Thursday, March 31, 2016

Ikan-ikan di Pasar Pekan Heran, Indragiri Hulu (Bagian III)

Baik, cerita pasal ikan disambung lagi :). [ Baca kembali: Ikan-ikan di Pasar Pekan Heran Bagian I - Bagian II]

ikan tilan
Ini dia ikan Tilan. Ikan ini termasuk ikan tak bersisik dan memiliki mulut kecil dan lonjong seperti mulut julung-julung. Ikan ini biasa hidup di lubuk dan menyukai air dalam.

Di kampung saya ada legenda: kabarnya ikan ini tercipta dari daub bambu yang jatuh ke sungai, lalu berubah menjadi ikan tilan.

Tekstur daging ikan ini sama seperti ikan lele, dan cocok dimasak asam pedas.

ikan toman
Ini dia salah satu ikan yang ditakuti di sungai, ikan toman. Ikan ini masih sebangsa ikan harwan dan pelumpung, ikan berkepala ular (snakehead fish), bedanya: ikan toman bisa tumbuh hingga berukuran raksasa dan menjadi ganas. Konon, bila ukurannya sudah besar, ia akan memangsa apa saja termasuk manusia.

Ikan ini juga terkenal kanibal, sama seperi bangsa ikan gabus lainnya. Ia tak segan-segan memakan rekan dan anaknya sendiri ketika tidak menemukan makanan lain. Karena itu, di kampung saya ada istilah 'induk toman', sebutan bagi orangtua yang kepada anaknya.

Tapi tunggu dulu, lupa sisi mengerikan dari ikan ini, mari bercerita soal kelezatan dagingnya saja. Toman sangat sarat daging dengan tekstur yang empuk dan berwarna lebih putih dibanding harwan. Dagingnya sanga cocok dibuat satai (nugget ikan) ataupun empek-empek. Kalau dimasak asam pedas juga oke! hehe.. jadi lapar...

belut, banyak dijual di pasar Pekan Heran
Belut itu ikan apa ular? Ya ikan lah... Memang banyak ikan yang serupa ular, di antaranya ikan tali-tali dan belut. Ikan tali-tali hidup di pasir di sungai besar. Semasa kecil, saya sering menemukan ikan tali-tali di tepian Kampar, tapi sangat susah ditangkap.

Sedangkan belut lebih senang hidup di lumpur dan rawa. Karena begitu banyak rawa dn Indragiri, maka belut pun sangat mudah ditemui di daerah ini.

Belut rawa atau sungai memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari belut sawah. Karena berukuran kecil, belut sawah biasa dikeringkan (disalai). Sedangkan belut rawa dan sungai berukuran besar dan berdaging tebal dan sangat manis.

Pedagang belut di Pekan Heran sudah ahli menyiang ikan ini, hanya dengan satu sayatan cutter di perut, kotoran belut langsung diangkat. Setelah itu, dagingnya yang tebal ditokok kuat-kuat hingga pipih.

Sebagian orang enggan makan belut, barangkali karena bentuknya yang seperti ular, atau karena darahnya yang mirip darah manusia.

 

Ikan-ikan di Pasar Pekan Heran, Indragiri Hulu (Bagian II)

Lihat lagi, ikan-ikan yang banyak dijual di Pasar Pekan Heran, Indragiri Hului (Bagian I).

Ikan motan
Seperti di Kampar, ikan motan juga banyak dijual di Indragiri. Ikan ini masih sebangsa dengan ikan pantau dan cepras (kapareh), namun memiliki sisik yang lebih halus dan berwarna perak berkilauan. Rasa dagingnya sangat manis dan lembut.

Dibanding cepras dan pantau, harganya relatif lebih mahal, tapi bila sudah musim, harganya pun bisa turun drastis. Ikan ini bisa dimasak dengan cara digoreng hingga garing dan bisa dimakan layaknya kerupuk.

ikan selais basah
Ini dia salah satu ikan paling populer di Riau, ikan selais (silai). Ikan ini menjadi simbol Riau, sebuah tugu permanen dibangun di Pekanbaru, tugu ikan selais, menandakan popularitas sang ikan.

Umumnya, ikan selais yang terkenal didatangkan dari wilayah muara Kampar, seperti Langgam, Pulau Muda dan sekitarnya. Di pasar, ikan selais banyak dijual dalam bentuk  kering yang sudah diasap  (salai / smoked fish), dan harganya selangit, rata-rata 200 ribu per kg. Karena itu, jarang menemukan ikan ini dijual dalam keadaan basah atau hidup.

Di Pasar Pekan Heran, ikan ini banyak dijual dalam keadaan basah bila sudah musim. Harganya pun terjangkau, hanya sekitar Rp. 15-30 ribu per kg. Saya pernah bertanya kepada pedagang di sini, mengapa tidak disalai saja seperti di Langgam agar nilai ekonomisnya lebih mahal? Mereka hanya menjawab: kami tidak punya pengalaman di bidang itu!

Ikan selais sekilas mirip dengan ikan Tapah, tapi warnanya lebih putih (transparan) dan lebih ramping. Umumnya, ikan selais dijual dalam ukuran kecil dan sedang, tapi saya pernah menemukan ikan selais ukuran besar yang dijual di Pekan Heran, dan ternyata daging ikan ini sangat rapuh dan mudah terurai.

Ikan ini tidak perlu disiang (tidak perlu dibersihkan isi perutnya) sebelum dimasak. Sebab, hampir tidak ada kotoran di dalam perut ikan ini. Ukuran peutnya sangat kcil dan isinya hanya berupa kantung putih yang berisi ususnya.

Di kota, ikan selais menjadi hidangan kaum berduit. Hanya restoran-restoran tertentu yang menyediakan hidangan ikan selais. Ikan ini biasa dimasak gulai camput pucuk ubi, atau digoreng garing seperti kerupuk.

ikan sengkat
Ikan sengkat, sebangsa dengan ikan sepat. Bedanya, ikan ini berukuran agak besar seperti Sepat Siam, dan memiliki tekstur daging yang lebih tebal.

Ikan ini dijual massif di Pekan Heran, hampir setiap waktu selalu ada. Di batang-batang air kecil yang mengalir, di rawa sekitar rumah, di bandar parit perkebunan kelapa sawit, ikan ini mudah ditemui. Bila hujan lebat melanda kampung, air sungai dan rawa naik, amat mudah mendapatkan ikan ini dengan tangguk.

Ikan sengkau dijual dalam keadaan basah, hidup maupun kering. Untuk ukuran besar, harganya cukup mahal, mencapai Rp. 40 ribu per kg. Seingat saya, masyarakat di sini lebih menyukai ikan ini dibanding nila (mujair). Sedangkan yang berukuran kecil biasa dikeringkan seperti ikan asin.

Selanjutnya: Ikan-ikan di Pasar Pekan Heran Bagian III

Wednesday, March 30, 2016

Ikan-Ikan di Pasar Pekan Heran, Indra Giri Hulu (Bagian I)

Karena terletak di tepi sungai Indragiri, tak heran begitu banyak ikan yang dijual di pasar Pekan Heran, Indragiri Hulu.

Para pedagang membawa ikan-ikan sungai yang segar ke pasar Ahad ini dari kampung sekitar, seperti Redang, Alang Kepayang, Sialang Dua Dahan, Kota Lama hingga Japura dan Air Molek.

Ikan belida dan barau
Ikan belida termasuk ikan yang sulit didapat di sungai, tapi hebatnya ikan ini dapat tumbuh hingga berukuran besar mencapai puluhan kilogram.

ikan beso atau geso
Ikan geso atau beso, masih satu keluarga dengan baung dan patin, tekstur dagingnya pun sama. Ikan ini juga  berukuran besar dan susah didapat, makanya harganya cukup mahal. Tahun 2010 saja, harganya berkisar Rp. 80 ribu per kilogram. Biasanya, ikan ini dimasak asam pedas!

ikan loreng
Ikan Loreng, kulitnya berlendir dan memiliki sengat/patil yang cukup membahayakan. Saya tidak ingat apa penyebutan masyarakat setempat tentang ikan ini. Sekilas, ikan ini masih sekeluarga dengan tilan.

Kulitnya yang berbelang dan tidak bersisik mengingatkan pada ikan cinciliong yang hidup endemik di Sunga Kampar. Bedanya, ikan cinciliong memliki muncung yang mirip muncung babi.

ikan pelumpung
Di samping ikan harwan (ruwan, bocek, rutiang) yang sangat banyak, ada pula ikan pelumpung. Ikan harwan dan pelumpung sebenarnya masih satu keluarga, namun ikan pelumpung memiliki daging yang lebih enak, karena itu harganya pun lebih mahal mencapai 3 kali lipat. Bila ikan harwan dijual Rp. 15 ribu per kg tahun 2010, maka ikan pelumpung biasa dijual seharga Rp. 45 ribu.

Ikan pelumpung umumnya dipancing di rawa-rawa atau anak-anak sungai, dan jarang hidup di sungai besar.

Lanjut: Ikan-ikan di Pasar Pekan Heran (Bagian II)

Tuesday, March 29, 2016

Arak-arakan Pawai Ta'aruf MTQ Kabupaten Kuantan Singingi di Inuman Tahun 2012

Musabaqah Tilawatil Qur'an Kabupaten Kuantan Singingi, tanggal 20 - 23 Juni 2012 di Kecamatan Inuman.


bersemangat menabuh kompang


mondek-mondek (ibu-ibu) menjunjung jambau

Thursday, March 24, 2016

Panorama Puncak Dari Wisma Tugu Depag Cisarua, Jawa Barat

Di ketinggian hampir 200m meter di atas permukaan laut, kawasan Puncak membentangka panorama indah dan memukau mata.
 
Hawanya yang segar dan sejuk selalu dirindukan oleh mereka yang gerah dengan panasnya Jakarta. Tak heran, jika ribuan orang dari ibu kota memadati kawasan ini setiap hari, terutama di akhir pekan.
 

Bagi yang berkunjung ke sini, Wisma Tugu milik Departemen Agama bisa dijadikan alternatif tempat bermalam. Dengan harga yang terjangkau, Wisma yang terletak di Jl. Raya Puncak KM. 83 Jawa Barat ini menyediakan tempat menginap yang bersih dan nyaman.
 
Wisma Tugu terdiri dari beberapa bangunan villa yang tersusun dari pinggir jalan dan berjejer hingga ke atas bukit. Dari bagian atas, panorama puncak terlihat jelas, seperti salah satu bidikan kamera hanphone saya di atas.


 
Nearby Spot:
Di seberang Wisma Tugu, terdapat sebuah restoran Arab bernama Royal Al-Jazeerah Restauran & Cafe. Menu nasi Kabsah di restauran ini sangat sedap, harganya pun cukup terjangkau. Bila hari sudah malam, irama musik berirama Timur Tengah dari restauran ini terdengar hingga ke Wisma Tugu.
 
Tak jauh dari Wisma Tugu, terdapat pula perkebunan teh yang juga menarik untuk dikunjungi.

Note: Foto diambil tahun 2015

Wednesday, March 23, 2016

Masjid Al-Mujahidin di Tiga Balata, Jorlang Hataran, Simalungun

Beberapa menit dari kota Pematang Siantar, ke arah Parapat dan Balige, kita akan bertemu masjid di kanan jalan raya yang sering menjadi tempat persinggahan para musafir ataupun wisatawan yang hendak melihat keindahan Danau Toba.

Singgahlah di masjid ini, masjid Al-Mujahidin. Terletak di Tiga Balata, Kecamatan Jorlang Hataran, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Masjid al-Mujahidin, di kanan jalan dari arah Pematang Siantar

Bagi yang hendak mendirikan sholat, beribadah di masjid ini sangat nyaman. Air wudhu yang bersih dan jernih tersedia di kamar mandi, sepertinya air pegunungan, sebab daerah ini memang berada di perbukitan yang subur.

Tidak ada bau pesing di kamar kecil maupun di tempat wudhu, seakan menunjukkan betapa masjid ini sangat dirawat dengan baik oleh pengurusnya.


Untuk sekedar beristirahat juga boleh. Udara pegunungan yang sejuk dan menyegarkan di daerah ini barangkali bisa menyegarkan pernafasan dan mengganti udara AC yang selama perjalanan anda hirup di dalam mobil, mudah-mudahan bisa me-refresh kembali tubuh yang letih.

Tapi jangan tidur di dalam masjid ya... :D


Di luar masjid, terdapat beberapa rumah makan muslim yang bisa menjadi alternatif bagi anda yang ingin santap siang.

Wednesday, March 16, 2016

[Resep]: Cara Membuat Makanan Mesir Tha'miyah / Falafel

Bagi pecinta kuliner Arab, makanan yang satu ini tentu tidak asing lagi: FALAFEL (فلافل). Makanan berbahan utama kacang Fuul Medammes (faba beans) ini memiliki beberapa sebutan. Kalau di Mesir dan Sudan, orang biasa menyebutnya 'Tha'miyah/Tho'miyah' (الطعمية). Istilah ini juga dikenal di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, Emirat, dan sekitarnya.

Sedangkan di istilah Falafel sendiri lebih populer di gunakan di kawasan Syam, yaitu di Suriah, Libanon, Yordania dan Palestina. Sementara di Yaman, makanan ini biasa disebut sebagai Bajiyah (الباجية أو الباقية).

Kata Falefel sendiri dalam bahasa Arab berarti: yang mengandung banyak Fuul. Makanan super lezat ini sangat populer di Mesir, karena itu tak heran ketika menyebut Tha'miyah, orang-orang akan langsung menyebutnya sebagai makanan rakyat (sya'bi) Mesir. Di seluruh penjuru Mesir, akan banyak dijumpai restoran dengan tulisan menjual Fuul wa Falafel (فول وفلافل), begitu juga para pedagang gerobak keliling kelas menengah ke bawah. Biasanya makanan ini disantap sebagai sarapan pagi, baik oleh kelas elit maupun rakyat jelata.

Tidak hanya di kawasan Arab, makanan ini bahkan juga populer hingga ke Turki dan Mediterani (seperti Yunani).

Konon, resep makanan ini sudah dikenal oleh orang orang-orang Mesir kuno sejak lebih dari 4000 tahun yang lalu. Orang-orang Koptik dipercaya telah mengenal makanan ini dan sering menjadikannya sebagai panganan berbuka puasa.

Namun pakar-pakar kuliner Israel juga menyebutkan bahwa falafel ini adalah makanan tradisional orang-orang Ibrani yang juga sudah dikenal sejak lama orang bangsa Yahudi.

Kalau di Indonesia, makanan ini barangkali ada dijual di restoran-restoran Arab di Jakarta sekitarnya.

Nah, beberapa hari yang lalu, saya mencoba bernostalgia dan memasak makanan ini di rumah bersama istri, tentunya dengan bahan yang seadanya. Dan ajiiiiib, ternyata rasanya tak jauh berbeda dengan tho'miyah yang dijual di restoran Al-Syubrawi di kawasan Hay Sabi', pinggiran Kairo!!! hehehe.

Berikut saya berbagai resepnya dengan anda:

Pertama sekali, yang harus ada tentu saja bahan utama, yaitu kacang Fuul Medammes (Faba Beans). Memang sangat sulit mendapatkan kacang ini di Indonesia. Barangkali ada yang menjualnya di toko-toko Arab di Bogor atau Jakarta, wallahu A'lam. Tapi saya pernah mencoba googling penjual faba bens di tanah Air, tapi  berhasil menemukan penjual. Yang ada hanya di situs Alibaba[dot]com, itupun dengan pembelian [impor] dalam jumlah besar. Namun saya jadi tahu, ternyata faba beans juga popluer di China, bahkan ternyata China juga sudah memproduksi kacang Fuul Medammes rebus merek 'Ma Ling' dan dikemas kalengan untuk diekspor ke kawasan Timur Tengah.

Lalu bagaimana cara mendapatkan kacang ini? Begini saja, kalau ada saudara atau rekan yang sedang Umroh, titip minta dibelikan kacang ini di Mekkah. Kacang kering fuul medammes ini bisa di beli di Supermarket Bin Dawood dalam bentuk kemasan 1/2 kiloan seharga 6 Riyal/bungkus. [Bin Dawood ada di bawah Zamzam Tower di Mekkah, dan ada juga di dekat Masjid Nabawi di Madinah].

Berikut bentuk kemasan yang saya beli:

kacang fuul medammes kering kemasan merek Taktat, seharga 6 SR / 0,5 kg
Baik, kalau kacangnya sudah ada. Sekarang ambil satu gelas besar (300 ml), lalu rendam dengan air selama lebih kurang 12 jam agar kacangnya menjadi lunak (menjadi seperti kecambah).

kacang fuul medammes kering direndam dalam air biasa selama 12 jam
Setelah perendaman 12 jam, maka kulit kacang akan mudah dibuang dan dipisahkan dengan isinya. Kalau sudah begitu, siap-siapkan bahan-bahan yang lain, yaitu:

- Bawang bombay ukuran sedang 1 buah (bisa diganti dengan bawang merah biasa sebanyak 7 biji)
- Bawang putih 5 siung.
- Daun persley/petersli satu ikat kecil. Daun ini biasa disebut oleh orang Arab sebagai Baqdunis (البقدونيس). Di daerah saya (Sumatera) agak susah mendapatkan daun ini. Sebenarnya, fungsi daun ini adalah untuk memberikan kesan hijau pada tha'miyah, jadi kalau tidak ada bisa diganti dengan daun seledri atau daun bawang / daun bawang prei. Jangan lupa diiris kecil-kecil.
- Ketumbar/sebaiknya yang sudah berbentuk bubuk. Sedikit saja, untuk menambah aroma.
- Baking soda (soda makanan/kue).
- Biji wijen (simsim)
- Garam, sesuai selera. Kalau saya pakai 1 sendok teh.
- Minyak goreng

Bahan tha'miyah: kacang fuul yang sudah di kupas, bawang putih, bawang bombay, daun bawang, persley, wijen, baking soda, dan ketumbar.
Baik, kalau sudah tersedia semua bahannya, sekarang waktunya mengadon. Pertama-tama, blender kacang fuul medammes. Agar lebih mudah, campurkan air sedikitr, dan blender sedikit-sedikit. Sambil terus diblender, campurkan bawang bombay dan bawang putih yang sudah di cacah, lalu campurkan pula daun bawang dan persley (seledri) hingga warna kacang yang putih berubah kehijauan. Lalu campurkan garam, ketumbar halus, garam dan baking soda. Lalu blender terus sampai semua tercampur rata seperti gambar di bawah ini:

semua bahan tha'miyah/falefel sudah tercampur rata setelah diblender
Nah, kalau sudah seperti gambar di atas, anda akan mulai ngiler... hehe.. Sekarang waktunya menggoreng. Jadi, segera saja panaskan minyak goreng di api sedang. Setelah benar-benar panas, langsung saja digoreng.

Ambil sedikit adonan tha'miyah dnegan sendok, atau bisa juga dibentuk bulat-bular seperti bakso, tapi jangan terlalu tebal, lalu taburkan biji wijen di atasnya.

taburkan sedikit biji wijen sebelum dicelupkan ke penggorengan
Lalu celupkan ke penggorengan (api sedang).

goreng falefel hingga berwarna kecokelatan
Jangan lupa dibalik agar matang merata. Dan setelah berwarna kecokelatan, angkat falafel dan tiriskan.

Tiriskan tha'miyah yang sudah matang
Awas, jangan ngiler liat gambar di atas. :D Sekarang waktunya menikmatan tha'miyah di rumah tanpa perlu jauh-jauh ke Nasr City.

Ohya, adonan tha'miyah juga bisa dilolah dengan variasi lain, misalnya seperti tha'miyah bil baydh (tha'miyah campur telur).  Caranya, adonan yang sudah ada diaduk dengan telur mentak, lalu digoreng. Seingat saya, d belakang masjid Al-Azhar, Kairo, tepatnya di kawasan Darbul Atrak, terdapat salah satu rumah makan kecil yang menyediakan falafel dengan campuran telur seperti ini.

tha'miyah bil baydh, adonan falafel yang dicampur telur
Tha'miyah bisa disantap begitu saja seperti pergedel atau bakwan. Tapi, umumnya tha'miyah  disajikan bersama fuul medammes rebus, yang disantap bersama roti, salathah (salad), ditambah minyak simsim atau minyak zaitun

falafel, fuul medammes rebus, salad, minyak zaitun
Selain itu, tha'miyah juga bisa dijadikan sebagai isi roti sandwich, dengan campuran fuuul rebus dan salah seperti di atas, ditambah sedikit thahinah, bisa juga ditambah terung goreng dan kentang goreng iris (syibsyi)

Salah satu sanwich tha'miyah paling enak di Kairo bisa dijumpai di kawasan Masakin Utsman, Nasr City, yaitu sandwich yang mereka beri nama sebagai Habasytakanat (الحبشتكنات), tepatnya di restoran Babay (باباي).

Hmmm... bicara urusan makanan dan perut memang tidak ada habisnya. Ya sudahlah, pokoknya makanan ini sangat bergizi tinggi. Konon kabarnya, Imam Syafi'i rahimahullah betah tinggal di Mesir karena beliau sangat menyukai fuul dan air tebu yang banyak tersedia di negeri itu.
بالهنا والشفا ...

Monday, March 14, 2016

Keindahan Negeri Singa dari Selat Singapura

Singapura waktu malam,
Lampu neon indah berkilauan
Gedong tinggi gemerlapan,
Sungguh megah tiada bandingan

Begitu senandung merdu keroncong yang dibawakan Saloma dalam film Labu Labi (1962) arahan Tan Sri P. Ramlee, liriknya melukiskan indahnya nuansa malam Singapura kala itu.

Tapi, Singapura ternyata tak hanya indah di waktu malam, di siang hari pun tak kurang eloknya. Bahkan untuk sekedar dilihat dari laut pun, negeri Singa ini tetap mempesona.

Karena saya bukan sastrawan, jadi saya tidak begitu pandai menggambarkan keindahan melalui susunan kata. Biarlah beberapa bidikan mata kamera handphone saya ini yang mewakilinya.


Cobalah perjalanan singkat dari Harbour Bay Batam ke Harbour Front Singapura untuk membuktikannya. Dalam perjalanan lebih kurang 45 menit ini, mata anda akan disuguhi eloknya pemandangan bahari menyusuri selat dan pantai Singapura melewati Pulau Sentosa.

Angkutan ferry cepat dari Harbour Bay ke Harbour Front tersedia hampir setiap jam, mulai jam 06 pagi hingga menjelang jam 10 malam. Untuk ongkos tidak begitu mahal, cukup membayar Rp. 380 ribuan untuk perjalanan pulang pergi.
Suasana di dalam Ferry Horizon 7
Ketersediaan sarana transportasi ini adalah jawaban dari ramainya lalu lintas manusia di kawasan Sijori (Singapura-Johor-Riau).

Untuk menikmati pemandangan bahari yang indah ini, hanya ada satu syarat: Jangan tidur di dalam kapal! :D.

Dari atas kapal Horizon 7, menyusuri pantai Singapura
Jangan lupa, siapkan segala kelengkapan imigrasi begitu masuk ke neger ini. Ingat, jaga ketertiban dan jangan jepret-jepret foto ketika check point di imigrasi. urusan bisa panjang! Hmm, negeri ini memang terkenal ketat menerima pendatang asing! Tapi jangan khawatir, ada anekdot yang bilang: masuk ke Singapura tak sesulit masuk ke Sumatera Utara! kok begitu? Yah, kalau masuk ke Singapura, kamu hanya kena check imigrasi 1 kali, tapi kalau masuk ke Sumatera Utara, kamu bisa kenal razia di jalan 5 hingga 7 kali ... :D, begitulah ....

Ohya, satu lagi: Kalau nggak mau dihukum gantung, jangan coba-coba bawa narkoba :D. hehe.


Pelabuhan Harbourfont, Singapore
Sembari menikmati cerahnya langit dari Selat Singapura, mari kita selesaikan alunan keroncong Saloma:

...
Sejak dulu 'dah tersurat,
Singapura tak kurang kisahnya,
Antaranya paling dahsyat
Ikan todak mlanggar Singapura

Zaman pun berubah sudah

Kini negeri makmur damai, permai...
Singapura makin indah
Rakyat hidup damai

Singapura maju jaya

Tetap dalam aman dan sentosa
Makin hari tambah kaya
Apabila di dalam Malaysia...

Friday, March 11, 2016

4 Tanda Seorang Hamba Dicintai Allah Swt Menurut Dzun Nun al-Mishri

Seseorang bertanya kepada Dzun Nun Al-Mishri:

"Bagaimana kita bisa tahu seseorang yang menjadi kekasih pilihan Allah Swt?".

Dzun Nun menjawab:

"Hal itu bisa diketahui melalui empat perkara:

Pertama, ketika ia meninggalkan sikap berleha-leha/santai di dunia ini [karena takut akan akhirat].

Kedua, ketika ia mensedekahkan hartanya yang sedikit.

Ketiga, ketika ia tidak peduli martabatnya dijatuhkan.

Keempat, ketika pujian dan penghinaan dipandangnya sama saja.

[Dari kitab Bustânul Arifîn, dikutip dari Majalah Ar-Risalah edisi September 2002]


Monday, March 7, 2016

Belum Ditemukan: Cara Menikmati Kemacetan Minas - Duri

Bagi yang sering berpergian melewati jalan lintas lintas timur Sumatera (jalinsum) dari Pekanbaru ke Medan, barangkali sudah tidak asing lagi dengan kemacetan sepanjang jalur Minas hingga ke Duri.

Ada banyak sebab kemacetan di sini: kecelakaan lalu lintas, truk pengankut kayu (logging) yang terbalik, dan yang paling klasik adalah perbaikan jalan (Alhamdulillah, sudah 70 tahun merdeka, di Sumatera ada jalan lintas, walau kalkulator tak sanggup menghitung jumlah lubang yang menganga di tengahnya... :D).

pembangunan jalan beton jalan lintas sumatera di wilayah Minas, Riau
Jadi, jika anda akan melewati jalur ini, bersiaplah mendermakan waktu anda lebih kurang 2 atau 3 jam untuk kemacetan. Di sini tidak berlaku pepatah 'waktu adalah uang'. Jika anda seorang pakar budget, waktu 2 jam harus anda anggarkan sebagai 'waktu tak terduga'.

Dan sayangnya, cara menikmati kemacetan di jalur ini belum ditemukan! Yah, minimal oleh saya sendiri. Tidak ada air terjun yang bisa dlihat, tidak ada rest area untuk melepas pegal di punggung. Di sini anda hanya bisa melihat pipa-pipa yang mengalirkan minyak bumi, di tambah hamparan perkebunan kelapa sawit sejauh mata memandang. Yah, lumayanlah untuk sekedar mengingatkan kalau negeri ini memang kaya, walau tak sebanding dengan bentuk jalan rayanya.

Bagi sebagian orang, kemacetan adalah ladang rizki. Misalnya bagi penjual makanan yang sudah standby sejak pagi menjajakan dagangan mereka ke pengguna jalan. Alhamdulillah,

pedagang makanan mengais rezeki di tengah kemacetan


kalau beruntung, anda bisa melewati kemacetan kurang dari 2 jam

butuh nyali tersendiri jika terjebak macet bersama pengangkut kayu ini.

Tuesday, March 1, 2016

Breaking News! Syaikh A'idh Al-Qarni Ditembak Saat Dakwah... ! Semoga Allah Swt Selalu Menyelamatkan dan Melindungi Beliau, Hafizhullah

Tersiar kabar duka beberapa menit yang lalu, ulama Islam terkemuka, Syaikh Aidh Al-Qarni hafizhahullah menjadi korban penembakan orang tak dikenal di Zamboanga City, Filipina.

Syaikh asal Arab Saudi yang terkenal dengan kitabnya LA TAHZAN tersebut tengah berada di Filipina dalam rangka dakwah.

Dikabarkan sebelumnya, penembakan brutal terjadi saat beliau tengah menyampaikan ceramah di hadapan puluhan ribua jama'ah. Namun konfirmasi terakhir menyebutkan bahwa syaikh al-Qarni ditembak saat masuk ke mobil dalam perjalanan pulang.

Dilaporkan juga sebelumnya bahwa 5 orang pendamping Syaikh Aidh Al-Qarni tewas dalam peristiwa teror tersebut. Namun update terakhir menyebutkan tidak ada korban jiwa, hanya pelaku yang tewas setelah ditembak mati pihak keamanan Filipina. Pihak kepolisian memastikan Syaikh Aidh Al-Qarni sendiri selamat, tapi beliau mengalami luka-luka di dan segera dilarikan ke rumah sakit.

Hingga kini, belum diketahui siapa pihak yang melakukan penembakan tersebut, dan belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Berikut beberapa foto Syaikh A'id al-Al-Qarni beberpa saat sebelum peristiwa penembakan, seperti dikutip dari portal ashams-news.com.




Dan inilah tweet terakhir Syaikh Aidh Al-Qarni dalam akun beliau (yang diikuti lebih dari 12 juta follwer) sebelum terjadi periswa percobaan pembunuhan terhadap dirinya:

لا تسل أحداً عن درجة إيمانه، سل نفسك عن محافظتك على الصلاة، وكثرة ذكر الله، ومصاحبتك للقرآن، وحفظ لسانك وسلامة قلبك
"Jangan tanya orang lain tentang kadar keimanannya, tapi tanyalah dirimu sendiri: sudahkah engkau menjaga sholatmu? Sebanyak apa zikirmu kepada Allah? Sebesar apa persahabatanmu denan Al-Qur'an? Sudahkah engkau menjaga lisan dan kesucian hatimu?"

tweet terakhir Syaikh Aidh al-Qarni sebelum peristiwa penembakan
Semoga Allah Swt senantiasa melindungi Syaikh Aidh al-Qarni dan ulama muslimin lainnya dari segala fitnah dan  marabahaya.  Amin ya Rabbal Alamin...

Mental Terung

Suatu ketika, Gubernur Al-Shihabi berkata kepada seorang pelayannya: "Hari ini, saya ingin sekali makan terong..." "Ah...