Tuesday, August 4, 2015

Bid'ah-bid'ah Itu Kita Lemparkan Ke Selat Malaka!

Pada tanggal 16 Oktober 1932, Persyarikatan Muhammadiyah cabang Sumatera Timur mengadakan diskusi publik (openbare vergadering) bertempat di Bioskop Hok Hoa yang sekarang berlokasi di Jl. MT. Haryono Medan).

Diskusi publik ini bertujuan untuk menjawab persepsi keliru masyarakat tentang kehadiran Muhammadiyah yang telah berdiri sekitar 20 tahun.

Acara diskusi tersebut diliput dalam surat kabar Berita Andalas edisi 17 Oktober 1932. HR. Moehammad Said selaku pimpinan Muhammadiyah Sumatera Timur kala itu  dalam pembukaannya menjelaskan beberapa kasus pelanggaran akidah yang sering terjadi di masyarakat pada masa itu, seperti kedudukan wanita muslimah yang bekerja sebagai babu sekaligus pelacur di hotel-hotel di kota Medan, tradisi memuliakan bulan Safar dengan memotong kambing dan kerbau, memberi sesajian pada meriam puntung milik Kesultanan Deli, serta meminta jimat kepada alim ulama. 

Baiklah kita kutip pemberitaan Pelita Andalas tanggal 17 Oktober 1932 tersebut (disesuaikan dengan ejaan EYD);


Openbare Vergadering Muhammadiyah Cabang Medan 
Dengan bertempat di Hok Hoa Bioskop, pada hari Minggu pagi sudah dilangsungkan openbare vergadering di atas dengan mendapat perhatian cukup. Beberapa orang wakil perkumpulan turut hadir begitu juga dari pers, politie lengkap. 
Kira-kira jam 9 liwat sedikit, Voirzitter Tuan Abdoel Malik membuka rapat dengan mengucapkan terima kasih kepada publik yang berhadir. Begitu juga diucapkan pada perkumpulan-perkumpulan, kepada pers yang akan menyiarkan itu dengan tidak menambah-nambah. Lagi spekker ucapkan terima kasihnya pada wakil pemerintah. 
Saudara-saudara, sebabnya Muhammadiyah mengundang vergadering hari ini, karena kabar-kabar di peluaran yang mengatakan bahwa Muhammadiyah berjalan salah, yang sekali-kali tidak benar. Muhammadiyah mengembangkan actienya ialah sebagai ijaran Nabi Muhammad Saw...
...
Nabi Muhammad sudah menentukan bahwa sembahyang itu wajib. Tapi setengah orang ditinggalkannya dan digantinya dengan beras. Lagi satu perkara jijik, di mana guru-guru Islam alias alim dan ulama, kalau didatangi nyai yang memintakan azimat supaya temannya, faitor kaum Majusi, lantas oleh sang guru  diberikan saja. Ini pekerjaan terkutuk, kata speeker.
 
Inilah maksud Muhammadiyah akan melemparkan bid'ah-bid'ah yang akan merugikan bangsa kita, Bid'ah-bid'ah itu kita lemparkan ke Selat Malaka!
Pembicara kemudian menyudahi pidatonya dengan mengucap Assalamu alaikum.

[Dikutip dari Harian Waspada edisi hari Senin, 3 Agustus 2015]


No comments:

Post a Comment

Komentar yang sopan ya... :D

Kisah Sang Imam 1001 Dalil

Suatu ketika, Imam al-Fakhrur Razi (w. 605 H) berjalan di kota Ray, dengan diiringi barisan muridnya yang begitu banyak. Tak lama, romb...