sosok yang sempurna. Adapun lima karakter tersebut adalah:

1. Menguasai ilmu
2. Bersih dari keserakahan.
3. Santun kepada mereka yang berperkara
4. Mengikuti para imam (ulama dan sahabat)
5. Mau berdiskusi dengan para ulama dan cendikiawan.


[Prasasti di sebuah dinding ruangan gedung Judge Club (Nadi al-Qudhat) di kota Khartoum, Sudan]



Dari Bangkinang ke Pasar Kuok

Oju jangan ngebut... kau satu-satunya di hatiku...
Jangan lupa singgah beli limau, manggis, tampui, rambutan
Suasana pasar Kuok Juli 2015

Wednesday, August 5, 2015

Kejahilan Itu Adalah Ilmu...!

Kapankah kejahilan itu menjadi ilmu?

Imam Syafi'i Muhammad bin Idris radhiyallahu 'anhu berkata:
"Aku tidak pernah melihat manusia seunik orang-orang Mesir, mereka menjadikan kejahilan sebagai suatu ilmu. [Mengapa demikian?] Karena mereka pernah bertanya kepada Imam Malik radhiyallahu 'anhu tentang beberapa masalah agama, lalu Imam Malik menjawab: "Aku tidak tahu". Jadi, mereka mempelajari ilmu dari orang yang tidak mengetahuinya, karena Imam Malik mengatakan: "Aku tidak mengetahuinya".

Maksudnya:

Perceraian Orang Yahudi Di Pengadilan Mesir

Pada tahun 1955, sepasang suami istri Yahudi dari sekte Karaite (yang didirikan oleh Anan Ben David di Irak) menjalani persidangan dalam perkara perceraian di Pengadilan Kairo tingkat pertama, di mana suami menggugat cerai terhadap istri.

Dalam putusannya tanggal 24 Januari 1956, Pengadilan Kairo memutuskan menolak gugatan suami dengan pertimbangan hukum yang diambil dari ajaran Yahudi Karaite sendiri. Dalam pertimbangannya, Pengadilan menyatakan:
"Bahwa berdasarkan ajaran syariat Musa yang wajib diterapkan dalam perkara ini, bahwa ikatan suami istri tidak dapat diputuskan kecuali dengan perceraian, yang mana perceraian tersebut tidak sah kecuali dilakukan di depan pemerintah yang sah, yaitu dengan cara seorang suami menyerahkan sendiri akta cerai kepada istri yang diceraikannya dengan berkata: "terimalah akta cerai ini, dan dengan ini engkau telah aku ceraikan", hal ini sesuai ketentuan Pasal 321, 325 dan 336".
Di tingkat banding, putusan ini dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Kairo melalui putusannya tanggal 21 Mei 1958, di mana para hakim tinggi menyatakan bahwa seorang pria Yahudi tidak dapat menceraikan istrinya secara sepihak tanpa ada persetujuan istri.

Dalam pertimbangannya, pengadilan banding menulis:
"Nyata tertulis dalam dalam teks-teks hukum bangsa Israel, bahwa suatu perceraian tidak terjadi bagi kaum Yahudi Karaite apabila tidak disertai persetujuan dari istri, serta disertai alasan yang diterima secara hukum dan kebiasaan, dan alasan tersebut haruslah dipertimbangkan secara benar oleh Hakim".
Namun pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung Mesir membatalkan putusan pengadilan tingkat pertama dan banding tersebut. Mahkamah menilai bahwa putusan tersebut tidak pada tempatnya. Mahkamah mengadili bahwa cerai yang diajukan oleh suami di persidangan dapat diterima, meski tanpa persetujuan istri, namun dengan suatu alasan yang benar berdasarkan pertimbangan hakim, gugatan cerai dapat dikabulkan.

[Sumber: Abdurrahman Al-Shabuni, Mada Hurriyyah al-Zaujayni fi al-Thalaq fi al-Syari'ah al-Islamiyyah Dirasah Muqaranah Ma'a al-Syara'i al-Samawiyyah wa al-Qawanin al-Ajnabiyyah wa Qawanin al-Ahwal al-Syakhshiyyah al-'Arabiyyah, Hlm. 35]


Tuesday, August 4, 2015

Bid'ah-bid'ah Itu Kita Lemparkan Ke Selat Malaka!

Pada tanggal 16 Oktober 1932, Persyarikatan Muhammadiyah cabang Sumatera Timur mengadakan diskusi publik (openbare vergadering) bertempat di Bioskop Hok Hoa yang sekarang berlokasi di Jl. MT. Haryono Medan).

Diskusi publik ini bertujuan untuk menjawab persepsi keliru masyarakat tentang kehadiran Muhammadiyah yang telah berdiri sekitar 20 tahun.

Acara diskusi tersebut diliput dalam surat kabar Berita Andalas edisi 17 Oktober 1932. HR. Moehammad Said selaku pimpinan Muhammadiyah Sumatera Timur kala itu  dalam pembukaannya menjelaskan beberapa kasus pelanggaran akidah yang sering terjadi di masyarakat pada masa itu, seperti kedudukan wanita muslimah yang bekerja sebagai babu sekaligus pelacur di hotel-hotel di kota Medan, tradisi memuliakan bulan Safar dengan memotong kambing dan kerbau, memberi sesajian pada meriam puntung milik Kesultanan Deli, serta meminta jimat kepada alim ulama. 

Baiklah kita kutip pemberitaan Pelita Andalas tanggal 17 Oktober 1932 tersebut (disesuaikan dengan ejaan EYD);


Openbare Vergadering Muhammadiyah Cabang Medan 
Dengan bertempat di Hok Hoa Bioskop, pada hari Minggu pagi sudah dilangsungkan openbare vergadering di atas dengan mendapat perhatian cukup. Beberapa orang wakil perkumpulan turut hadir begitu juga dari pers, politie lengkap. 
Kira-kira jam 9 liwat sedikit, Voirzitter Tuan Abdoel Malik membuka rapat dengan mengucapkan terima kasih kepada publik yang berhadir. Begitu juga diucapkan pada perkumpulan-perkumpulan, kepada pers yang akan menyiarkan itu dengan tidak menambah-nambah. Lagi spekker ucapkan terima kasihnya pada wakil pemerintah. 
Saudara-saudara, sebabnya Muhammadiyah mengundang vergadering hari ini, karena kabar-kabar di peluaran yang mengatakan bahwa Muhammadiyah berjalan salah, yang sekali-kali tidak benar. Muhammadiyah mengembangkan actienya ialah sebagai ijaran Nabi Muhammad Saw...
...
Nabi Muhammad sudah menentukan bahwa sembahyang itu wajib. Tapi setengah orang ditinggalkannya dan digantinya dengan beras. Lagi satu perkara jijik, di mana guru-guru Islam alias alim dan ulama, kalau didatangi nyai yang memintakan azimat supaya temannya, faitor kaum Majusi, lantas oleh sang guru  diberikan saja. Ini pekerjaan terkutuk, kata speeker.
 
Inilah maksud Muhammadiyah akan melemparkan bid'ah-bid'ah yang akan merugikan bangsa kita, Bid'ah-bid'ah itu kita lemparkan ke Selat Malaka!
Pembicara kemudian menyudahi pidatonya dengan mengucap Assalamu alaikum.

[Dikutip dari Harian Waspada edisi hari Senin, 3 Agustus 2015]


[Serial Oleh-oleh Kota Medan]: Bika Ambon Zulaikha

Tidak ke Medan namanya kalau tidak membeli Bika Ambon! Alamaak jaaang...! begitu kata orang Medan...! 

Nah, kalau mau cari Bika Ambon di Medan, ini salah satu tempat yang recommended! Bika Ambon Zulaikha, terletak di Jl. Mojopahit, Medan. 

Tak payahlah kuceritakan banyak-banyak tentang kualitas bika Ambon di sini, semua orang sudah tahu! Pokoknya dijamin paten bah!

Ini dia tempatnya... sudah ternama sejak dahulu...
Selain bika, banyak lagi oleh-oleh Medan lainnya di sini...
Mari pilih-pilih...

Materialisme dan Marxisme dalam Pemikiran Dr. Hasan Hanafi

Dalam bukunya yang berjudul Muwajahah al-Muwajah, Muhammad Ibrahim Mabruk mengkritisi pemikiran beberapa tokoh sekular Arab seperti Hassan Hanafi, Gabeer Ousfur dan lain sebagainya. 

Pada halaman 210, ketika berbicara tentang pemikiran Hasan Hanafi, Mabruk menyebutkan bahwa pemikiran beliau merupakan sempalan dari materialisme dan marxisme. 

Beliau mengkritik pemikiran Hasan Hanafi yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada dan terjadi di dunia ini adalah reaksi atas materi. Berikut petikannya:


Sisi materialisme Dr. Hasan Hanafi tampak dalam segala hal sebagai marxisme terang-terangan tanpa ada yang tersembunyi sedikit pun, dan hal ini tidaklah mengherankan.
Jadi, sisi islamis yang diusungnya tak lebih dari sekedar selubung tipis lagi transparan sehingga isi di dalamnya berupa ajaran-ajaran 'marxisme merah' sangat tampak jelas.
 
Baginya, apapun yang terjadi merupakan reaksi atas materi, dengan begitu tentu saja tidak ada yang namany pertumbuhan alami  bagi suatu pemikiran atau agama.
Kemunculan para nabi -misalnya- merupakan reaksi atas situasi tertentu dalam sejarah. Demikian juga pemikiran humanis juga merupakan suatu reaksi. Seorang Budha Gautama adalah sebuah reaksi. "Demikian juga bahwa akhirat yang ada di luar dimensi dunia ini ada sebagai dorongan agar orang mendirikan kerajaannya/kekuasaannya sendiri di luar alam dunia ini dan mendapatkan keadilan setelah kematiannya. Sementara selagi masih di dunia ini dan sebelum kematian, maka kekuasaan itu adalah hak pemerintah yang berkuasa yang tak seorang pun dapat membantahnya".

Sholat Jum'at di Masjid Raya Pematang Siantar

Terletak di Jl. Masjid, Masjid Raya Pematang Siantar berdiri dengan gagah di tengah pemukiman padat penduduk di kota Pematang Siantar.

Jl. Masjid menuju lokasi Masjid Raya
Menara masjid Raya Pematang Siantar tampak semakin dekat
Kubah yang megah
Parkir yang lumayan luas
Kalau sholat jum'at, masjid penuh bahkan meluber hingga ke luar

Monday, August 3, 2015

Makan Lontong Enak di Perbatasan Antara Perdagangan dan Simalungun

Walau tidak tahu nama kedainya, tapi lontong yang disajikan di warung sederhana dekat Perdagangan dan Simalungun ini lumayan enak. Apalagi gorengan bakwan dan tempenya.


Landmark Kota Kisaran: Tugu Adipura Depan Kantor Bupati Jl. Lintas Timur

Tugu Adipura dengan hiasan patung kerang
Rel kereta api membelah jalan lintas timur 
Tugu Adipura dengan latar Majid Ahmad Bakrie
Kantor bupati Asahan tampak dari depan Tugu Adipura

Al-Hallaj: "Apa yang kau lihat dengan matamu itu, itulah tasauf...".

Ada banyak pandangan ulama tentang tasauf, salah satunya yang paling menarik adalah seperti yang ditulis oleh Buya HAMKA dalam bukunya TASAUF MODERN sebagai barikut:

Al-Junaid berkata: "Tasauf ialah keluar dari budi, perangai yang tercela dan masuk kepada budi, perangai yang terpuji.

Yang paling hebat ialah menurut yang diartikan oleh Al-Hallaj. Seketika dia telah disalibkan dan menunggu ajal, sebab dia berkepercayaan bahwa dirinya bersatu dengan Tuhan, maka datang seorang bertanya kepadanya:

"Di waktu sekarang patut engkau bertinggal kata kepada kami, apakah erti yang sejati dari tasauf itu?".

Darah telah titik dari tubuh dan dari dalam matanya, punggungnya telah hangus kena panas, hanya menunggu tubuhnya akan dipotong-potong. Waktu itu dia berkata, kata yang penghabisan:

"Tasauf ialah yang engkau lihat dengan matamu ini! Inilah dia tasauf".



[dari buku: Tasauf Mdern, Buya HAMKA, halaman: 13-14)

Mental Terung

Suatu ketika, Gubernur Al-Shihabi berkata kepada seorang pelayannya: "Hari ini, saya ingin sekali makan terong..." "Ah...