Monday, February 8, 2016

Amal dan Riyal, di Antara Debu-Debu Tanah Suci

Hari masih sangat pagi saat deru bus-bus putih hijau pengangkut pekerja konstruksi memasuki pinggiran Masjidil Haram di dekat kawasan Syi'b Amir. Seakan tak mempedulikan hilir mudik jamaah umrah dan ziarah, bus-bus tersebut tetap melaju kencang menerobos dinginnya cuaca yang menusuk tulang.

 
Dengan langkah sigap, puluhan hingga ratusan pria muda berjalan cepat menuju lokasi proyek perluasan Masjidil Haram. Sesekali, langkah mereka mengejutkan kawanan merpati yang tengah menikmati makanan, lantas terbang berhamburan.

Debu-debu beterbangan dari galian eskavator dan alat berat yang bekerja siang malam. Dari kejauhan, terlihat crane-crane yang menggantung tinggi menjulang mengingatkan saya pada tragedi berdarah yang menimpa Jamaah haji tahun 2015 yang lalu. Semoga Allah Swt mengampuni mereka yang syahid saat itu.

 
Dengan dana tak kurang dari Rp. 91 Triliun, Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz menjalankan proyek Ambisius memperluas Masjidil Haram hingga ditargetkan mencapai luas 400.000 meter persegi. Dimulai sejak tanggal 26 Agustus 2011 dan diperkirakan tuntas hingga tahun 2020, saat itu Masjid Suci akan mampu menampung hingga 1,2 juta jemaah dalam satu waktu!

Menjelang siang, para pekerja beristirahat, tentu saja bukan di dalam masjid, tapi di pelataran luar atau di kamar kecil (karena suhu di dalam cukup hangat). Ada yang menikmati makan siang, dan ada  yang sekedar tidur-tiduran. Saya mencoba mengintip menu santap siang itu, sebungkus makanan kotak berisi nasi kabsah atau briyani, beberapa potongan daging berukuran besar, sayur yang dimasak dengan minyak samin, plus buah dan minuman kotak! Hmmm... sangat bernutrisi!

Hari itu, di akhir bulan Januari 2016, selesai sholat zuhur, saya sempat mengobrol dengan salah seorang pekerja asal Indonesia yang kebetulan kami sholat berdekatan. Namanya Yono, beliau mengaku berasal dari Jawa Barat.

Cerita Mas Yono, ada sekitar 5000 atau lebih pekerja Indonesia yang bekerja di proyek perluasan Masjidil Haram ini. Mereka membaur dengan pekerja-pekerja dari Mesir, India, Pakistan, Bangladesh dan lain-lain. Karena perbedaan latar negara ini, tak jarang terjadi juga clash di antara para pekerja.

"Saya sudah 2 tahun tidak pernah pulang". Ujar Mas Yono. Katanya, beliau sangat menikmati suasana kota ini, terutama dengan dengan Ka'bah yang dirindukan setiap muslim. Tapi tetap saja, kerinduan akan keluarga di kampung halaman selalu membuncah di dada.

Saya coba korek soal gaji. "Ya, rata-rata gaji buruh pekerja di proyek ini sekitar 2000-an riyal sebulan". Ungkap Mas Yono. Jika dikonversi, berarti mereka dibayar Rp. 7,6 juta atau lebih sebulan dengan harga Riyal saat ini. Itu gaji bersih, sedang makan dan pemondokan telah disediakan.

"Tapi, ikut berpartisipasi membangun rumah Allah Swt adalah motivasi terbesar dan kebabanggaan tiada tara, bukan begitu Mas?". Saya mencoba menimpali.

"Ya, memang begitu". Jawabnya. Jadi, bukan hanya Riyal, tapi Amal, yang membuat mereka berpeluh keringat sabat hari, setidaknya buat Mas Yono yang mengaku setiap hari memukul-mukul besi, tentu saja sangat membutuhkan tenaga ekstra.


Obrolah kami berakhir saat selesai sholat Jenazah siang itu. "Terima kasih Mas sudah berbagi cerita. Semoga Allah Swt membalas segala amal dengan pahala dan kebaikan yang tak terhingga". Bayangkan saja, keikhlasan itu nantinya akan dinikmati 12 - 17 juta jamaah Umroh yang mendatangi Masjidil Haram setiap tahunnya!!! Bukankah itu amal yang sangat luar biasa?

istirahat siang
 
Para pekerja beristirahat di dalam areal toilet
alat-alat yang tak berhenti bekerja siang malam
 

No comments:

Post a Comment

Komentar yang sopan ya... :D

Lukisan dan Titik Merah

Setelah menyelesaikan sebuah lukisan, seorang seniman merasa sangat puas. Pikirnya, inilah lukisan terbaik yang pernah ia buat sepanjang ...