Thursday, August 13, 2015

Ketika Machiavelli Berbicara Tentang Takdir...


Membahas tentang filsafat kekuasaan, terkenanglah kita akan suatu nama, Nicollo Machiavelli! Nama yang menakutkan bagi sebagian orang!

Betapa 'suram' namanya diidentikkan orang dengan pencetus kotornya dunia politik yang menghalalkan secara cara untuk meraih tujuan dan kekuasaan. Maka kemudian lahirlah istilah Makiavelis!

Karenanya, Leo Strauss (1957) menyatakan bahwa Machiavelli adalah pengajar kejahatan atau paling tidak mengajarkan immoralism dan amoralism. Ajaran Machiavelli menghindar dari nilai keadilan, kasih sayang, kearifan, serta cinta, dan lebih cenderung mengajarkan kekejaman, kekerasan, ketakutan, dan penindasan.


Tapi bagi sebagian orang, Machiavelli amat manusiawi, ia mewakili keinginan sebagian besar manusia! Siapa yang tak ingin kekuasaan? Siapa yang tak ingin jabatan? Siapa yang tak ingin dimuliakan? Untuk semua itu, orang rela melakukan apa saja! Ajaran dan doktrin agama tentang kerendahan hati, kesederhanaan, kesabaran, qana'ah, dirasa bukan sesuatu yang logis!

Dari sini pula lahir pandangan lain tentang Machiavelli. Benedetto Croce (1925) misalnya melihat Machiavelli sekadar seorang realis atau pragmatis yang melihat tidak digunakannya etika dalam politik. Bahkan Ernst Cassirer (1946) lebih toleran dan memahami bahwasanya pemikiran Machiavelli merupakan sesuatu yang ilmiah dan cara berpikir seorang scientist. Machiavelli dengan nalarnya dapat digelar sebagai “Galileo of politics” dalam membedakan antara fakta politik dan nilai moral (between the facts of political life and the values of moral judgment).

Terlepas dari pandangan-pandangan tersebut, membaca buah tangan Machiavelli tentu bukan sebuah dosa. Salah satu masterpiecenya yang populer adalah Il Principe (The Prince, atau dalam bahasa Indonesia telah diterjemahkan sebagai Sang Pangeran). Dalam buku ini, Machiavelli menguraikan tindakan yang bisa atau perlu dilakukan seorang seseorang untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan.

Saya di sini tidak dalam rangka mensinopsis buku tersebut, hanya mengambil suatu sisi pemikiran sang Pangeran tentang suatu persoalan penting: Takdir!

Melihat cara Machiavelli mengkritik takdir, cukup menarik. Machiavelli berpandangan bahwa manusia yang membiarkan peluang dan kesempatan yang mengatur dirinya adalah manusia yang tidak logis!

Dalam suatu petikannya, ia menulis:

Masih belum jelas bagi saya, betapa begitu banyak orang yang telah memiliki, dan masih terus memilikinya, pendapat bahwa urusan dunia telah diatur dengan begitu rapihnya oleh takdir dan oleh Tuhan, bahwa manusia bahkan dengan kebijaksanaannya sekalipun tak bisa mengarahkannya, dan bahwa tak seorang pun bahkan bisa membantunya.  
Dan karena itulah, mereka membuat kita percaya kalau tak penting bagi kita untuk bekerja keras mengurusi segala urusan kita, tetapi membiarkan peluang yang mengaturnya.


Bahkan, Machiavelli menegaskan bahwa takdir adalah sesuatu yang 'bisa dilawan': dilawan dengan keberanian dan persiapan diri untuk menolaknya!

Ia mengibaratkan takdir sebagai sebuah ari bah besar. Ketika air bah ini datang menghantam daratan dengan orang-orangnya yang tidak siap, ia akan menunjukkan kekuasaannya, menghancurkan mereka, menghabisi nyawa mereka, meratakan bangunan mereka dengan serata tanah.  Namun ketika air bah ini ditantang dengan persiapan, kanal-kanal yang bagus, kekuatan bah ini tak akan sebesar itu!

Simaklah apa yang ditulisnya:


Benarkah Machiavelli? Saya rasa itu bukan pertanyaan penting, tapi yang lebih urgen: seberapa hebat kah manusia mampu melawan takdir?

No comments:

Post a Comment

Komentar yang sopan ya... :D

Kisah Sang Imam 1001 Dalil

Suatu ketika, Imam al-Fakhrur Razi (w. 605 H) berjalan di kota Ray, dengan diiringi barisan muridnya yang begitu banyak. Tak lama, romb...