Monday, July 27, 2015

Ceritakan Padaku: Bagaimanakah Akhlak Abu Hanifah...?

Ibrahim bin Sa'id Al-Jauhari bercerita:

Suatu hari, aku tengah berada di dekat Amirul Mu'minin Harun Al-Rasyid, lalu kemudian datanglah Abu Yusuf, yaitu Ya'qub bin Ibrahim Al-Anshari, murid Imam Abu Hanifah r.a.

Seketika, bertanyalah Harun al-Rasyid kepada Abu Yusuf:
"Wahai Abu Yusuf,  coba engkau ceritakan padaku bagaimanakah akhlak Abu Hanifah r.a itu...!".
Abu Yusuf menjawab:
"Wahai Amirul Mu'minin, sesungguhnya Allah Swt telah berfirman: "Tidaklah suatu ucapan pun yang terlontar kecuali dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid". Ayat ini berkenaan dengan semua lisan manusia yang berbicara (maksudnya: ia memastikan dirinya tidak akan berdusta).
Wahai Amirul Mu'minin... Sepanjang yang aku ketahui tentang Abu Hanifah, sesungguhnya beliau adalah orang yang amat jauh dari apa yang diharamkan Allah. Beliau amat wara' dan tidak ingin mengatakan sesuatu apapun tentang agama Allah yang tidak beliau ketahui. Beliau ingin Allah Swt ditaati dan tidak dimaksiati.
Beliau adalah orang yang selalu menghindari para pecinta dunia di zamannya, beliau tidak ingin bersaing dengan mereka dalam urusan duniawi.
Beliau seorang yang pendiam, selalu berfikir, banyak beramal. Beliau tidak ingin bicara yang tidak penting. Dan jika beliau ditanya tentang sesuatu, jika beliau tahu jawabannya maka beliau akan jawab berdasar riwayat yang pernah beliau dengar, dan jika beliau tidak tahu, maka beliau akan menganalogikan (beqiyas) secara benar demi menjaga diri dan agamanya.
Beliau amat pemurah dalam ilmu dan harta. Berdikari dan tidak tergantung kepada orang lain, Beliau seorang yang tidak tamak, jauh dari perbuatan ghibah (menggunjing), tidak pernah menyebut tentang orang lain kecuali yang baik-baik".
Mendengar hal tersebut, Harun al-Rasyid berkata:

"Inilah aklhak orang-orang sholeh...".

Kemudian Harun Al-Rasyid memerintahkan kepada sekretarisnya:

"Tulislah sifat-sifat ini, lalu berikan kepada putraku agar ia teladani".

Dan setelah ditulis, Harun al-Rasyid pergi menemui putranya dan berkata:

"Wahai putraku, pelajari dan amalkanlah sifat-sifat ini, sebab Insya Allah nanti aku akan tanya engkau tentang semua itu".


[petikan dari kitab: Al-Ulama' wa Ilm La Adri, karangan Abdurrahman Yusuf Al-Farhan, cet. Darul Basya'ir al-Islamiyyah, halaman: 171]

Sedikit catatan: kitab Al-Ulama' wa Ilm La Adri merupakan suatu kitab yang unik yang membahas tentang jawaban 'La Adri' (aku tidak tahu) sebagai suatu ilmu.

La Adri kerap diucapkan oleh para ulama ketika mereka ditanya tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui jawabannya. Hal ini menggambarkan bahwa para ulama tersebut merupakan sosok-sosok yang tidak mau berdusta dan amat takut kepada Allah Swt sehingga mereka tidak ingin 'sok tahu'. Mereka tidak peduli dikatakan 'bodoh' oleh yang bertanya. Selengkapnya tentang hal ini akan kita ulas di kesempatan lain Insya Allah. 

No comments:

Post a Comment

Komentar yang sopan ya... :D

Kisah Sang Imam 1001 Dalil

Suatu ketika, Imam al-Fakhrur Razi (w. 605 H) berjalan di kota Ray, dengan diiringi barisan muridnya yang begitu banyak. Tak lama, romb...