Wednesday, May 11, 2016

Jernihnya Danau Laut Tawar, Keindahan Surgawi Yang Tersembunyi di Tanah Gayo

Perjalanan kurang lebih 5 jam dari Bireun menuju Takengon menempuhi jalanan terjal yang lumayan sempit. Tidak perlu menyalakan AC kendaraan di sini, udara pegunungan yang segar dan sejuk rasanya lebih bermanfaat merefresh oksigen di dalam tubuh.

Tapi percayalah, letih akibat jauhnya perjalanan akan sirna seketika anda tiba di perbatasan kota kebanggaan masyarakat Gayo ini. Takengon!

Saya mendengar nama Gayo pertama kali ketika membaca buku RPUL (Rangkuman Pengatahun Umum Lengkap) semasa duduk di bangku SD. Nama penulisnya, Iwan Gayo, barangkali berasal dari daerah ini. Hmmm... cerita tentang kota ini Insya Allah saya tulis di kali yang lain saja.

Syahdan, penurunan menjelang masuk ke kota Takengon, tampaklah bentangan indah maha karya Ilahi, sebuah danau alam dengan gugusan bukit barisan yang mengelilinginya, itulah Danau Laut Tawar!

Danau Laut Tawar di Tanah Gayo, Aceh
Tanya punya tanya, mengapa danau ini disebut Laut Tawar? Apa karena airnya yang tawar? Barangkali begitu.

Dari kampung Paya Tumpi Baru, sepertinya di sinilah perbatasan antara Takengon dengan Redelong. Tempat yang pas untuk melepas lelah memanjakan mata melihat panorama danau Laut Tawar dari kejauhan.

Kalau dikelilingi, katanya hanya butuh waktu 2 jam saja untuk mengitari danai seluas 5472 hektar ini. Suasana sekeliling danau menunjukkan kalau tasik yang satu ini belum banyak tersentuh jamahan tangan manusia.

Danau laut tawar terlihat dari Kampung Paya Tumpi Baru
Perkebunan kopi di sekeliling danau seakan menegaskan betapa berdaulatnya qahwa di daerah ini. Katanya, belum bisa disebut 'sampai ke Gayo' jika belum menikmati kopi Gayo!

Melihat danau lebih dekat, singgahlah di salah satu pinggiran danau: Pante Gemasih, kira-kira 30 menit perjalanan dari kota Takengon.

Pante Gemasih, Danau Laut Tawar
Di pante Gemasih, nyatalah betapa jernihnya air danau ini, seakan bisa diminum langsung. Bebatuan kerikil di bagian tepi tampak jelas bagai terlihat di bawah kaca. Nyaris tidak ada sampah, karena memang belum banyak manusia menyalurkan bakat kejahilannya di sini.

Jernihnya danau Laut Tawar di Takengon
Tak berani minum? Ya berenang sajalah... Tidak usah terlalu dipikirkan misteri Lembide, makhluk halus yang konon katanya menunggui danau ini dan suka menghisap darah manusia yang berenang di danau ini. Asal tidak berenang terlalu jauh ke tengah, Insya Allah masih aman.

Berenang 2 jam di tempat ini rasanya belum puas, apalagi kalau diselingi semangkuk mie rebus yang masih panas! Udara yang dingin membuat kita malas keluar dari air, sebab suhu udara di air lebih hangat dan nyaman.

Tidak pandai berenang? Ya sudah, foto-foto sajalah,.. dan itulah serugi-ruginya traveler! :D

No comments:

Post a Comment

Komentar yang sopan ya... :D

Kisah Sang Imam 1001 Dalil

Suatu ketika, Imam al-Fakhrur Razi (w. 605 H) berjalan di kota Ray, dengan diiringi barisan muridnya yang begitu banyak. Tak lama, romb...