Wednesday, February 17, 2016

Masjid Raya Sultan Ahmad Syah, Tanjung Balai Asahan... Saksi Sejarah Tragedi Pembantaian di Sumatera Timur 1946

Masjid itu tidak begitu besar. Sebuah bangunan ibadah yang sudah tampak menua, bagian atapnya yang bertingkat sudah terlihat berubah corak warnanya karena karat, meski masih mampu melindungi bangunan suci itu dari terpaan panas dan hujan.

Sebuah menara pun menjulang di sebelah, tak jauh berbeda dengan desain menara masjid lainnya di wilayah Sumatera Timur. Sayang, kini menara itu kalah tinggi dengan bangunan-bangunan ruko, sarang walet dan rumah ibadah lain yang tegak menghadang tak jauh di sekelilingnya.

Masjid Raya Sultan Ahmad Syah, Tanjung Balai Asahan

Setiap kali datang ke Tanjung Balai, saya selalu menyempatkan singgah di tempat ini. Masjid Raya Sultan Ahmad Syah, masjid yang menyimpan rahasia sejarah panjang dari akhir kesultanan Melayu di Tanah Asahan. Sebuah sejarah kelam, yang bahkan untuk sekedar mendengar ceritanya saja sudah membuat bulu kuduk meremang.

Sore itu, seorang garin tua duduk bersama saya di teras masjid. Beberapa orangtua juga duduk-duduk di serambi itu, ada yang sekedar merokok dan ada pula yang membaca al-Qur'an. Beliau bercerita panjang lebar tentang kilasan sejarah penuh duka itu. Karena asyiknya mendengar alkisah yang disampaikan, sampai-sampai saya lupa bertanya siapa nama beliau! Suatu kesalahan besar!!!

Kami bercerita sambil berjalan, menyusuri sela-sela makam keluarga Kesultanan Asahan yang terdapat di sebelah barat masjid. Beliau masih mengingat dengan jelas para pembesar yang bersemayam di taman abadi itu. Umumnya, mereka adalah para Tengku dan kerabat diraja. Sebagian nama mereka masih terpahat jelas pada nisan pualam bertuliskan huruf Arab Melayu dengan khat yang cukup indah.

Makam keluarga kesultanan Asahan di sebelah Masjid Sultan Ahmad Syah
"Batu-batu pualam ini banyak yang didatangkan dari negeri seberang, Malaysia, sekarang sudah agak susah mendapatkannya". Cerita si garin tua. Kalau tidak salah, beliau menyebutkan nisan pualam itu didatangkan dari Pulau Pinang. Oh iya, sekedar diketahui, di Malaysia juga terdapat suatu daerah bernama Asahan, tepatnya berada di negara bagian Malaka sekarang ini. Entah ada hubungan atau tidak, tapi posisi dua Asahan ini sangat dekat, hanya terpisah oleh selat Malaka yang masyhur itu.

Meski telah berusia ratusan tahun, namun pahatan nama masih jelas terbaca. Seperti salah satu nisan di bawah ini yang bertuliskan: Tengku Muhammad Husain Syah, Sultan Asahan, Zhahirnya 3 Dzulhijjah 1278, Kembali ke Rahmatullah 25 Sya'ban sanah 1333. (Artinya beliau wafat sekitar tahun 1915 M). Beberapa nisan bahkan bertuliskan tahun yang lebih tua ratusan tahun dari itu.

Salah satu nisan makan di perkuburan keluarga Kesultanan Asahan
Di halaman sebelah timur, tepatnya di pinggir jalan tempat gerbang masuk dan keluar, terdapat sebuah taman kecil berpagar besi seukuran kira-kira 2 kali 3 meter. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah prasasti bertuliskan nama-nama. Sebuah nisan kecil diletakkan pula di sana sebagai sebuah penanda...

Ya, penanda di bawah taman itu terdapat kuburan masal tempat bersemayamnya 73 korban yang terbunuh dalam tragedi pembantaian mengerikan pada bulan Maret 1946, umumnya mereka juga adalah para Tengku, Raja, para bangsawan dan cerdik pandai kesultanan Asahan. Makam masal itu dibangun tahun 2003, setelah tulang belulang korban dikumpulkan dari tempat pembantaian di Sungai Lendir.

Makam para kerabat Kesultanan Asahan yang menjadi korban Tragedi Revolusi Sosial 1946 di Sumatera Timur
Syahdan, pada tahun 1946 pecahlah apa yang dinamakan Revolusi Sosial di Sumatera Timur. Sekelompok masyarakat bersenjata membantai keluarga Kesultanan Melayu di Asahan, Kualuh, Langkat, Bilah, dan Kotapinang. Pembantaian serupa juga terjadi di Karo serta Simalungun. Hanya Deli dan Serdang lah yang luput dari pembantaian itu, sebab pada waktu itu pasukan sekutu tengah berada di kota Medan.

Tragedi itu menandai berakhirnya Kesultanan-kesultanan Melayu di Sumatera Timur, setelah kawanan rakyat bersenjata melakukan genosida terhadap seluruh keluarga Sultan, merampas dan menjarah harta kesultanan, bahkan di Langkat, para kawanan itu memperkosa putri Sultan Mahmoed di depan ayahnya! Akhir dari tragedi ini menandai bermulanya era baru, yaitu penggabungan kesultanan-kesultanan di Sumatera di bawah Republik Indonesia di era tahun 1948-1949. (Beberapa kisah sejarah tentang tragedi ini bisa dibaca di situs Lentera Timur.)


Di areal dalam masjid, suasana amat tenang. Seorang pria paruh baya terlihat menyapu lantai masjid yang berdebu. Rambutnya yang panjang membuat ia mudah dikenali. Sekali dua kali ke sini, saya selalu melihatnya menyapu lantai masjid, semoga Allah Swt membalas amalnya dengan pahala tak terhingga.

Sebuah mimbar tua peninggalkan Sultan Asahan masih berdiri kokoh di sebelah mihrab. Panji hijau kembar terpancang kokoh di bagian belakang mimbar. Saya perhatikan di banyak masjid tua di Asahan, panji ini selalu ada.

Bagian dalam masjid Sultan Ahmad Syah Tanjungbalai Asahan
Di bagian depan mimbar, terpahat kaligrafi dengan gaya khat tsuluts yang amat indah. Kaligrafi ini bertuliskan dua bait syair yang berisi ajaran tentang rukun khutbah Jum'at dalam mazhab imam Syafi'i.



Dua bait syair itu kira-kira  bermakna:

Rukun khutbah Jum'at menurut imam-imam kita
Seluruh ada 5, ketahulah wahai sidang Jumat yang mulia
Yaitu membacan pujian, kemudian sholawat dan berwasiat takwa
Lalu membaca ayat, dan doa sebagai penutup khutbah kita

1 comment:

  1. gan aku mw nanyak ni
    kuburan dimesjid raya itu memang harus keturan dari raja raja duluya gan...

    ReplyDelete

Komentar yang sopan ya... :D

Lukisan dan Titik Merah

Setelah menyelesaikan sebuah lukisan, seorang seniman merasa sangat puas. Pikirnya, inilah lukisan terbaik yang pernah ia buat sepanjang ...