Tuesday, July 14, 2015

Syirik For Sale

ADA yang berbeda setiap kali negeri ini menyambut pergantian tahun baru. 

Perhitungan waktu di dunia ini seragam. Setiap detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun berjalan dalam kurun masa yang sama. Pergantian tahun baru diperingati orang di seluruh permukaan dunia. Yang berbeda adalah cara menyambutnya saja.

Di negeri ini, pergantian tahun baru ditandai dengan semaraknya tukang ramal dan paranormal yang berlagak seperti Tuhan yang mampu memprediksikan apa yang akan terjadi pada tahun mendatang.

Televisi dan media-media lainnya sibuk lintang-pukang mewawancarai Madam Anu dan Mbah Anu untuk menentukan nasib bangsa. Dengan sesumbar pula, merasa disanjung -sanjung, sang Madam dan Mbah dengan bayaran yang mahal tentunya- mulai berkoar menyatakan akan terjadi begini dan begitu pada bangsa ini.

Negeri para Dukun
Mengapa kita begitu percaya pada tukang ramal? Paranormal? Orang pintar? Agaknya, ungkapan orang-orang bahwa Indonesia adalah negeri para dukun memang benar! Tidak bisa dipungkiri, media massa menceritakan pada kita bagaimana tokoh-tokoh politik harus sowan dulu ke Mbah Anu untuk bisa menang dalam Pilkada.

Cerita mengenai artis Fulan yang rutin melawat Mbah ini itu untuk mendongkrak popularitas juga bukan isapan jempol. Lihat pula tayangan-tayangan sinetron dan perfilman di layar kaca kita; sepak terjang para dukun dan ‘orang pintar‘ menjadi hidangan mata anak-anak kita setiap harinya. Dari kecil, kepercayaan terhadap mistis sudah tertanam dalam alam bawah sadar kita.

Yang menarik di era modern ini adalah, para dukun dengan gaya baru telah berhasil membuat kelompok sosial tersendiri, yang mana dengan perdukunan ini mereka mengisi periuk nasi. Kalau dulu dukun diidentikkan dengan kampungan, pertapaan, kere, maka jangan berpikir begitu lagi sekarang.

Perdukunan yang menjual kesyirikan kini tampil dengan gaya yang modern. Para dukun sekarang berubah sosok menjadi selebritis kondang yang layak jual di televisi. Para dukun yang dulu hanya bersembunyi di pondokan, sekarang sudah bisa menjual diri melalui iklan-iklan dan media massa.

Dalam bisnis selular, sang dukun pun tak mau ketinggalan. Dengan pedenya, seorang dukun mengiklankan diri di televisi: “Saat membeli nomor HP anda, itu bukan kebetulan, tapi anda telah menentukan nasib Anda. Nah, dengan mengkombinasikan antara nomor HP dan nama Anda, saya bisa meramal masa depan anda... makanya, cepat ketik REG spasi Nama Anda dan kirim ke 90xx...” begitu bunyi sebuah iklan televisi.

Dan iklan serupa ada puluhan jumlahnya. Ada yang berkedok astrologi, religius dan segala macamnya. Hasilnya, miliaran rupiah berhasil diraup dukun-dukun elit tersebut. Penghasilan yang jauh melebihi seorang manager perusahaan, apatah lagi gaji guru yang letih mendidik anak bangsa siang malam.

Pandangan Islam
Dalam Islam, perdukunan (sihir dan tenung) adalah kesyirikan yang nyata. Perdukunan adalah salah satu dosa besar (kabair) yang takkan beroleh ampunan dari Allah SWT hingga pelakunya benar-benar meninggalkannya sama sekali. Dan mereka yang percaya dan mendengarkan apa yang dikatakan dukun, juga sudah terjerumus dalam kemusyrikan.

Dalam Alquran, Allah SWT tegas-tegas menyatakan: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS an-Nisaa [4]: 48).

Perkara-perkara yang ghaib hanya dapat diketahui oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman: Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah. (QS al-Naml [27]: 65).

Jangankan para dukun itu, bahkan Nabi Muhammad sendiri dinyatakan dengan tegas oleh Allah dalam Alquran bahwa Beliau tidak memiliki kemampuan dalam menilik yang ghaib itu. Allah SWT berfirman: Katakanlah wahai Muhammad: Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (QS Al-Araf [7]: 188).

Oleh karena itu, dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyatakan: Orang yang mendatangi tukang ramal (paranormal) kemudian ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka salatnya tidak diterima selama 40 malam. (HR Imam Muslim dan Imam Ahmad dari istri Nabi, Hafshah RA).

Dalam kesempatan lain, Nabi Muhammad SAW bersabda: Orang yang mendatangi dukun atau tukang ramal, kemudian membenarkan apa yang dikatakannya, maka orang tersebut telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad SAW. (HR Imam Ahmad dan al-Hakim dari Abu Hurairah).

Fatwa MUI
Pada tataran nasional, MUI sendiri dalam Musyawarah Nasional (Munas)-nya VII tanggal 28 Juli 2005 telah memfatwakan dengan tegas bahwa perdukunan dan peramalan dengan segala bentuknya adalah perbuatan haram yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Ketegasan tersebut tertuang dalam Fatwa MUI No 2/MUNASVII/MUI/6/2005. Maka aneh sekali, bila di negeri yang mayoritas muslim ini, perdukunan justru dilegalkan dan menjadi aset komersial yang menggiurkan. Kesyirikan sudah menjadi komoditi yang layak jual (syirik for sale).

Perdukunan identik dengan primitivisme. Orang-orang dulu yang meyakini dukun dan tenung karena pola pikir mereka yang sederhana yang masih mengagumi kekuatan alam sebagai sesuatu yang memiliki kuasa di dunia.

Akal mereka yang pendek tak mampu memikirkan fakta di balik fenomena alam mengakibatkan mereka hidup dalam paganitas. Ketika melihat petir menggelegar, akal mereka tak mampu mencerna fenomena petir itu, akhirnya mereka berfikir bahwa petir adalah teriakan sang dewa yang tengah marah.

Ketika melihat pohon kayu yang besar tak seukuran dengan kayu biasanya, mereka anggap itu titisan dewa yang mesti dipuja. Kemudian, muncullah tokoh-tokoh yang mengklaim sanggup menghubungkan mereka dengan dunia luar sana ataupun dewa. Itulah para dukun dan bomo.

Pemerintah juga harus segera turun tangan membasmi hal ini. Perdukunan yang meracuni masyarakat melalui sinetron-sinetron, SMS-SMS dukun, iklan-iklan ghaib di media (anehnya, di bawah iklan banyak tertulis: Izin Instansi x*** no xxxxxx) harus segera dihapus.

Bagaimana bisa institusi pemerintah melindungi praktik-praktik pembodohan masyarakat seperti ini? Kalau kita benar-benar ingin menjadi bangsa yang maju dan berbudaya, maka segala hal yang menjadi momok dan racun kemajuan harus segera diberantas. Kita tunggu, apakah pemerintah berani mengambil langkah yang tegas atau tidak.***

***
Artikel lama, pernah dimuat di Harian Riau Pos tanggal 29 Desember 2009

No comments:

Post a Comment

Komentar yang sopan ya... :D

Kisah Sang Imam 1001 Dalil

Suatu ketika, Imam al-Fakhrur Razi (w. 605 H) berjalan di kota Ray, dengan diiringi barisan muridnya yang begitu banyak. Tak lama, romb...