Tuesday, November 15, 2016

Walau Tersarung, Pedang Matamu Tetap Melukai...

Syahdan, adalah Idris Al-Jamaa' (1922-1980), seorang pujangga dan penyair Sudan, di hari-hari terakhir dalam hidupnya menderita gangguan mental hingga akhirnya ia harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Tapi rupanya, fasilitas di rumah sakit Sudan dirasa kurang memadai, sehingga keluarga memutuskan untuk membawanya berobat ke luar negeri.

Singkat cerita, keberangkatan Idris pun disiapkan.

Di bandara, Idris sang pujangga melihat seorang wanita cantik bersama suaminya. Dengan tatapan yang dalam, ia melayangkan pandangan ke arah wanita tersebut. Melihat hal itu, suami wanita tersebut terlihat risih dan berusaha menghalangi tatapan sang pujangga.

Melihat tingkah suami wanita tersebut, Idris pun mengatakan:

أعَلى ﺍﻟﺠﻤﺎﻝ ﺗﻐﺎﺭُ ﻣِﻨّﺎ   *** ﻣﺎﺫﺍ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺇﺫْ ﻧﻈﺮﻧﺎ
ﻫﻲَ ﻧﻈﺮﺓٌ ﺗُﻨﺴِﻲ ﺍﻟﻮَﻗﺎﺭَ   ***   ﻭﺗُﺴﻌِﺪ ﺍﻟﺮّﻭﺡَ ﺍﻟﻤُﻌنَّى
ﺩﻧﻴﺎﻱ ﺃﻧتِ ﻭﻓﺮﺣﺘﻲ  ***  ﻭﻣُنَى ﺍﻟﻔﺆﺍﺩِ ﺇﺫﺍ ﺗَﻤنَّى
ﺃﻧتِ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀُ ﺑَﺪَﺕ ﻟﻨﺎ   ***   ﻭاﺳﺘﻌﺼﻤﺖ ﺑﺎﻟﺒُﻌﺪِ ﻋنَّا

Duhai, apakah ada cemburu karena keindahan
Apa salahnya jika hanya sekedar tatapan
Selayang pandang menaruhkan wibawa
Tapi cukup membuat hati bahagia
Keindahan, engkaulah duniaku dan sukacitaku
Engkaulah obat penawar kalbu
Engkaulah langit yang pancarkan keindahan
Tapi engkau jauhkan diri dari jangkauan

Orang-orang di bandara begitu kagum atas untaian syair yang spontan itu, gubahan itu tersebar begitu cepat.

Hingga kemudian sampai ke telinga Abbas Mahmud al-'Aqqad, sang pujangga Mesir kenamaan.

Abbas bertanya kepada kawan-kawannya:

"Siapa yang menggubah syair seperti itu?".

Rekan-rekannya menjawab:

"Idris al-Jamma', pujangga dari Sudan. Saat ini ia sedang sakit jiwa dan dirawat di rumah sakit".

Mendengar itu, 'Abbas al-'Aqqad berkomentar:

"Wajarlah seindah itu... kata-kata seperti itu tak mungkin mampu digubah oleh orang yang waras...!!!".

***

Idris pun dibawa ke London untuk berobat. Di rumah sakit London, ia dirawat oleh seorang suster.

Lagi-lagi Idris berulah. Ia begitu kagum dengan keindahan mata sang perawat, ia terus memandang sehingga wanita itu menjadi kikuk. Perawat itu pun mengadu ke kepala rumah sakit.

Sang kepala rumah sakit menyarankan agar si perawan memakai kacamata hitam agar pasien tidak bisa menatap matanya.

Saran pun diikuti. Keesokan hari, sang perawat datang dengan kaca mata hitam. Melihat itu, Idris mengatakan:

وﺍﻟﺴﻴﻒ ﻓﻲ الغمدِ ﻻ ﺗُﺨشَى مضاربُه *** ﻭ ﺳﻴﻒُ ﻋﻴﻨﻴﻚِ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺎﻟﻴﻦ ﺑﺘّﺎﺭُ

Jika pedang yang tersarung, siapa takut akan hunusnya
Tapi pedang matamu, tertutup atau tidak, sama melukainya

Karena tidak faham bahasa Arab, sang perawat bertanya kepada keluarga pasien dan ia pun diberitahu terjemahan syair tersebut. 

Ketika ia diberitahu makna rangkaian syair tersebut, sang perawat itu pun menitikkan air mata penuh kekaguman.

Hingga hari ini, syair-syair Idris dinobatkan sebagai salah satu ghazal (syair cinta) terindah di era modern. 

Selain ghazal, syair Idris juga dikenal Ia lah yang terkenal dengan corak melankolis yang menyayat perasaan. Ia lah yang terkenal dengan gubahannya:

إن حظي كدٓقيقٍ فوقٓ شوكٍ نثروه  ***   ثم قالوا لِحُفاةٍ يومَ ريحٍ اجمعوه
عَظِم الأمرُ عليهم ثم قالوا اتركوه   ***   أن من أشقاهُ ربي كيف أنتم تُسعدوه
Nasibku bagaikan tepung, yang mereka tebar di atas duri
Lalu mereka berujar kepada si miskin papa: kumpulkannya gandum yang berserakan di tengah duri itu.
Mereka tak kuasa, lalu berkata: ya sudah, biarkan saja. 
Orang yang ditakdirkan sengsara, bagaimana ia bisa dibuat bahagia?

No comments:

Post a Comment

Komentar yang sopan ya... :D

Mental Terung

Suatu ketika, Gubernur Al-Shihabi berkata kepada seorang pelayannya: "Hari ini, saya ingin sekali makan terong..." "Ah...